Calvin sudah beberapa hari ini pulang telat terus. Tidak tahu ke mana, tetapi biasanya pria itu selalu pulang sebelum makan malam. Jovanka menunggu di ruang tamu, sampai sang mertua melihat menantunya duduk di sana. “Kenapa si Jovanka? Cemas sekali sepertinya,” bisiknya sendiri sembari menatap wajahnya. Thalia berjalan mendekatinya. “Kau kenapa di sini?” “Aku menunggu Calvin.” “Haha, suamimu mungkin tidak lagi betah di rumah karena tahu kalau kau tidak menyukainya.” “Kenapa mama bicara seperti itu?” “Memangnya salah? Benar kan? Aku itu sudah tahu kalau sejak kau pertama menikah dengannya, tak sedetik pun kau menganggap Calvin itu suamimu.” Jovanka seperti diserang petir. Ucapan mertuanya memang benar. “Tapi, Ma. Aku tidak bermaksud seperti itu.” “Halah, kemarin kau malah berakting

