Rasti berdiri mematung, usai Wening pergi. Ia terisak dengan satu tangan memegang d**a. Emosi dan lara yang dipendam, tumpah seketika. Tubuhnya jatuh ke lantai, tersungkur tanpa tenaga. Air mata menganak bagai air sungai. Tak ada lagi sesuatu yang harus dijaga. Selagi tidak ada yang melihat, seluruh rasa yang bergejolak harus dikeluarkan. Begitu pikirnya. Entah mengapa, Rasti sangat percaya dengan apa yang dikatakan ibu mertuanya kali ini. Firasat aneh akan kepergian Danang, terjawab sudah dengan informasi yang diberikan Wening. Setelah agak tenang, ia masuk ke dalam kamar. Memindai seluruh ruangan pribadinya. Tempatnya memadu kasih dan berkeluh kesah banyak hal dengan sang suami. Tidak ada penghianatan yang tidak menyakitkan. Meski itu dilakukan dalam keadaan Rasti tengah marah pada sa

