Ghidan terhuyung saat berniat berdiri, lalu Sasa dengan sigap menahan tubuh Ghidan. Sasa membopong tubuh Ghidan. Dengan bantuan wanita itu, Ghidan akhirnya bisa sampai di mobil miliknya. Dia merasakan tubuhnya yang dimasukkan di kursi penumpang, lalu dia mencari posisi nyamannya sendiri. “Sasa antar pulang ya, Mas?” tanya Sasa. Ghidan mengangguk. Dia beruntung bertemu dengan Sasa. Dari sekian bar, Ghidan merasa Tuhan sedang baik dengannya karena masih dipertemukan dengan sepupunya. Bagaimana jika Ghidan tidak bertemu dengan Sasa? Bagaimana dia pulang? “Mas, tapi nanti mampir ke minimarket sebentar ya,” pinta Sasa. Ghidan kembali mengangguk, menyetujui apapun yang di inginkan wanita itu. Sasa berkenan mengantarkannya pulang itu sudah lebih dari sekedar cukup bagi Ghidan. Sasa mulai meng

