"Leo sudah mati." Avoz berujar sambil menatap Aeron lurus-lurus. "Ditemukan bahwa wajahnya penuh dengan lelehan lilin dan posisinya ada di Belanda." "Belanda?" Avoz mengangguk, memilih duduk di depan sofa. "Ya, Aldith. Anak buahku bilang kalau beberapa hari lalu, lelaki itu mendadak langsung memesan tiket ke Belanda." "Siapa yang membunuhnya dengan begitu kejam?" Aeron menatap Avoz serius. Otaknya terus memutar untuk berpikir. "Aku harus tahu siapa yang membunuhnya karena Leo seharusnya menjadi mangsaku! Apa mungkin kau salah mengenalinya?" Sayangnya, Avoz justru menggeleng. "Maaf, Aldith. Tapi, aku tidak tahu. Mereka tidak meninggalkan jejak sama sekali." Kemudian Aldith mengeluarkan selembar foto. "Aku tidak akan salah mengenalinya karena identitasnya yang terdapat di dompet. Dan tid

