Aku Hanya Ingin Dicintai

1132 Kata
Sepulangnya dari rumah Jenny. Almira memutuskan untuk berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan, mencari pakaian dalam yang sekiranya mampu membangkitkan gairah suaminya. Ia mengikuti saran Jenny, mengubah caranya berpakaian dan juga gaun malamnya yang tidak lain hanyalah daster kebesaran yang tampak tak menarik. Almira akan melakukan apa pun, termasuk mengubah seleranya demi lelaki yang dicintainya. “Lelaki suka model yang menantang.” Suara seorang wanita menarik minat Almira. Ia berpura-pura berjalan mendekat dan memilih-milih pakaian dalam pada rak di dekat dua orang wanita muda yang tengah bercakap-cakap itu. Almira harus memberikan ilmu-ilmu baru tentang hubungan pada dirinya sendiri. Dirinya tahu, jika pernikahan tak hanya tentang hubungan intim dan nafsu belaka, namun lebih dari itu, akan tetapi banyaknya hubungan rumah tangga yang retak karna urusan ranjang yang tak lagi panas membuatnya sadar, jika memang hubungan itu sama pentingnya dengan cinta yang kerap dijadikan pondasi dasar dalam membangun sebuah rumah tangga. Bercinta adalah cara menyalurkan perasaan dalam hati dengan penyatuan dua tubuh, wanita kerap menganggap remeh hal itu begitu menikah, namun pria adalah makhluk yang selalu menggunakan s**********n lebih daripada hati dan otak mereka, hingga urusan ranjang adalah hal yang utama. Wanita harus berinovasi dan bisa memuaskan, walau kerap tak mendapatkan rasa puas dari permainan itu. Begitulah pria dengan segala sikap egoisnya. “Warna juga sangat berpengaruh. Biasa yang paling cowok sukai itu merah atau hitam,” ucap wanita lain menanggapi pembicaraan temannya. Almira yang tadinya memilih pakaian dalam berwarna putih, segera mengarahkan tangannya ke arah lain dan memilih warna yang tengah dibicarakan dengan kedua orang wanita di sampingnya itu. Sesekali ia mengintip, mencoba menyamakan pilihannya dengan para wanita itu agar tak salah memilih pakaian dalam. Almira tersenyum puas begitu melihat model yang diambilnya tak jauh berbeda dengan pilihan para wanita itu. Ia kembali menajamkan pendengaran dan mencuri lebih banyak info bagaimana cara menjadi wanita idaman pria. “Kemarin ... suamiku langsung nyerang aku waktu pakai lingerie model beginian. Langsung jadi singa yang siap nerkam,” ucap wanita itu sembari tertawa, Almira mengintip model lengerie yang tengah dibicarakan dan mengambil satu untuk dirinya. “Emang kita sebagai wanita itu harus berinovasi biar suami nggak jajan di luar ya, Jeung.” “Ho oh, Jeung ... takutnya suami kita bosan. Mereka punya fantasi luar tentang hal bercinta, jadi mau ga mau, kita harus bisa mengimbangin. Lagian ... kitanya juga jadi bisa terbawa suasana loh, Jeung. Jadi lebih b*******h juga kalau suami jadi ganas gitu.” Tawa mereka bersambutan. Almira tersenyum. Ya, ternyata apa yang dikatakan Jenny ada benarnya. Buktinya, bukan dirinya sendiri yang kalut karna hubungan rumah tangga yang mulai dingin. Kedua wanita yang ditafsir Almira lebih tua darinya saja berusaha untuk tampil beda dan memanaskan kembali ranjang pengantin yang mulai mendingin. Ya, kini tingkat kepercayaan Almira semakin meningkat. Ia akan mendapatkan suaminya kembali. Almira memilih beberapa potong pakaian dalam dan juga lingerie berwarna merah dan hitam. Berbagai jenis model dan juga bahan, lalu membawanya ke kasir Wajahnya terlihat begitu bahagia saat memikirkan reaksi suaminya yang mungkin bisa seganas singa seperti apa yang para wanita itu ceritakan tadi. Malam-malam mereka akan kembali memanas. *** Almira mematut dirinya di depan cermin, ia mengenakan lingerie yang dibelinya tadi siang di pusat perbelanjaan. Ia ingin mencoba pelan-pelan sebelum mengajak lelaki itu ke hotel. Dirinya sudah harus mulai memberikan suasana baru dalam kehidupan pernikahan mereka. Setelah memoles make up tipis pada wajah cantiknya, Almira berjalan ke ranjang dan mengambil ponsel di nakas. Ia ingin memberikan kejutan untuk suaminya malam ini. Siapa bilang jika hanya w*************a yang perlu terlihat seksi, istri sah pun bisa menjadi seseksi wanita lajang di luar sana. Ia akan membuktikan, jika dirinya masih sama menariknya seperti dulu. Almira akan membuat mata Demian kembali terbuka dan menyadari dirinya yang selama ini diabaikannya. Ia akan membuat lelaki itu menyesal karna tak memperdulikan dirinya. Pada dering ketiga, lelaki itu mengangkat pangilannya. “Mas .. pulang jam berapa?” “Kamu nelpon cuma mau nanya itu, Ra?” terdengar nada tak suka dari pria di seberang sana, namun Almira menguatkan hati. Ia akan menahan dirinya dan mengemis cinta lelaki itu kembali. Ia membunuh martabat dan juga egonya demi cinta yang begitu dirindukannya. “Aku hanya khawatir karna sudah jam delapan malam dan kamu belum pulang.” Almira dapat mendengar helaan napas gusar di seberang sana. “Mira. Hentikan semua kegilaan ini! Aku bukan anak kecil yang harus terus kamu pantau dan berikan jam malam.” “Bukan begitu maksudku, Mas,” cepat Almira melarat perkataannya agar suaminya tak salah paham, “aku nggak bermaksud memberikanmu jam malam.” “Ada kasus yang begitu penting, hingga aku selalu pulang malam. Tolong selama beberapa hari ini jangan ganggu pekerjaanku. Kalau aku belum pulang, nggak perlu dihubungi karna aku baik-baik aja, Mira. Aku hanya sedang sibuk dan benar-benar nggak bisa diganggu.” Almira tersenyum masam. Sebegitu sibuk, hingga lelaki itu harus marah padanya? Mata Almira berkaca-kaca, ia mengigit kuat bibir bagian bawahnya, mencegah air mata yang memberontak untuk segera dikeluarkan. Almira tak boleh menangis, ia telah berjanji untuk terus tegar demi mendapatkan cinta suaminya kembali. Jika bentakan dan nada penuh amarah membuatnya mundur, maka dirinya memang tak pantas dicintai. Tak mengapa, ia akan menguatkan hati demi mendapatkan cinta lelaki itu kembali. “Maafkan aku, Mas. Aku mengerti kesibukanmu, tapi setidaknya, kamu bisa mengirimkan pesan singkat, agar aku nggak merasa khawatir. Dulu, kamu sering melakukannya jika harus pulang malam. Dengan begitu, aku nggak akan menganggu atau menghubungimu, Mas.” Dulu, semuanya terasa sempurna. Yang ia inginkan hanyalah sedikit dihargai sebagai istri sah lelaki itu. Ia menginginkan cinta dan menuntut haknya sebagai istri bukanlah sebuah kesalahan besar, bukan? Dirinya ingin tak dianggap angin lalu. Padahal, dulu, lelaki itu kerap mengabari semua kegiatannya tanpa bertanya. Bahkan Demian yang selalu menghubunginya setiap saat, menanyakan perasaan dan juga kegiatannya hari itu, namun kini tak lagi sama. “Ya Tuhan, Mira ....” suara lelaki itu meninggi, “Kenapa kamu harus begitu merepotkan. Aku nggak ada waktu walau hanya untuk sebuah pesan singkat. Jadilah istri yang pengertian dan nggak lagi menekanmu. Apa yang kamu lakukan membuatku semakin muak dengan dirimu, Mira!” lanjut lelaki itu dengan amarah yang terdengar jelas. Almira menggenggam erat ponselnya, semakin menguatkan gigitan pada bibir bagian bawahnya, mencoba menghentikan getaran yang timbul karna pedih yang mulai menyesakkan d**a dan ingin dikeluarkan dalam bentuk air mata. Sungguh, berulang kali lelaki itu menghujam jantungnya dan hendak membunuh cinta yang ia jaga baik-baik, membuatnya tak bisa berhenti bertanya apa yang salah dengan pernikahan mereka. Almira memaksakan senyum, walau tahu lelaki itu tak bisa menyaksikannya. “Baiklah, Mas. Aku nggak mau lagi menganggumu. Hati-hati dan semangat bekerja,” ucap Almira dan panggilan segera terputus begitu Almira menyelesaikan perkataanya. Tak ada ucapan terima kasih ataupun ucapan sayang lainnya. Lelaki itu menganggap telponnya seperti panggilan tak penting yang seharusnya sejak awal diabaikan. Almira merebahkan tubuhnya di kasur, menekuk kedua kaki dan meringkuk sembari memeluk kakinya. Tangis yang sedari tadi ia tahan, jatuh dan tak bisa lagi dihentikan. Hatinya sakit, hingga dadanya sesak bukan main. Mengapa cinta bisa berubah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN