02 – Gagal Move On (?)

2111 Kata
What If I Fallin’ Love (Again)? 02 – Gagal Move On (?) Satya Hujan, itu bukan sesuatu yang aku sukai. Tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya, aku sangat membencinya. Aroma hujan yang menetes membasahi tanah bisa jadi membuat sebagian orang merasa tenang, tapi bagiku efeknya akan sangat berbeda. Setiap kali aku mencium aroma tanah basah karena hujan maka tenggorokanku serasa seperti dicekat, aku hampir tak bisa bernafas, seluruh paru-paruku seperti hampir meledak, itu sesuatu yang sangat buruk. Hingga akhirnya kamu datang, Ay. Hingga detik ini aku tidak tahu alasannya, mengapa sentuhanmu bisa membuatku hangat dan melupakan segala hal tentang aroma hujan yang sangat kubenci itu. Padahal jika dipikir-pikir itu hanya sentuhan ringan tanpa perasaan mendalam dari seorang gadis yang bersimpati padaku karena baru saja kehilangan kedua orang tua secara tidak adil. Hujan telah merenggut kehangatan orang tuaku dan kamu, Ay … kamu mengembalikannya padaku. Mengembalikan seluruh kehangatan itu padaku. “Mas Satya … hari ini aku bikin kukis, mau coba?” tanyamu sambil menatapku dengan mata bulat berbinar yang tidak berdosa. Dalam benakku tersusun ribuan cara untuk mengusirmu yang aku yakini pasti telah berlarian ke rumahku karena langit mulai meneteskan airnya, tapi melihatmu tersenyum tanpa tahu isi otakku yang hanya ingin melempar jauh-jauh kukis gosong buatanmu itu aku hanya terdiam mematung seperti orang t***l di depanmu. Semua rencana untuk mengusirmu menguap begitu saja. “Mas Satya?” Suaramu … ya, suaramu yang sama sekali tidak terdengar merdu berhasil mendobrak masuk ke dalam benteng yang pernah aku buat tinggi-tinggi, Ay. Apalagi dengan tanganmu yang hangat menyentuh lenganku, aku tidak tahu bagaimana kamu begitu mudah sekali meruntuhkan pertahananku. Susah payah aku membangunnya agar tidak seorang pun bisa memasukinya, tapi kamu dengan tangan mungilmu itu bisa meruntuhkannya. Kadang aku berpikir, mungkin kamu ini seorang penyihir. “Kamu hujan-hujanan?” Pertanyaan macam itu, Satya! Seharusnya aku bisa lebih baik setelah semua rencana busukku untuk mengusirmu hilang, harusnya aku bisa menjadi laki-laki yang lebih baik lagi, bukannya mengajukan pertanyaan payah macam itu. Entah kamu itu terlalu polos atau memang masa bodoh denganku, kamu hanya mengangguk pelan. “Kamu mau masuk?” Tentu saja dia mau! Aku sungguh tidak mengerti, kemana perginya tata krama yang diajarkan ibuku pergi. Di luar sedang hujan gerimis, gadis polos itu dengan senyuman telah berlarian menyebrang jalan untuk mengantarkan kukis gosongnya pasti dia mau masuk untuk berteduh sebentar. “Kalau boleh.” Ada apa dengan tatapan itu, Ay? Kenapa kamu memiliki binar yang penuh dengan harapan di dalam sana, sesuatu yang tidak bisa kumiliki. Aku yakin jika tatapanku sangat berbanding terbalik dengan tatapan milik Aiyana, karena yang aku tahu setiap orang menatapku dengan penuh iba. Mungkin di dalam tatapanku hanya ada kebencian untuk dunia, itu sebabnya mereka mengasihaniku. Karena membenci dunia ini hanya sebuah kesia-siaan belaka. “Coba deh rasain kukisnya, Mas.” Dia menyodorkan kukis yang terlihat gosong itu tepat ke bibirku setelah aku memintanya untuk duduk di ruang tamu. Sungguh, apa dia tidak bisa membedakan kukis yang gosong dengan kukis yang matang sempurna. “Kayanya makan kukis paling enak sama cokelat panas, kamu mau?” Wah! Aku sangat terkejut dengan diriku sendiri. Sudah lama sejak aku bicara panjang seperti ini. Satu hal kecil darimu saja bisa membuatku seperti ini, apakah kamu tahu kalau kamu itu istimewa sejak pertama kali datang padaku, berlarian hujan-hujanan sambil membawa kukis gosongmu? “Ewh. Kenapa rasanya pahit, ya?” Aiyana … oh Aiyana, kenapa kamu bisa selucu ini, tentu saja kukis yang kamu makan itu pahit karena itu gosong. Sungguh aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkahmu ini. Dan akhirnya tawa yang tidak pernah kudengar selama beberapa hari ini akhirnya kudengar juga, itu pun berkat dirimu. “Sepertinya kamu terlalu lama memanggang kukisnya.” “Benarkah?” Dan kamu menatap kukis di tanganmu dengan raut wajah yang sedih, kamu pasti sudah mengerahkan seluruh tenagamu untuk membuatnya dan hasil kerja kerasmu tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, dan karena raut wajah sedihmu itu aku dengan bodohnya mengulurkan tangan untuk menepuk-nepuk kepalamu, berusaha untuk membuatmu tidak berkecil hati, padahal hatiku sendiri sedang tidak baik-baik saja. “Nggak apa-apa, lain kali kalau kamu mau bikin kukis lagi, kamu bilang aja. Nanti aku ajarin.” Lalu kamu tersenyum sangat lebar, Ay. Senyum yang bersinar cerah, senyum yang bisa menghapus kebencianku pada hujan, senyum yang mampu menyembuhkan hatiku yang terluka karena tidak adilnya dunia ini padaku dengan perlahan. “Emangnya Mas Satya bisa?” tanyanya dengan binar yang sama sekali tidak meredup. BISA! Aku bisa melakukan apapun untukmu, Ay. Bahkan aku bisa mengikutimu secara diam-diam selama tiga tahun terakhir ini, meski dari kejauhan aku tetap bisa memantaumu. Hampir setiap hari aku meluangkan waktuku untuk berada di dekat ruko butik milikmu, hanya untuk melihatmu. Meski tidak setiap saat aku bisa melihat wajahmu, tapi aku puas melakukannya. TOK! TOK! Sebuah ketukan di kaca jendela mobil ini mengejutkanku, benar-benar menyadarkanku dari lamunanku tentang masa lalu yang selalu hadir setiap kali aku bengong, seketika itu juga aku menoleh padanya. Seorang pria agak tua dengan pakaian cokelat-cokelat mirip seragam polisi tapi ternyata itu adalah seragam satpam sedang berdiri di samping mobilku, tidak tahu apa yang dia inginkan. Untuk sesaat aku melihat ke arah butik Aiyana, sebelumnya aku melihat dia berlarian kecil dari café seberang sambil menutup kepalanya karena hari mulai gerimis. Kaca mobil itu aku turunkan untuk mengetahui apa keinginan si bapak ini, dia tampak sedikit kesal padaku. Sepertinya aku membuat sebuah kesalahan hingga wajahnya terlihat tidak bersahabat begitu. “Mas, bisa tolong untuk parkir di tempat lain? Yang punya ruko mau parkir, Pak.” “Oh, iya, Pak. Maaf, Pak.” Salahku sudah parkir di depan sebuah ruko. Kupikir ini adalah ruko kosong, ternyata aku salah dan pemiliknya ingin aku pergi karena dia akan membuka rukonya. Setelah itu bapak pemilik ruko itu tersenyum simpul padaku, rasa kesalnya sepertinya sudah sedikit mereda. Segera aku menginjak pedal gas dan pergi dari sana. Cukup untuk hari ini, aku akan bertemu lagi dengannya, benar-benar bertemu, tidak mengendap-endap dan hanya melihatnya dari jauh. * “Wah … dalam rangka apa nih, Mbak?” tanya Deni, matanya bulat penuh binar senang saat melihat ada berbagai macam masakan di depan meja. Sebagai pegawai biasa, Deni maupun Upi jarang melihat banyak makanan dalam satu meja, dan itu bukan makanan biasa melainkan makanan yang sangat mewah. “Dalam rangka apa yaaaaa ….” Luna sengaja membuat para pegawai Aiyana itu semakin penasaran. “Jangan-jangan … ini adalah ketenangan sebelum badai?” tanya Upi yang menerka-nerka apa yang sebenarnya menjadi alasan dibalik makanan mewah ini. Bekerja bersama dengan Aiyana selama tiga tahun terakhir, bosnya itu selalu berbuat baik, seringkali mereka makan bersama tapi tidak dengan makanan mewah. Luna tak bisa menahan tawanya dengan dugaan receh Upi, ia tertawa kencang sampai semua tubuhnya bergetar dan perutnya menegang. “Sumpah, kalian kenapa sih? Pikiran kalian kayanya negthink mulu ya?” “Iya, tau nih … dari tadi pagi mereka pikirannya tuh suudzon terus sama aku. Dikiranya aku mau pecat mereka.” Aiyana bicara sembari mengambil satu gelas air putih lalu meminumnya. Saat itu juga tawa Luna berhenti, ia pun menatap heran dua pegawai Aiyana itu. “Ini pasti kamu sih, Ai ….” Luna mendadak berganti kubu dan menyalahkan Aiyana perihal pegawainya yang terus menerus membicarakan tentang pemecatan. “Tunggu … apa aku terlihat akan bangkrut sampai-sampai harus memecat kalian?” tanya Aiyana tidak terima. “Dan kamu!” Aiyana lalu menuding Luna. “Kamu itu sahabatku atau bukan sih, kenapa malah mendukung mereka?” “Gini ya, Aiyana Gantari … walau aku ini sahabatmu tapi kalau kamu salah aku nggak akan diam. Sahabat itu ada untuk mengoreksi kesalahan temannya bukan membiarkannya.” Luna berceramah, sementara Upi dan Deni hanya manggut-manggut saja melihat perang saudara di hadapan mereka. Yang ada di dalam kepala dua pegawai Aiyana itu hanyalah, kapan mereka bisa menyantap makanan yang tampak lezat di depan mereka ini. “Tapi … ngomong-ngomong, kalian kenapa kepikiran gitu sih?” tanya Luna yang penasaran. “Kenapa kalian mikir kalo Aiyana bakalan pecat kalian tiba-tiba?” Upi dan Deni saling memandang satu dengan lainnya, Aiyana menantikan dengan sabar begitu juga dengan Luna. Sesaat kemudian keduanya pun memandangi Aiyana, mereka terlihat ragu apakah harus mengatakan apa alasan dibalik pemikiran mereka atau tidak. “Duh, lama banget tinggal bilang aja, ‘kan?” desak Luna, kesabarannya mulai habis untuk menunggu Upi dan Deni bicara. “Mbak Ai dan Mbak Luna tahu nggak pegawai di ruko sebelah itu?” tanya Upi dengan suara dipelankan seolah dia takut ada orang lain yang mendengar. Padahal Luna telah menutup cafénya jadi hanya tinggal mereka berempat ditambah dengan Saga di Koki ganteng. “Iya, tahu … kenapa?” tanya Aiyana semakin penasaran. “Dia dipecat mendadak sama bosnya.” Deni berbisik lirih. “Itu sih aku nggak kaget ya …,” ujar Luna yang terlihat tidak heran sama sekali. “Bosnya emang suka gonta-ganti pegawai aja. Beda sama Aiyana … buktinya udah tiga tahun kan kalian di sini, toh masih baik-baik aja. Jadi … jangan sama-samain orang, okey?” Upi dan Deni mengangguk kompak. “Ngomong-ngomong, kapan kita boleh makan ya?” “Heh!” Upi mencubit pundak Deni. “Nggak sopan, kita harus sabar … masa nggak bisa nunggu bentar. Walau perutmu bunyi, kamu harus tahan. Ngerti.” “Tadi kamu yang bisikin aku … kapan bisa makan ini, sekarang malah ceramah harus sabar.” “Kapan aku bilang gitu?!” tanya Upi jengkel. “Tadi.” Luna dan Aiyana terkekeh geli melihat tingkah dua orang tersebut. Ada saja kelakuan mereka yang bisa mencairkan suasana. Aiyana merasa bersyukur menemukan pegawainya yang lucu ini. “Hey!” Sebuah suara menyeru, mereka berempat kemudian menoleh ke samping dan melihat sosok Saga yang sedang berjalan ke arah mereka. Saga terlihat tampan dengan balutan pakaian koki yang lengannya ditekuk hingga hampir siku. Tubuhnya tinggi atletis dengan wajah yang mirip dengan artis Turki kalau kata Upi. Tapi memang usut punya usut, Saga adalah anak blasteran, ayahnya orang Afghanistan dan ibunya asli orang Indonesia. “Maaf ya kalian harus menunggu lama ya, aku baru beresin dapur.” Saga kemudian mengambil duduk di seberang tempat duduk Aiyana. “Nggak lama kok,” ujar Aiyana. “Nggak lama bagi mbak Ai, bagi kita udah serasa nunggu seabad.” Deni berseloroh sampai sebuah pukulan melayan di bahunya lagi—pukulan dari Upi. “Ini bocah kenapa mulutnya nggak ada filternya ya?” sindir Upi. “Haha nggak apa-apa, emang aku yang salah. Tapi kenapa kalian belum makan sama sekali?” Saga menyadari jika makanan di meja, makanan yang dibuat olehnya itu belum tersentuh sama sekali. “Belum, kita nungguin kamu.” Aiyana menyahut. “Iyaaa yang nungguin,” ledek Luna dengan senyuman jahilnya. “Apaan sih, Lun.” “Apaan sih, Lun.” Luna mengikuti gaya bicara Aiyana. Bukannya marah, Aiyana malah tertawa dibuatnya. Tawa itu berhasil mencuri perhatian Saga sepenuhnya, pria setengah bule itu menatap Aiyana tanpa berkedip sekalipun. Dia terpesona oleh suara tawa Aiyana yang begitu renyah terdengar olehnya. “Oke … sudah bercandanya, lebih baik kita makan saja.” “Benar sekali … tapi sebelum itu aku mau mengatakan sesuatu,” ujar Luna sembari berdiri. “Perhatian-perhatian hadirin sekalian,” ujarnya layaknya seorang pembaca acara. Setelah semua perhatian hanya tertuju padanya kemudian Luna pun mengungkapkan sesuatu. “Malam ini pesta kecil ini adalah hadiah kecil untuk merayakan keberhasilan Aiyana setelah perjuangan panjangnya mendapatkan beasiswa sekarang akhirnya dia sudah mendapatkannya!” Luna berseru gembira. Upi dan Deni pun ikut bahagia, mereka bersorak sembari bertepuk tangan untuk Aiyana, tidak lupa juga memberikan ucapan selamat pada bos mereka. “Selamat ya, Ai … kamu sudah berusaha keras dan sekarang kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan,” ujar Saga. DEG Kata-kata Saga yang terlontar baru saja itu membuat Aiyana terkejut, seketika itu juga Aiyana menatap Saga lekat-lekat. Memastikan jika pria yang mengatakannya itu benar-benar Saga bukan orang lain, bukan orang yang telah menguasai seluruh hatinya selama ini, bukan orang yang susah payah ingin Aiyana lupakan. Kalimat yang diucapkan oleh Saga sangat mirip sekali dengan apa yang pernah dikatakan oleh orang tersebut tujuh tahun lalu. “Selamat ya, Ay … kamu sudah berusaha keras dan sekarag mendapatkan apa yang kamu inginkan.” Aiyana masih mengingatnya dengan jelas—sangat jelas. Setelahnya tangan besar dan dingin pria itu mendarat di kepalanya, menepuknya pelan, sebuah sentuhan yang kala itu berhasil membuat hati Aiyana melambung sangat tinggi. Itu adalah hari di mana dirinya baru saja dilamar untuk menjadi istri pria itu dan baru mendapatkan sebuah pengumuman kelulusannya masuk ke universitas, bukankah momennya terlalu kebetulan. Saat ini, dirina juga baru saja mendapatkan kabar yang baik dan entah bagaimana kata-kata yang dilontarkan oleh Saga sangat mirip dengan kata-kata yang diucapkan oleh pria itu. “Mengapa harus sekarang, Sat? mengapa bayanganmu muncul lagi di ingatanku?” =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN