Gundah

2039 Kata

Jamal tersenyum puas meskipun dia tidak bisa mengucapkan selamat malam kepada Juwita secara lisan. Dia lantas mengetikkan kalimat itu di ruang obrolan mereka. Dia menunggu beberapa menit. Tidak ada jawaban dari istrinya. Begitu pula denga status pesan itu, belum terbaca. Helaan napas dalam terdengar dari pria itu. Punggungnya sedikit merosot. Dia merapatkan bibir hingga lesung pipinya tampak jelas. Dia bisa merasakan setiap degup kencang di dalam dadanya yang terus memukul. Pikirannya menerawang. Ini kali kedua dia merasakan perasaan seperti ini. Rasa bahagia dan eforia yang tak bisa dia jelaskan dengan gamblang kecuali dengan satu kata, cinta. Lagi-lagi helaan napas itu keluar dari Jamal dengan berat. Seberat hatinya yang tiba-tiba saja terasa sakit. Dia memejamkan mata. Selalu begini.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN