Kesal

1096 Kata
Hari ini, tepat Hari Sabtu merupakan hari yang dinantikan banyak karyawan untuk menikmati libur akhir pekan. Bagi Laras, menghabiskan waktu libur berada di rumah sebuah pilihan yang tepat. Berbeda dengan sekarang, Laras mendapatkan libur di Hari Sabtu bersama dengan Hafid. Secara mendadak, Hafid mengajak Laras pergi ke suatu tempat untuk menikmati hari libur. Sebenarnya Laras sudah menolak permintaan Hafid, namun dia tiba-tiba saja datang ke rumah dan meminta izin pada Ibu. Tentu saja Ibu mengizinkan Hafid membawa putrinya pergi bersama. Sedikit rasa kesal, karena Laras sudah berencana ingin bermalas-malasan di kamar, hilang sudah. "Kan masih ada hari libur lainnya," Ujar Hafid. Mereka sudah nangkring di atas motor milik Hafid, berkendara menuju warung makan yang sedang viral di media sosial. "Mas bakal ngajak ke tempat yang kamu suka." Laras masih diam. Namun, kedua tangan melilit ke tubuh Hafid dikarenakan motor yang ditumpangi begitu tinggi, takut terjungkal ke belakang. Hafid diam-diam mencuri pandangan lewat spion sebelah kiri. Terlihat jelas wajah Laras sedang cemberut. Spontan, dia tersenyum tipis dan memfokuskan pandangan ke depan lagi. *** Dua piring nasi putih, dua mangkuk soto ayam, dan beberapa lauk lainnya sudah siap di atas meja. Laras dan Hafid duduk saling berhadapan, menatap pemandangan sawah tepat di samping mereka duduk. Sembari menunggu minuman datang, mereka menceritakan kenangan saat kecil. Bermain di sawah menjadi salah satu tempat favorit bagi Hafid. Tidak perlu menunggu lama, dua gelas es jeruk sudah menghiasi meja mereka, menjadi pelengkap. Laras yang sudah tidak sabar mencicipi, dan belum sarapan, langsung menyendok kuah soto. "Wah, kuahnya enak banget." Laras memekik, sambil tersenyum lebar. Kemudian, dia menyendok nasi, mencelupkannya ke kuah. "Ayo dimakan, keburu dingin." "Kamu suka?" Tanya Hafid, lega berhasil membuat Laras bersemangat. Laras menganggukkan kepala. Lalu, mereka memilih tidak banyak bicara. Fokus dengan makanan di depannya. *** Laras membalikkan garpu dan sendok, menyilangkan juga. Wajahnya melirik gorengan yang tersisa satu di atas piring. Lantas, dia menoleh ke arah Hafid. Pria itu menikmati segelas es jeruk yang tinggal separuh. "Ini buat aku ya, Mas?" Tanya Laras, tanpa basa-basi. Sorot mata mengarah pada gorengan yang sudah diincar. Hafid menggeleng, tidak setuju. Sejurus kemudian, tangannya mengambil gorengan. Membuat Laras merengut, lagi. Hafid tertawa, berusaha menahan diri tapi tidak berhasil. Tidak ingin pujaan hati larut dalam kekecawaan, Hafid segera memasukkan gorengan ke mulut Laras. Laras terkejut, langsung membuka mulutnya sangat lebar. Lagi, Hafid tertawa geli melihat tingkah Laras. Sayangnya, ditengah kebahagiaan itu ponsel Hafid berdering. Terpaksa, Hafid mengangkat panggilan telepon itu. "Fid, tolong bantu aku dong. Motorku macet nih." Disana terdengar suara Bagus samar-samar, dan khawatir. "Kamu dimana, Gus?" Tanya Bagus. Jantung Laras berdebar mendengar kalimat Hafid. Pertemuan Laras dengan Bagus berakhir tidak baik-baik saja. Untuk bertemu lagi, mungkin Laras tidak sudi sama sekali. "Aku di Pasar Pingit, tolong dong." "30 menit lagi sampai." Sahut Hafid, terdengar lantang. Setelah menutup percakapan di telepon, Hafid beranjak berdiri. "Kenapa Mas?" Laras panik melihat Hafid berdiri secara tiba-tiba. Dia mengikuti gerakan Hafid sambil memasukkan barang-barang ke dalam tas selempang. "Bagus lagi ada musibah. Motornya macet." Sahut Hafid, memasukkan ponsel ke saku celana. "Ayo kita bantuin dia, kita harus kesana." "Tapi aku pulang aja deh, Mas anterin aku pulang dulu." Laras malas harus bertemu Bagus. "Tapi kan arahnya beda. Nanti kasihan Bagus nunggu lama." Jelas Hafid. "Udah cepet, ayo." Hafid melangkah terlebih dahulu, meninggalkan Laras. Terpaksa Laras mengikuti kemauan Hafid kali ini. Sangat berat untuk bertemu dengan Bagus. Si paling menyebalkan. *** Setelah satu jam mencari keberadaan Bagus, karena dia tidak tahu nama lokasi, sehingga menyulitkan Hafid dan Laras menemukannya. Mereka kini sudah berhasil menemukan.. Laras dan Hafid melihat Bagus duduk di tepi jalan, di trotoar. Tampak motor Supra yang ditumpangi Bagus tergeletak di depannya. Cekatan, mereka berdua mendekati Bagus yang tampak lesu dan lelah. "Hei?" Sapa Hafid, setelah mematikan mesin motor. Dia segera turun dan diikuti Laras dari belakang. Bagus yang semula memegangi sebelah kepala, terkejut melihat kedatangan Hafid bersama Laras. Bagus sedikit kesal karena kejadian kemarin, dimana dia bertengkar hebat dengan Laras. Hafid yang tidak ingin melihat mereka bermusuhan, segera mencairkan suasana. "Aku tinggal dulu, kalian tunggu disini." Ucap Hafid, akan menaiki motor tapi digagalkan Laras. Tangannya menahan pergelangan Hafid. "Aku ikut dong." Laras memelas. Kedua alis berkerut. "Aku nanti bawa montir, kamu tunggu disini sama Bagus." Sahut Hafid. "Aku enggak bakal lama, sayang." Hafid meyakinkan pada Laras agar wanita itu tidak perlu khawati. "Oke." Laras pasrah. Lalu, mencari tempat teduh untuk duduk. Laras menoleh, tapi tidak ada tempat teduh lagi. Meskipun ada, itu sangat berdekatan dengan Bagus. Laras akhirnya duduk di tempat panas. Tubuhnya terkena langsung sinar matahari. Bagus menghela napas panjang, rasa kesalnya pada Laras perlahan hilang. Dia segera menegakkan tubuh, lalu berdiri di depan Laras. Laras menaikkan sebelah alis, tidak suka keberadaan Bagus. "Cepat duduk disana." Bagus mengarahkan kepala ke tempat yang teduh. Baru kali ini Laras melihat wajah Bagus serius. Meskipun serius, terlihat ketampanan yang diakui oleh seorang Laras. Laras melirik sekilas ke arah Bagus dengan tatapan tidak suka, lalu mengabaikannya. Laras menghela napas panjang, mengambil ponsel dari dalam tas. Tiba-tiba Bagus menarik pergelangan tangan Laras, membuatnya berdiri tegak. Tak perlu menunggu lama, Bagus memegangi kedua bahu Laras, kemudian mendudukkan di tempat teduh. "Jangan sok cuek deh." Ucap Bagus, nada menggoda. "Maksudnya apa?" Laras tidak terima oleh perkataan Bagus barusan. "Jangan sembarangan menilai orang yang belum dikenal sama sekali." "Tapi aku udah kenal sama kamu," Bagus menjawab dengan nada acuh. "Aku enggak kenal sama kamu." Laras mengelak dengan nada kesal. "Kemarin kita udah kenalan." Bagus memainkan kedua alis. Akhirnya Bagus memaafkan sikap Laras kemarin. Rasa suka pada Laras muncul, lagi. "Lupakan." Sahut Laras. Dia langsung fokus pada layar ponselnya. "Kalau kamu masih ngambek, silakan duduk di tempat panas." "Kamu ngusir aku? Bukannya kamu yang nyuruh aku duduk disini?" Laras beranjak, tapi sialnya Bagus mempermainkannya. Bagus menahan kedua bahu Laras agar tetap pada posisi tadi. Duduk di tempat teduh. "Maksudnya apa sih, ya? Jangan main-main sama aku." "Gimana kalau aku maunya main-main sama kamu?" "Ngeselin banget kamu." Laras membuang wajah, menoleh ke segala arah. "Jangan asal ngomong deh." Laras beranjak berdiri. "Enggak usah sok akrab sama aku!" Tambah Laras. "Mau kemana?" Tanya Bagus penasaran. Kali ini Laras benar-benar tidak menjawab, merasa muak akan sikap Bagus padanya. Bahkan, Laras semakin membencinya. "Eh, nanti kalau Hafid nyariin kamu gimana?" Bagus berhasil menangkap tubuh Laras, meraih bahunya agar tidak menjauhi ataupun meninggalkannya sendiri. Laras tidak menjawab lagi. Dia berdiri sambil memainkan ponsel. Menganggap Bagus tidak ada sama sekali, membiarkan pria itu berbicara seorang diri. Selang beberapa menit, Ojek Online datang menghampiri Laras, lalu membawanya pergi meninggalkan Bagus sendirian. Bagus mendengus kesal, merasa dikhianati oleh Laras meskipun mereka tidak berhubungan baik. Setidaknya, Laras menemaninya sampai Hafid datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN