Rumah Baru

1824 Kata

Malamnya, Jamal sekeluarga benar-benar pindah rumah setelah selesai berkemas. Tuan dan Nyonya Anggari melepaskan kepergian mereka di depan rumah. "Sering-sering main ke sini, Jevano," pinta Nyonya Anggari sambil memeluk cucunya. Jevano mengangguk. "Iya, Nek." Juwita tersenyum melihat mamanya yang akur dengan anaknya. Entah apa yang sudah dilakukan papanya saat berpergian dengan sang mama hingga saat pulang sudah berubah seperti ini. Dia jadi ingin meminta saran dari papanya, 'kiat-kiat untuk menakhlukkan hati orang supaya bisa luluh'. Karena dia sangat membutuhkannya untuk meluluhkan hati Jevano. Astaga, kalau diingat lagi, dia jadi nelangsa. Dia kira perlahan, Jevano akan mencoba memanggilnya 'bunda' atau paling tidak memberinya wajah ceria seperti sekarang ini. Nyatanya tidak. Bahk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN