Arina menyeret Jevano ke sebuah ruangan di pojok lorong yang jarang dilewati oleh orang. Jevano hanya menurut saja dan membiarkan badan berototnya dibawa oleh Arina ke tempat tersebut. Gadis itu membuka pintu dan memasukkan Jevano dan dirinya ke sana. Jevano melihat ke sekeliling. Ruangan tersebut masih mempunyai meja dan kursi. Kursinya dibalik di atas meja. Udaranya pengap dan banyak debu yang bertebaran di atas sana. "Hatchiing!" Jevano bersin. Dia mengangkat bajunya bagian depan untuk menutupi hidung dan mulutnya. "Ngapain ke sini?" Arina menghadap Jevano. Dia sedikit mendongak. "Aku pengin jelasin sesuatu ke kamu, Jev, masalah aku dan Alvaro." "Kenapa?" Suara Jevano terdengar sumbang setelah bersin dan tertutup bajunya. Dia sentrap-sentrup. "Kamu jangan marah ataupun jangan ngamb

