Eleanor menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang. Ruangan kamar pribadi itu masih dipenuhi aroma mereka—parfum mahal sang CEO bercampur dengan parfumnya yang beraroma floral. Udara terasa berat, seolah menahan semua kata yang tak sempat terucap. Dengan gerakan cepat, Eleanor mengenakan kembali pakaiannya, menghindari pandangan Geo yang masih terbaring di atas tempat tidur, matanya mengikuti setiap gerakannya dengan puas. "Kau selalu terburu-buru pergi. As always," ujar Geo, suaranya dalam, dengan senyuman miringnya. Eleanor tidak menjawab. Ia mengambil jasnya lalu memakainya, berusaha tidak melihat ke arah pria tampan nan menggoda itu. Jika dia menoleh, jika mata mereka bertemu lagi, dia tahu dirinya akan lemah. Dan itu berba

