Arjuna menghampiri Jamal yang terduduk sambil tertunduk sendirian di kursi ruang tunggu. Wajah kakaknya itu terlihat kusut. Dia jadi tidak tega melihatnya. "Kak," panggilnya yang langsung mendapatkan respons dari sang kakak. Jamal menoleh. Dia memaksakan sebuah senyuman untuk menyambut pria yang sudah duduk di sebelahnya. "Sudah beres semuanya?" Arjuna mengangguk. "Syukurlah. Om Dillah juga udah tahu tapi Om belum bisa ke sini. Om ada acara yang harus dihadiri. Dia, kan, juga termasuk dari pemegang saham yang terbesar di perusahaan Hanasome. Mereka ada rapat hari ini." Jamal mengangguk paham. "Kakak nyuruh Jevano ke kantin?" "Dia sendiri yang menawarkan diri. Kenapa? Kamu ketemu dia di jalan?" Kepala Arjuna terangguk. "Iya. Kakak lupa, ya, enggak ngasih dia uang?" Mata Jamal meleba

