Ghidan baru saja memasuki lobby gedung tempatnya bekerja saat melihat wanita yang sudah cukup lama terlupa di dalam pikirannya. Wanita itu berdiri dengan pandangan kaku, matanya sembab menunjukkan kesedihan yang jelas kentara. Tentu saja, Ghidan sudah begitu brengssek menutupi statusnya selama ini. “Aku minta maaf,” ucap Ghidan berdiri di hadapan Nindhy. “Bukan itu yang mau aku dengar.” “Nin -.” “Aku pengen ngomong sama kamu, Mas.” Ghidan mengangguk. Laki-laki yang berbalut suite mahal itu membawa Nindhy masuk ke dalam ruangannya. Mempersilakan wanita itu duduk di sofa yang terletak di tengah ruangan. “Sudah lama banget aku nggak ke sini, dan ruangan ini masih tetap sama.” “Kamu tahu aku bukan tipikal orang yang suka berganti-ganti suasana.” “Setia, begitu maksudnya?” tanya Nindh

