Bab 19 - Dipertemukan Dengan Psikiater

1409 Kata
“Selamat datang, Nyonya Calvin!” sapanya. Ayana tersenyum, menduga bahwa wanita ini sudah mengenal Jovanka karena dirinya adalah teman dari Calvin. “Terima kasih,” sahutnya kemudian melangkah masuk. Ayana tidak melihat Freed ikut masuk, “Kau tidak ikut?” “Tidak, Nyonya, saya akan menunggu di mobil saja.” “Oke.” Ayana tersenyum dan Clarasita menutup pintunya. “Perkenalkan nama saya Clarasita, saya temannya Calvin. Kita pernah bertemu dua tahun lalu, apa Anda mengingatnya?” tanya wanita itu. Ayana tersenyum menyeringai bingung, menggeleng pelan padanya. “Tidak masalah, silakan ikut saya.” Ayana mengangguk dan segera melangkah bersama dengan Clarasita ke ruangan yang ada di lantai dua. Ketika Clarasita membuka pintu ruangan, Ayana langsung melihat suami Jovanka ada di dalam. Tampaknya dia sudah lebih dulu datang dan berbicara pada wanita ini. Ayana menunduk, dipersilakan duduk di kursi yang telah disediakan. Tanpa tegur sapa, Clarasita menatap mereka dengan kaku. Mencium gelagat buruk dari sebuah hubungan pernikahan. “Nyonya Jovanka, apa suami anda sudah menjelaskan tujuan anda diundang ke sini?” tanya Clarasita. “Tidak, saya tidak tahu.” “Mmh, jadi mungkin saya yang akan menjelaskannya.” “Kenapa bukan suami saya saja?” tanya Ayana. Calvin menyipit dan menghembus tawa ringan. Clarasita menatap ke arah temannya. Memang harusnya seperti itu, dia merasa kalau Calvin juga butuh asupan darinya agar hubungan mereka kembali rukun. “Calvin, aku beri kau waktu untuk bicara pada istrimu.” Clarasita meninggalkan mereka. Ayana mengikuti langkah wanita itu keluar dari ruangan kemudian menggigit kedua bibirnya. “Suami? Sudah kubilang kalau kau sudah kehilangan suami. Kenapa kau masih menyebutku suami saat aku sudah merasa kehilangan seorang istri?” tanyanya tetap menekan Ayana. “Calvin, aku tahu ini semua tidak masuk akal dan mungkin wanita ini juga tidak akan paham dengan posisiku. Kenapa kau bawa aku ke psikolog?” “Dari mana kau tau dia psikolog?” “Rosita.” Calvin memalingkan wajahnya. Setidaknya Rosita sudah memberinya sinyal bahwa dirinya ingin menyelesaikan permasalahan yang ada di kepala istrinya saat ini. “Niatku bagus, membuatmu sadar bahwa kau punya suami dan kau adalah Jovanka,” ucapnya dengan serius, menatap ke arah Ayana. Wanita itu tersenyum sedih, mengikuti permintaannya karena tidak mau Calvin terlalu lama merasa sedih karena sikapnya yang selalu mengatakan kebenaran bahwa dirinya adalah Ayana. Calvin menghampirinya sebelum meninggalkan ruangan. “Rahasia akan aman bersamanya, katakan apa pun yang mau kau katakan. Bilang semua yang tak bisa kau bilang padaku,” pintanya. “Baiklah!” Calvin beranjak dari ruangan dan menghampiri Clarasita yang sedang berdiri di luar. Wanita itu minta izin untuk memproses istrinya. Ayana garuk-garuk kening ketika psikolog itu datang kembali dengan senyuman. Ayana membalas senyumannya dengan tulus. Kini dalam ruangan itu hanya ada mereka. “Jadi, Calvin ingin aku mengatakan sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal?” tanya Ayana. “Oh, dia hanya khawatir pada wanita yang sangat dicintainya.” Ayana tersenyum. “Aku yakin kau juga tidak akan mengerti dan menganggap aku terkena gangguan jiwa sama sepertinya.” “Tidak akan. Aku coba memahamimu.” Clarasita mulai melakukan pendataan. “Aku ingin kita menjadi teman, kita hanya perlu berbicara layaknya teman tanpa logat formal.” “Oke.” “Nama lengkap?” “Ayana Parker.” Pertanyaan pertama cukup mengejutkan jawabannya. “Ayana parker? Kenapa pilih nama itu?” “Karena aku memang Ayana.” “Oke, momen pertama yang pernah kau ingat dari suamimu?” “Dia menolongku dari danau, saat aku tenggelam.” “Tenggelam? Kenapa bisa tenggelam?” “Aku sudah mengatakan jawaban ini pada Calvin, tapi dia tidak percaya. Kau percaya pada sebuah pertukaran jiwa?” tanya Ayana. “Pertukaran jiwa? Seperti di film-film, pria ke wanita atau wanita ke pria?” “Mmh, benar.” “Lalu apa hubungannya denganmu?” “Aku sedang mengalami itu.” Clarasita sangat terkejut dan menganggap bahwa teori itu tidak ada. Hanya sebagai khayalan semata dan termasuk salah satu jenis kejiwaan yang rusak. “Oke, berarti kau dan Jovanka sedang bertukar jiwa?” Ayana mengangguk sambil menahan sakit di lehernya. “Kau butuh minum?” Clarasita mendekatkan botol mineral. “Tidak, ini selalu terjadi ketika aku mencoba mengatakan kebenaran.” Wanita itu bersikap tenang. Mencoba meresapi pemikiran Ayana. Clarasita memberikan pena dan kertas kosong padanya. “Jika kau tidak bisa mengatakannya, berarti kau bisa menuliskannya.” Ayana mengangguk dan melanjutkan prosesnya meski beberapa kali Ayana tetap merasa kesakitan meski dia tidak bicara langsung, hanya menuliskannya saja. Clarasita mulai bingung dan panik ketika dia bertanya ke bagian paling penting. Mengenai tujuan dia ke sini dan Ayana tidak bisa menjawab apa-apa. Seakan tubuhnya kaku dan dirinya langsung terjatuh dari tempat duduknya karena merasa sakit yang amat dalam. “Tolong!" jerit Clarasita karena melihat wajah Ayana sudah membiru seperti kehabisan nafas. Calvin yang merasa was-was menanti di depan ruangan, berpegangan pada terali besi pembatas lantai dua ke lantai satu itu menoleh. Begitu mendengar teriakan, pria itu langsung masuk dan melihat Ayana berada di lantai dengan keadaan meringkuk. “Ada apa ini?!” tanyanya. “Aku tidak tahu. Tolong bantu tenangkan dia. Aku akan mengambilkan air hangat dan obat penenang.” Calvin melihat keadaan Ayana. “Jovanka, sadarlah!” ucapnya sambil memeluk dan mendudukkannya di pangkuan. Ayana terus memegang lehernya karena merasa kaku. Matanya menatap ke arah Calvin, air jatuh membasahi pipinya dengan deras. “Jovanka, maafkan aku! maaf!” Calvin memeluknya dan mencium tangan Ayana yang dinginnya bukan main. Clarasita kembali membawa air hangat dan obat penenang. Mencoba menembus bibir Ayana dengan sedotan dan memintanya menyeruput air di dalam gelas itu. Ayana menariknya pelan-pelan sampai setengahnya kemudian menyuntikkan obat penenang. Ayana menggeleng, tidak seharusnya mereka memberikannya obat itu sampai dirinya mulai merasa semua yang dilihatnya mengabur dan tak sadarkan diri. Calvin mengangkatnya, meletaknya di atas sofa kemudian memastikan tidak jatuh serta berada dalam posisi nyaman. “Apa yang terjadi? kenapa bisa seperti ini?” tanyanya sambil melihat kertas di atas meja. Dengan cepat Calvin mengambilnya dan membaca semua isinya. “Dia cerita masalah pertukaran jiwa. Apa kau tahu itu?” “Ya, dia pernah bilang itu, tapi aku tidak percaya. Termasuk semua yang kau tulis di sini sudah aku dengar secara langsung.” “Lalu, apa tanggapanmu?” “Aku merasa ini hanya leluconnya saja.” “Sampai hampir mati seperti itu kau bilang ini lelucon? Jovanka lebih tersiksa dari pada dirimu, Calvin!” bentak wanita itu. “Terus aku harus apa? tidur dan hidup dengan wanita yang tidak menganggapku sebagai suami, apa membuatku bahagia?” bentak Calvin balik. “Kau harus terima dirinya yang masih dalam keadaan trauma, kau harus mencintai Ayana!” pintanya. “Gila! Aku mencintai Jovanka, bukan Ayana!” “Jadi temannya, jadilah temannya. Dia kesepian dan kau tidak memedulikannya. Di rumah itu, dia hanya kenal dirinya sendiri. Semua orang tidak mengenalnya. Kau tahu bagaimana rasanya itu?” Calvin menoleh padanya. Clarasita melanjutkan percakapannya, “Rasanya sakit, Calvin! Sakit! Aku bisa lihat air matanya yang tulus! Dia mencintaimu meski dia menganggap dirinya adalah Ayana.” “Jovanka tidak mencintaiku, tapi dia bersikap biasa - layaknya seorang istri.” “Istri yang menutupi isi hatinya?” “Apa maksudmu?” “Saat aku bertemu dengan Jovanka dua tahun lalu, istrimu juga punya rahasia yang disembunyikannya darimu. Aku tidak tahu apa itu? Tapi dia hanya mengerjakan tugasnya saja sebagai istri, tidak lebih. Itu yang aku baca dari raut wajahnya.” Calvin memegang lengannya. “Benarkah?” “Ya, Jovanka seakan tidak suka kau sentuh, tapi Ayana menatapmu dengan penuh harap kalau kau memperhatikannya. Mereka dua wanita yang sama, goncangan batin yang membuat mereka berbeda. Mulailah lembaran baru bersama Ayana, anggap mereka adalah orang yang sama.” Calvin terdiam, melirik ke arah Ayana yang pingsan di sofa karena pengaruh obat penenang. “Kau mencintai istrimu dan dia yang sekarang lebih menyukaimu. Harusnya kau bahagia, Calvin.” Pria itu beranjak dari posisinya dan menghampiri Ayana. Menjatuhkan tubuhnya di lantai, berlutut di samping Ayana dan mengelus wajahnya. Calvin menangis dan mendaratkan keningnya di pipi wanita itu. “Kalian bisa memulainya dari sebuah hubungan tanpa rasa perlahan menjadi cinta. Anggap kalian adalah sepasang kekasih yang tinggal serumah. Buat dia jatuh cinta padamu maka kau akan mencintai dia apa adanya.” Calvin mengangguk dan akan coba menjalaninya meski terasa sulit. Calvin membawa Ayana pulang dengan segera. Ucapan Clarasita akan direnunginya lagi nanti. Freed segera membuka pintu, terkejut melihat Ayana pingsan. "Kita ke mana, Tuan?” “Pulang. Bawa kami pulang.” “Baik, Tuan.” Calvin menyandarkan kepalanya dipangkuan. Memegang tangannya dan menatap sedih kepada istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN