Rasti keluar dari kantor Aris dengan perasaan yang bercampur. Antara lega, juga geram. Betapa keluarga mantan mertuanya telah menyembunyikan banyak hal. Namun, memperlakukannya seolah dirinya hanyalah sampah yang dipungut dan didaur ulang menjadi sebuah hiasan di rumahnya. Selalu diungkit dengan alasan balas budi. “Sabar, satu bula lagi aku baru bisa bertindak, untuk sementara waktu, aku akan menerima apapun perlakuan mereka,’ ucap rasti dalam hati memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri. “mama sudah selesai?” tanya Raline setelah berlari menabrak tubuh rasti. “Sudah, Sayang. Habis ini, mau kemana, ayo? Mama turuti,” jawab Rasti sumringah. “Mau makan steak di tempat biasa itu, Ma. Kakak mau?” tanya Raline pada Nadine. Kakaknya hanya menjawab dengan anggukan. Rasti melirik jam di per

