Juwita tidak percaya saat melihat pemandangan di depannya. Ruangan yang biasanya terlihat rapi itu menjadi seperti kapal pecah. Sudah tidak berbentuk. Bahkan sejenak, dia lupa bahwa anaknya adalah pemuda yang rajin membersihkan kamarnya. "Astaga, Jevano. Kenapa kamu berantakin semuanya kayak gini?" tanya Juwita sambil melangkah ke dalam kamar. Dia mendekati anaknya dan duduk di depan pemuda itu. Dia menghadapkan koper yang terbuka lebar dan berisi banyak barang itu kepadanya. Dia tidak habis pikir dengan isiannya yang sudah seperti toserba. Ada banyak baju dan barang yang tidak berguna. "Kalau camping, ya, enggak butuh yang namanya baju sebanyak ini, Jevano. Kamu emangnya mau minggat dari rumah ini? Enggak, kan?" Juwita mengeluarkan baju-baju Jevano serta beberapa celana yang ditata semb

