Pagi harinya, Andin keluar kamar setelah mendengar mobil Ghidan pergi. Seperti yang dijanjikan sebelumnya, walaupun mereka tinggal satu atap, Andin pastikan Ghidan tidak akan pernah menemukan Andin selain di kamarnya. Pukul setengah delapan Andin keluar kamar, dia memilih untuk membawa bekal untuk sarapan di kantor karena tidak mungkin menghabiskan sarapannya di rumah, dia akan sangat terlambat. Di luar rumah, Pak Rahmad sudah menunggunya, seperti biasa dengan penampilan memukai khas seorang executive muda. “Selamat pagi Non Andin.” “Selamat pagi, Pak.” “Sudah siapkah anda menjalani hari yang luar biasa pagi ini?” “Tentu saja,” jawab Andin pasti. “Siap komandan, let’s go to the gooo, berangkaaat.” Andin tertawa melihat tingkah Pak Rahmad, selama perjalanan Pak Rahmad selalu menghibu

