Kulajukan kendaraan roda dua matic menyusuri jalan yang penuh kenangan. Hingga tak kuat menahan sebuah sesak yang aku rasa, motor kutepikan. Aku kembali menelungkupkan kepala di atas kemudi. Ada sebuah sesal, mengapa aku dulu begitu mudahnya pergi, mengikuti seseorang yang tidak aku kenal sebelumnya serta asal usulnya. Setiap jengkal tanah yang aku lewati selalu terlihat kenangan semasa aku masih menjadi sosok yang sangat beruntung. Beberapa pohon yang berdiri di sepanjang jalan mengingatkanku pada saat aku masih berjalan bersama beberapa teman ketika berangkat ataupun pulang sekolah. Iya, jalan kaki. Karena sekolah kami terletak di jalan besar sebelum masuk jalan gang menuju komplek rumah tempat aku tinggal. Dulu, saat bulan puasa, kami sering berteduh di bawahnya. Bukan karena l

