What If I Fallin’ Love (Again)?
09 – Es Krim Vanilla
Cuaca hari ini terpantau panas menyengat, matahari seolah-olah sedang sangat bersemangat memberikan panasnya ke bumi sampai-sampai suhu bumi saat ini mencapai tiga puluh tujuh koma lima derajat celcius. Sampai Aiyana harus berdiri di depan air cooler yang terletak di salah satu sisi tokonya, tidak sanggup jika harus berjauhan dengan si air cooler. Meski sudah berdiri dekat dengan pendingin ruangan itu, Aiyana masih menggunakan telapak tangannya untuk mengipasi dirinya. Sesekali mengeluh tentang cuaca yang sangat panas.
“Panas banget …,” keluhnya. Untung hari ini butiknya sedang libur, sehingga dirinya tidak harus melayani para konsumen dan bisa menikmati air cooler yang hanya tersedia di butiknya saja.
Aiyana menolehkan kepalanya ke arah jendela, melihat café milik sahabatnya di seberang sana. Banyak pelanggan yang silih berganti keluar masuk ke dalam café milik Luna, tentu saja karena cuaca yang sangat panas sehingga sangat mendukung, terlebih lagi minuman yang disediakan di sana ada beberapa yang sangat menyegarkan.
“Tapi ramai banget ….” Aiyana ingin pergi ke sana untuk membeli satu atau dua cup minuman yang paling segar, hanya saja keramaian di café itu membuat niatnya menjadi ciut. “Ah sudahlah, nanti saja aku ke sananya.” Aiyana berbalik untuk mengambil sebuah kursi, namun tiba-tiba terdengar suara lonceng yang sengaja digantung dekat dengan pintu masuk terdengar.
Adanya suara lonceng itu menandakan jika seseorang pasti membuka pintu toko, Aiyana bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang tidak membaca plakat bertuliskan kata ‘tutup’ yang sudah dia gantungkan di pintu butik. Segera dirinya pun bergegas menuju ke pintu masuk untuk memberitahu orang tersebut.
“Maaf toko kami sedang –” Ucapan Aiyana tergantung begitu saja di udara ketika matanya menangkap sosok menawan Satya sedang berdiri di ambang pintu tampak memperhatikan sekeliling toko. “Satya ….” Nama itu lancar lolos dari bibir Aiyana saat mata mereka akhirnya bertemu.
“Aku bawakan es krim vanilla kesukaan kamu.” Satya tersenyum sambil mengangkat kantong bawaannya, senyumnya begitu cerah bahkan bisa mengalahkan cerahnya matahari hari ini. Aiyana mengedipkan matanya berkali-kali, berpikir jika sosok yang ada di depannya ini pasti hanya imajinasinya, bahkan Aiyana mengucek matanya untuk memastikan pandangannya yang salah.
“Ini pasti delusi,” gumamnya. Tidak mungkin Satya mendadak muncul di hadapannya jika bukan karena sosok di depannya itu hanya imajinasinya belaka atau sebuah mimpi yang tang mungkin jadi nyata.
“Di luar panas banget, aku sengaja antri di tempat Luna dan beli es krim favorit kamu.”
Jika ini hanya sebuah imajinasi semata kenapa rasanya begitu nyata? Aiyana menghela nafasnya dalam-dalam kemudian memalingkan wajahnya. Mungkin dengan begitu maka sosok yang ada di depannya akan menghilang.
“Ini pasti karena efek panas aku jadi punya imajinasi yang aneh,” gerutunya. “Mana mungkin orang itu datang ke sini? Buat apa?” ucapnya lagi. Aiyana kemudian memutuskan untuk pergi melanjutkan apa yang ingin dia lakukan sebelumnya—mengambil kursi. Namun sebuah sentuhan di lengannya, sebuah genggaman yang kuat di lengannya membuat jantung Aiyana seolah berhenti berdetak.
Ini nyata. Ya Tuhan. Hati Aiyana semakin bergemuruh. Rasanya dia ingin berlari dan bersembunyi dari orang yang sedang menahan lengannya ini. Aiyana bahkan tidak berani untuk menoleh dan menerima kenyataan jika saat ini dia dan mantan suami yang selalu dianggapnya sebagai sosok manusia paling baik di dunia itu berada dalam satu ruangan. Apalagi Aiyana sempat marah-marah dengan pria itu setelah persidangan tempo hari.
“Ay … aku di sini, kamu mau ke mana?”
Aiyana berdecih pelan, mengapa pula dia harus terjebak dalam situasi seperti ini, tidak, mengapa Satya mendadak datang ke tempatnya? Membawa es krim favoritnya pula, seolah-olah pria itu ingin menunjukkan jika dirinya masih sama—pria yang pengertian. Terpaksa Aiyana pun menoleh pada Satya, ia tersenyum penuh paksaan sembari berusaha melepaskan tangan Satya dari lengannya.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Aiyana.
Sekali lagi Satya mengangkat kantong bawaannya, kantong yang berisi es krim vanilla favorit Aiyana. Sekilas Aiyana menengok ke arah kantong tersebut, meski hanya sekilas saja sudah cukup bagi salivanya membanjiri rongga mulutnya. Aiyana membayangkan betapa nikmatnya es krim tersebut jika meleleh di rongga mulutnya kemudian mengalir ke tenggorokannya yang kering karena cuaca panas ini. Aiyana menggelengkan kepalanya pelan, tidak ingin terayu hanya dengan es krim vanilla yang dibawa oleh Satya.
“Kebetulan aku lewat di sini, cuacanya lagi panas terus aku ingat kamu.”
“Terus kalau kamu ingat aku, kamu harus kemari? Membawa es krim favoritku?”
Satya menyadari apapun yang dilakukannya akan tetap terlihat salah di mata Aiyana. Hanya saja dia tidak ingin begitu saja terdorong menjauh meski Aiyana mati-matian berusaha untuk mendorongnya. Kanton berisi es krim itu diturunkan oleh Satya, ia kembali memutar otaknya untuk membuat sebuah alasan supaya dirinya bisa tinggal lebih lama. Hanya saja setiap kali berhadapan dengan Aiyana, kendali otaknya seolah macet dan enggan untuk berpikir.
Oh, c’mon, Satya!
“Boleh nggak, kamu sekali aja menerima niat baikku.”
“Kamu sudah terlalu baik untukku selama ini, Satya.” Aiyana menghela nafasnya.
“Apakah alasanmu masih akan tetap sama, sampai kapan?”
Sampai kapan? Aku juga nggak tahu sampai kapan! Sampai kamu benar-benar melepaskanku, Satya.
“Sebaiknya kamu pergi dari sini.”
“Sampai kapan kamu mau menghindari semua ini, menghindariku?”
“Aku tidak—” ucapan Aiyana dipotong oleh Satya.
“Menghindari es krim ini?” tanyanya lagi dengan sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Satya memutuskan untuk tidak membuat Aiyana marah lagi jika ingin Aiyana kembali. Percuma saja jika membuat Aiyana marah karena akan membuatnya semakin menjauh.
“Kamu nggak lagi sakit, ‘kan?” Aiyana mendekat pada Satya, mengulurkan tangan ke kening pria itu kemudian menempelkan telapak tangannya ke kening Satya, memeriksa suhu badan pria itu meski hanya menyindir saja.
“Bukan di sana yang sakit, Ay,” ujar Satya dengan suara yang pelan, ia meraih tangan Aiyana dari keningnya dan mengarahkannya ke dadanya, tempat di mana jantungnya saat ini sedang berdetak dengan kencang.
“Di sini yang sakit.” Satya menatap Aiyana lekat-lekat, berharap jika mata hangat milik Aiyana yang selalu dia kagumi juga akan menatapnya. Aiyana memalingkan wajahnya saat merasa ditatap seperti itu, wajahnya bersemu merah, salah tingkah.
Tiba-tiba saja suara lonceng pintu terdengar kembali hingga Aiyana pun menarik tangannya dari d**a Satya dan memalingkan wajahnya menghadap ke arah pintu dan melihat Saga sedang berdiri di depan pintu juga membawa sebuah kantong entah berisi apa.
“Eh … ada tamu ya, Na?” tanyanya sembari melihat ke arah Satya. Disebut sebagai tamu, Satya pun menoleh pada Saga dan memasang senyuman yang paling mematikannya. “Kalau gitu aku balik dulu ya.”
“Eh … jangan!” Aiyana segera mendekat pada Saga, berniat untuk memanfaatkan situasi agar Satya segera pergi dari tempat ini. “Dia dosen aku, kebetulan mampir. Kamu kenapa kemari, bukannya café lagi rame banget, ya?” tanya Aiyana berusaha untuk memasang senyuman yang senatural mungkin.
Alis mata Satya terangkat, terheran-heran dengan sikap Aiyana yang seketika berubah saat pria bernama Saga itu datang, apalagi suaranya yang menjadi lebih lembut yang dibuat-buat.
“Ini … aku bawain kamu es krim vanilla, ada potongan strawberrynya, favorit kamu ‘kan?” tanya Saga sembari menyodorkan kantong bawaannya pada Aiyana.
Duh, apa yang harus kulakukan?! Aiyana menghela nafasnya pelan-pelan sembari menoleh ke arah Satya untuk sesaat, ia melihat pria itu menatapnya dengan tajam, seakan sedang mengancamnya untuk tidak menerima pemberian Aiyana. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Aiyana, ia menatap Satya dengan tatapan mengejek kemudian menoleh pada Saga.
“Wah, kebetulan banget! Lagi pengen makan es krim, panas-panas gini emang paling enak tuh makan es krim!” Aiyana berusaha untuk terdengar sangat antusias saat menerima pemberian Saga, membuat Satya semakin dibakar api cemburu di tempatnya.
“Nah itu dia, aku tahu kamu pasti lagi pengen banget. Kalau gitu makan ya … aku balik dulu ke café.”
“Terima kasih ya, Ga!”
“No worries, Na.” Saga melambaikan tangannya sembari berjalan keluar dari butik.
“Enak ya panas-panas makan es krim.” Suara Satya mengejutkan Aiyana yang tengah memandangi kepergian Saga.
“Iya, emang enak banget.”
Satya menghela nafasnya, tidak heran jika Aiyana keras kepala, sudah sifatnya sejak dulu. “Kalau begitu makan ini juga, siapa tahu mataharinya langsung dingin kalau kamu makan banyak es krim.” Aiyana hampir saja tertawa dengan candaan bapak-bapak ala Satya itu, tapi dia berhasil mengendalikan dirinya dan tetap menatap sinis pada Satya. Satya meletakkan kantong es krim tersebut pada sebuah meja.
“Aku pergi dulu.”
“Pergi aja … nggak ada yang nyuruh tinggal juga.”
“Kamu!” geram Satya.
“Apa?”
“Cantik,” balas Satya sembari berjalan keluar dari butik itu. Aiyana terperangah dengan sikap Satya yang aneh itu, tapi dia mengabaikannya tidak ingin kembali terikat pada Satya.
Setelah dua pria itu pergi dari butiknya, Aiyana melangkah ke arah meja kerjanya, meletakkan satu kantong dari tangannya ke atas mejanya dengan mensejajarkannya dengan kantong es krim pemberian Saga. Kantong-kantong pun tersebut pun di buka oleh Aiyana, dua-duanya adalah es krim vanilla dengan potongan strawberry di atasnya, bedanya kalau punya Satya sudah hampir meleleh.
“Dasar.” Aiyana tersenyum samar, ia kemudian mengambil es krim pemberian Satya dan mulai melahapnya. Tanpa sadar di balik dinding kaca butiknya ada sepasang mata milik Satya yang mengintip dan melihat semua yang dilakukan oleh Aiyana.
“Kalau perasaan kamu masih sama, kenapa terus menghindariku?” gumamnya lirih dengan ke dua tangan terkepal di ke dua sisi tubuhnya. Apa yang dilihat oleh Satya di depannya itu membuat dia semakin bersemangat untuk mendapatkan Aiyana lagi.
Rrrr
Rrrr
Rrrr
Getar ponsel di saku membuat Satya harus mengalihkan pandangannya dan mengambil ponselnya. Melihat nama di layar ponsel itu Satya segera mengangkatnya sembari berjalan menjauh dari butik Aiyana.
“Hallo, Ma …,” ucap Satya. Kening Satya berkerut dalam ketika mendengar penuturan dari wanita yang sedang meneleponnya. Dia hendak berbalik menuju ke butik milik Aiyana tapi sesuatu yang dia dengar menghentikan Satya.
“Tapi, Ma … Aiyana juga harus tahu tentang kondisi papa.” Satya berusaha untuk meyakinkan Ibu mertuanya. Tatapannya masih nanar mengarah pada sosok yang saat ini sedang menikmati es krim di ruangannya.
“Baik, Ma … Satya akan segera ke sana.” Satya menutup ponselnya setelah sambungan itu diputus oleh ibu mertuanya. Tangan Satya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya, ia ingin sekali memberitahu Aiyana apa yang terjadi dengan Ayahnya tapi dia tidak ingin melihat kemungkinan terburuk akan dialami oleh Aiyana. Selain itu, ibu mertuanya juga sudah melarangnya untuk mengatakan apapun kepada Aiyana.
Satya terkesiap ketika sebuah lambaian tangan di balik dinding kaca itu bergerak cepat, Aiyana rupanya mengetahui jika dia masih belum pergi juga dan saat ini sedang berdiri di balik dinding kaca, dengan isyarat seolah bertanya ‘kenapa belum pergi dari sini?’
Satya tidak tahan lagi dilanda dilemma seperti ini, pada akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam butik tersebut. Aiyana tertegun untuk sesaat, dalam benaknya bertanya-tanya mengapa Satya berjalan kembali ke dalam butiknya.
“Kenapa kamu—” Belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, Satya sudah meraih tangan Aiyana dan menariknya untuk keluar dari butik.
“Satya … lepasin, kenapa kamu narik tanganku begini!” Aiyana berusaha untuk memberontak. Namun, tangan Satya ternyata lebih kuat menahan tangannya.
“Akan kujelasin di jalan.”
“Nggak mau, jelasin sekarang!” Aiyana yang keras kepala akhirnya menghentikan langkahnya dengan paksa, tidak takut jika dirinya mungkin bisa terjatuh. Merasakan langkah Aiyana berhenti, Satya juga turut berhenti.
“Bisa nggak kalau kali ini kamu nggak keras kepala?”
“Nggak, selama kamu nggak jelasin sekarang aku nggak akan pergi ke manapun, titik!”
“Aiyana.”
“Dia nggak mau ikut sama kamu, bang. Kamu harus hargai itu.” Saga datang menginterupsi, sejak Satya kembali masuk ke dalam butik Aiyana, ia terus memperhatikan dan saat Satya menarik tangan Aiyana membuat Saga langsung berlari keluar dari café, mengabaikan tugasnya di café yang penuh dengan pelanggan.
“Ini bukan urusan kamu, sebaiknya kamu pergi.”
“Kamu udah nyakitin dia dengan memaksanya, tentu ini urusan saya.” Saga bersikukuh, ia ingin sekali menarik tangan Aiyana dari genggaman Satya tapi takut jika itu malah akan menyakiti Aiyana.
“Memangnya kamu siapa?! Kamu hanya orang luar!” Satya kehilangan kesabarannya dan membentak Saga yang mana itu membuat Aiyana heran karena baru pertama kalinya dia melihat Satya meninggikan suaranya pada lawan bicaranya, selama ini Satya begitu tenang dan selalu bicara dengan nada yang rendah.
“Satya!”
“Apa? Aku benar … pria ini adalah orang luar!”
“Saya memang orang luar, tapi saya tidak akan membiarkan anda menyakiti Aiyana!” Saga hendak meraih tangan Aiyana dari Satya, tapi kemudian Satya menarik Aiyana dalam dekapannya. Membuat Saga terkejut hingga ia pun berusaha untuk menarik pundak Satya.
“Ini tentang ayah, aku tidak bisa menjelaskan detilnya.”
Mata Aiyana melebar mendengar bisikan, tapi sesaat kemudian Satya telah menjauh darinya, terjatuh di tanah karena Saga menariknya. Saga langsung menarik kerah pakaian Satya dan memukul wajah tampannya hingga sudut bibir Satya mengeluarkan darah.
“Saga, hentikan tolong.” Aiyana menarik tangan Saga agar melepaskan Satya. Aiyana sangat terkejut karena keadaan menjadi kacau, terlebih lagi keributan kecil mereka menjadi pusat perhatian para pelanggan café Luna. “Saga, please …,” pinta Aiyana sekali lagi dengan suara memohon. Pada akhirnya, Saga pun melepaskan Satya, nafasnya terengah-engah karena terpengaruh oleh adrenalin yang berpacu kencang di seluruh nadinya.
“Kamu nggak apa-apa, Na?” tanya Saga sembari berusaha memeriksa keadaan Aiyana.
“Aku baik-baik aja, Satya nggak akan pernah nyakitin aku. Kamu salah paham, Ga.”
“Jelas-jelas dia—” ucapan Saga dipotong oleh Aiyana.
“Saga please … biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri?” sela Aiyana.
“Kalau itu yang kamu mau,” balas Saga sedikit kecewa, namun pada akhirnya ia pun hanya menuruti Aiyana dan membiarkan gadis itu untuk menyelesaikan masalahnya. Aiyana pun segera menghampiri Satya, pria itu sedang menutupi bibirnya yang terluka.
“Kamu nggak bohong kan soal ayah?”
“Menurutmu apa aku terlihat bohong?”
“Baiklah, sekali ini aku akan mempercayai kamu.”
“Harusnya dari tadi, jadi aku nggak perlu dapat bogem dari cowok aneh itu,” gerutu Satya sembari mengusap bibirnya yang terasa sakit.
Aiyana menghela nafasnya, mengabaikan Satya dan pergi ke Saga untuk berpamitan. Beberapa saat Saga melihat tajam ke arah Satya, berusaha untuk mempercayai pria itu dan dengan berat hati akhirnya Saga pun merelakan Aiyana untuk pergi bersama dengan Satya.
“Jadi dia itu semacam apa? Pacar atau bodyguard?” tanya Satya pelan ketika mereka melangkah menuju ke mobil.
“Apa kamu mau dapet bogem lagi?”
::Bersambung::