Perjalanan yang tak terasa menyenangkan sedikitpun itu telah berakhir. Demian membukakan pintu untuk Almira walau wanita itu sudah menolaknya. Almira risih diperlakukan seperti itu karna dirinya tahu tak ada satupun dari sikap Demian yang bisa dipercayainya. Demian memeluk tubuh Almira begitu ia sudah berdiri di samping mobil. “Semangat kerjanya, Sayang. Kabarin aku dan jangan nakal-nakal,” ucap Demian seraya melepaskan pelukan mereka, Almira tersenyum kikuk, sedang senyum Demian tampak begitu lembut dan manis. Demian menyelipkan anak rambut Almira ke belakang telinganya. “Maafin atas semua sikap cuekku selama ini. Tampaknya, mengucapkan kata maaf beribu kali nggak akan bisa menyembuhkan luka yang ku toreh, tapi mohon berikan aku satu kesempatan lagi ya, Sayang. Kali ini, semuanya akan b

