“Telfon?” “...” “Telfon dari siapa?” “Dari kantor mas” “Kantor? Serius?” tanya Ghidan dengan senyum meremehkan. “Coba lihat” “Dari Dirga” Jawab Andin cepat. “Lihat ponselnya” Ghidan berucap dengan mimik wajah serius. Tangannya menengadahkan ke arah Andin yang sudah pucat pasi. Dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Dirga! Dia setia, hanya saja dia tidak menuruti Ghidan yang memintanya untuk menjauh dari Dirga. Yaa, bagaimana pun Dirga adalah sahabatnya dan mereka satu kantor dengan Dirga adalah bosnya, tentu bukan hal yang mudah untuk tiba-tiba menjauh. “Ndin.” Lagi-lagi Andin hanya bisa menurut, menyerahkan ponsel miliknya ke tangan Ghidan dengan wajah terpaksa. “Sandinya.” “Tanggal pernikahan kita.” Ada jeda yang di berikan Ghidan sejenak, seperti membeku tiba-tiba, lalu l

