Bab 9

1387 Kata
POV RASTI "Bukankah aku sudah pernah bilang? Kalau Bapak menyakiti Rasti, maka aku yang akan mencari keadilan untuknya." Ucapan pungkasan yang disampaikan Mas Danang membuat perasaanku terbelah menjadi dua. Di satu sisi, aku tidak lagi ragu terhadapku cintanya. Namun, di sisi lain, aku menjadi berpikir kalau ada sesuatu hal yang mereka sembunyikan dariku. Dengan langkah berjingkat, aku kembali ke peraduan. Mata ini sulit terpejam. Namun, selimut sengaja aku tarik hingga menyisakan ujung kepala saja. Kumiringan tubuh agar Mas Danang mengira kalau aku sudah tidur. Tak berapa lama, deritamu pintu terdengar. Lalu ditutup pelan-pelan. Dan, sebuah tangan melingkar memeluk erat tubuh ini. Sejak percakapan yang aku dengar antara Mas Danang dan bapaknya semalam, hati ini menjadi penasaran. Seakan ada sebuah bisikan untuk aku mencari tahu sesuatu hal. Namun, hal apa itu? Pertanyaan itulah yang selalu bersemayam dalam pikiran. Menjadi sebuah teka-teki. yang memaksaku untuk mencari tahu. Beruntung, tadi malam aku langsung masuk ke kamar dan kembali berbaring, sehingga Mas Danang tidak tahu kalau aku mendengar apa yang ia bicarakan dengan sang ayah. Seperti biasanya, rutinitas di pagi hari kami sarapan bersama anak-anak. Belum juga selesai nasi yang ada di piring di depan Mas Danang habis, telepon berbunyi berkali-kali. "Angkat dulu, Mas," perintahku. Dengan malas, pria yang telah bertahun-tahun hidup denganku itu bangkit. Dan menyambar benda pilih yang ia letakkan di atas kulkas. Sementara Nadine dan Raline, keduanya meneruskan makan. Aku memang selalu mengajarkan pada kedua anakku untuk tidak. berbicara saat makan. "Ya Allah! Jatuh dimana?" tanya Mas Danang histeris. "Di kamar mandi?" ujarnya lagi. Entah kenapa, aku sudah bisa menebak, orang yang dimaksud adalah ibu mertua. "Baiklah. Aku akan segera ke sana," ucap Mas Danang. Ia lalu menutup teleponnya. "Siapa, Mas?" tanyaku pura-pura tidak tahu. "Ibu." Dugaanku tepat. "Aku harus segera ke rumah Ibu. Kamu antar anak-anak ke sekolah, ya? Nadine, Raline, Papah ke rumah Eyang dulu. Kalian berangkat bersama Mama." Dengan terburu-buru, Mas Danang segera menyambar kunci mobil yang juga ia letakkan di atas kulkas. Kaki ini seperti terseret untuk mengejarnya. Hingga aku kini berada di belakang Mas Danang, tepat di tangga yang turun menuju garasi. "Mas," panggilku. Mas Danang menoleh. "Jangan khawatir! Aku akan pulang sebelum sore. Atau, jika memang Ibu memintaku menginap di sana, atau keadaan memaksaku menginap di sana maka, kamu akan aku suruh menyusul," ujarnya seakan tahu apa. yang aku khawatirkan. Usai berkata demikian, lelakiku pergi begitu saja. Sementara aku masih berdiri, menatap jalan kosong yang ada di hadapan sana. Entah kenapa, aku merasa separuh hatiku hilang, bila suamiku pergi ke rumah orang tuanya. Rumah yang juga di sana tinggal seorang wanita yang juga memiliki status sebagai istrinya. Kaki ini terasa berat untuk masuk. “Mah, ayo, kita berangkat.” Suara Nadine membuat anganku yang mengembara jauh, kembali. “Eh, iya, Mama panaskan kendaraan dulu,” ujarku gagap. Aku segera masuk dan memakai jaket, lalu menyambar kunci motor yang ada di atas kulkas. Iya, kami memang terbiasa menggunakan benda itu sebagai tempat menaruh barang agar tidak lupa. * Jarum jam terasa lebih lama bergerak. Berkali-kali aku menghubungi Mas Danang, tapi tetap tidak diangkat. Berkali-kali pula mengirimkan pesan, tapi tetap juga tidak dibalas. Apakah aku terlalu berlebihan bila mencemaskan suamiku? Begitu alam bawah sadarku berkata. Bukankah ia telah berjanji akan setia dan tidak akan memperlakukan Firna layaknya istri? Tapi, siapa yang bisa menjamin? Lagi-lagi, bisikan itu hadir. Aku mondar-mandir di ruang tamu, menunggu Mas Danang menelpon untuk memberi kabar. Namun, harapanku sia-sia. Hingga saatnya aku menjemput pulang Nadine dan Raline, suamiku tang kunjung juga menelpon. * Pukul empat sore, aku sudah menyerah menghubungi Mas Danang. Aku memilih membaca artikel bisnis yang ada di internet. Rasanya, aku harus mulai mengenali tata cara mencari uang. Karena apapun yang akan terjadi, kita tak pernah tahu. Seperti saat ini , aku tiba-tiba harus hidup dengan memiliki seorang madu. Layar gawai berkedip. Nama Mas Danang memanggil di sana. Seketika, hatiku berdegup kencang. Dengan tangan bergetar, kuangkat panggilan telepon dari lelaki yang sangat kucintai itu. “Halo, Mas,” sapaku. “Halo, Rasti. Maaf dari tadi pagi aku tidak sempat bermain handphone. Ibu harus dibawake rumah sakit. Dan ini sudah masuk ruang perawatan,” jelas Mas danang. “Mas danang sama siapa di sana?” tanyaku cemas. “Aku sama bapak, Ras. Kamu mau nyusul ke sini? Kalau iya, Nadine sama raline biar dititipkan Bibik,” ujar Mas Danang membuatku lega. Aku langsung mengiyakan apa yang dikatakan suamiku. Secepat kilat segera berkemas dan meluncur ke rumah sakit yang disebutkannya. “Ibu mendadak terkena serangan jantung. Untung masih bisa diselamatkan,” ujar Mas Danang saat pertama berjumpa. Ia menyusulku ke tempat parkir. “Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku. “Sudah mendingan. Ada Bapak di kamar. Ayo, kita ke sana,” ajak Mas Danang. Aku menurut saja. Sesampainya di ruang rawat inap VIP, aku mendapati Ibu terbaring lemah. Tatapan Ibu tidak seramah dulu. Entah karena lemah, atau hanya perasaanku saja. “Nang, kamu sudah menghubungi Firna?” Tiba-tiba Ibu berkata demikian saat kami baru berdiri di tepi ranjang, membuat perasaanku yang sempat baik-baik saja kembali bergejolak. “Belum, Bu,” jawab Mas Danang lirih. Ia tak sadar, kami berada dalam satu ruangan. Aku tentu masih bisa mendengarnya dengan jelas. “Hubungi, Nang. Nanti dia cemas memikirkan Ibu. Dia itu sangat khawatir terhadap kondisi Ibu. Jadi, kasih tahu dia, ya? Kamu ini lho, dari tadi tidak mau mengabari. Dia itu ya istrimu, kok kelihatannya ogah-ogahan gitu,” ujar Ibu uring-uringan. Aku melirik Bapak yang sedang membaca Koran. Beliau acuh saja tak mempedulikan kedatanganku. “Bu, Ibu kenapa bisa begini?” tanyaku berusaha mencairkan suasana. “Ya sakitlah, Rasti. Kalau tidak sakit, kenapa Ibu berada di sini?” jawabnya ketus. Mas Danang memegang tanganku berusaha menguatkan. “Nang, kabari istrimu, Firna,” sahut Bapak lembut tapi terdengar menusuk. “Hape Bapak mati. Kalau bukan kamu yang mengabari, siapa lagi?” lanjutnya lagi. Mas Danang terlihat salah tingkah, sebelum akhirnya menuruti keinginan orang tuanya. “Halo, Firna. Ini Ibu sudah mendapatkan perawatan. Kamu tidak perlu khawatir,” ucap Mas Danang. Aku yang beridiri di sampingnya mencoba menguatkan hati dan mata agar tidak turun airnya. Firna sepertinya tengah menjawab ucapan dari Mas Danang. “Bu, Firna ingin bicara ini.” Mas danang mengulurkan gawainya pada Ibu. Terdengar mertuaku begitu lembut berbicara dengan Firna. Membuat aku semakin merasa tidak berharga di tengah mereka. “Yasmin sudah makan? Syukurlah. Kamu juga jangan lupa makan, ya, Ibu sudah lebih baik. Doakan semoga cepat pulih, ya? Biar bisa kembali ke rumah,” “Yasmin nangis gak, Bu? Tolong tanyakan.” Bapak ikut menyahut. “Fir, ini Bapak tanya, Yasmin nangis enggak?” “Di-loudspeaker coba, Bu, biar Bapak dengar,” ujar Bapak lagi. “Nang, ini pencet speakernya,” pinta Ibu. Dengan ragu, Mas Danang melakukan apa yang diminta oleh wanita yang telah melahirkannya itu. “Halo, Bu, halo.” Suara Firna, aku sangat malas mendengar suara itu. “Iya, ini Ibu. Tadi lho, Ibu nyuruh mas-mu buat menghidupkan speaker. Kata Bapak biar dengar.” “Oh, iya, Bu. Yasmin enggak nangis, kok. Dia sedang menggambar.” “Syukurlah. Jaga rumah ya, Fir. Kamu kkalau takut sendirian bilang saja. Nanti biar Ibu menyuruh mas-mu, Danang menemani kamu di rumah.” Sakit. Itu yang aku rasakan. Namun, siapa yang peduli? Bapak meminta gawai dari tangan Ibu lalu mengajak Firna bercakap-cakap. “Dah, kamu jangan khawatir. Ibu-mu tidak apa-apa. Besok pasti bisa pulang. Itu tadi pagi Bapak belikan vitamin di kulkas buat kamu. Diminum, ya? Kamu kan sedang tidak enak badan.” Berkali-kali aku berusaha menelan saliva pada tenggorokan yang kering. Kaki ini hampir tidak kuat menopang tubuh. Obrolan mereka berikutnya, aku tidak ingin merekamnya. “Nang, kamu pulang, ya? Temani istrimu,” ujar Ibu. Lagi. Suara lembut itu terdengar menyayat. “Aku akan pulang, Bu. Ke rumahku. Aku punya rumah,” jawab Mas Danang tegas. “Danang! Adillah sebagai seorang lelaki.” Suara baritone Bapak membuat kepalaku yang menunduk, mendongak. “Firna membutuhkan kamu sekarang. Pulang dan temani dia. Dan untuk kamu Rasti! Jangan egois! Pernikahan antara Danang dan Firna sudah terjadi. Dia juga berhak untuk mendapatkan perhatian Danang. Jadi, berikanlah kesempatan pada Firna,” lanjutnya lagi. “Baik, Pak. Saya akan memberi kesempatan pada Mas Danang untuk menjaga Firna,” jawabku berusaha tegar. ‘Tapi, aku akan ikut ke sana. Sekaligus, ini akan kujadikan sebagai kesempatan untuk aku bisa mencari tahu adakah hubungan antara kalian dengan orang tuaku.’ Batinku berujar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN