Seminggu kemudian....
Hari ini, hari Senin, pengumuman siapa yang diterima jadi Tim Survei. Ada beberapa Tim yang bertugas di beberapa lokasi survei yang berbeda. Selesai kuliah, Leara langsung menuju rektorat dengan antusias. Udah feeling bakalan keterima masuk Tim Survei. Pokoknya harus dapat.
Kayaknya udah ditempel itu kertas pengumuman. Benar saja, udah banyak yang datang melihat hasilnya. Ada beberapa anak yang lunglai karena gak keterima, ada juga yang udah tukeran nomer HP karena satu Tim. Heran sama anak-anak itu. Kok bisa sih, cepet banget kenalan sama anak yang baru sekali ketemu. Bisa langsung akrab lagi ngobrolnya.
Nama Leara Andana Putri ada di daftar pengumuman Tim Survei dengan lokasi Kabupaten Jepara, Kecamatan Welahan, Desa Gedangan. Ada satu nama lagi tertera di desa yang sama. Gigih Hadikusumo anak Fakultas Teknik. Di bagian bawah daftar nama surveyor, ada pengumuman besok Selasa jam 09.00 kumpul di GSG untuk pemantapan tugas dan tata caranya. Baiklah kalau begitu. Besok kebetulan jadwal kuliahku siang jam 13.00 cuma praktikum di lab. komputer. Aman...
Selasa, jam 08.45 WIB di GSG...
Leara datang sebelum jam 09.00 WIB. Kata motivator kalau janjian harus datang sebelum jamnya. Itu ciri-ciri orang sukses. Jadilah Leara membiasakan diri setiap kali ada janjian, sebisa mungkin datang tepat waktu. Kalau jalan kaki juga suka niru gaya orang Jepang yang cepat tanggap gitu. Gak mau gaya slay ala-ala macan luwe kalau istilah Jawa. Sudah ada beberapa anak yang datang. Wah, calon-calon orang sukses ini yang pada datang gasik, batin Leara.
Seperti biasa, Leara menyendiri milih duduk paling pojok kanan depan. Gak kayak yang lain, milihnya duduk belakang. Dia selalu ambil posisi paling depan, yang gak terlalu populer alias khusus untuk anak pendiam. Anak seperti Leara ini terbiasa membuat benteng pertahanan yang kokoh, biar gak ada yang ngajak bicara apalagi kenalan, apalagi tukeran nomor WA. Gak bakal ada.
Tiba-tiba ada suara datang tepat di samping Leara, "Maaf Mbak, boleh ijin duduk di sebelah Mbaknya? Masih kosong kan?"
Tanpa menunggu jawaban dari Leara, itu orang udah main duduk aja.
"Kenalin nama aku Gigih, anak Teknik Lingkungan. Mbak namanya siapa?"
Seketika Leara ingat, kayak nama yang ada di papan pengumuman. Satu desa. Jangan-jangan ini orangnya.
"Aku Leara. Anak MIPA. Apa masnya dapat tugas di Welahan Jepara? Desa Gedangan?", tanya Leara.
"Iya kok tahu sih. Jangan-jangan kita satu Tim ya. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau kabulkan doaku, kalau beneran kita satu Tim.", ujar Gigih.
"Emangnya doa kamu apa?", tanya Leara.
"Doaku dapat timnya perempuan, terus sukanya pakai gamis.", jawab Gigih.
"Doa yang cukup aneh. Tapi kenapa malah jadi doaku yang gak dikabulkan ya. Kenapa doamu?", kata Leara.
"Memangnya doamu apa?", tanya Gigih.
"Doaku dapat temen setimku perempuan yang sukanya pakai gamis. Tapi malah dapatnya kamu.", jawab Leara dengan sungguh-sungguh.
POV Leara
Oh ini beneran anak yang satu Tim sama aku. Hadeh sepertinya anaknya selengekan. Mana banyak ngomong lagi. Kalau dilihat dari banyaknya orang yang nyapa dia, pasti dia anak aktivis. Tuh kan, ada yang nyamperin pakai tepuk ala-ala anak nongkrong pula. Gak cowok doang kayaknya yang akrab, anak cewek juga banyak yang udah kenal sama Gigih. Cakep-cakep juga temen cewek yang nyapa dia. Noh, ada lagi yang nyapa. Gimana nanti aku, yang kayak katak dalam tempurung ini, bisa gak ya kerja bareng anak gaul macam dia. Apa akan dipandang sebelah mata, atau bahkan gak mau kerja bareng? Mulai deh over thinking keluar dan seperti biasa aku merasa jadi perempuan yang teramat jelek apalagi dibandingkan dengan cewek-cewek yang barusan nyapa Gigih. Langsing, tinggi, putih, supel dan terlihat smart. Khas gaya anak aktivis. Dalam hati aku berdoa semoga saja 2 hari survei cepat berlalu. Cepat selesai. Jadi aku bisa kembali ke sarangku yang nyaman. Mana Mita gak ada disini.
***
Dosen pembina kegiatan survei sudah hadir. Acara pengarahan dan pemantapan cara kerja survei sudah dipaparkan. Survei dilakukan hari Kamis dan Jumat minggu ini. Sabtu dan Minggu rekap hasil. Dan Senin minggu depan hasil dari survei ini harus diserahkan ke dosen pembina. Survei ini memang harus ke lapangan alias harus pakai bukti foto dan data diri orang yang disurvei biar hasilnya valid. Gak fiktif. Survei tentang apa sih ini. Ternyata tentang dampak gadget pada anak-anak di daerah pedesaan. Karena gak hanya anak kota yang udah kenal HP, anak-anak di daerah pelosok juga. Sekalian disurvei juga peraturan orang tua mengenai penggunaan HP terhadap anaknya.
Tiap desa ada dua orang surveyor biar ada yang ngawal. Kalau ada masalah di lapangan, bisa saling bantu. Terus pas rekap hasil survei juga bisa saling ngecek. Makanya dibikin sepasang gitu.
Baiklah aku profesional kok. Gak ada insecure selama pekerjaan berlangsung. Kalaupun ada, bisa aku pendam sendiri, gak usah diceritain ke siapapun. Bikin ribet nanti. Siapa tahu aku bisa jadi kurus karena harus panas-panasan survei orang ya kan. Kalau gosong nanti tinggal maskeran. Kadang aku heran sama diri sendiri, kok muncul keberanian disaat yang tepat. Seolah aku ini orangnya PD luar biasa. Kalau aku amati, bahkan gak ada anak MIPA yang daftar kegiatan ini. Cuma aku yang daftar dan keterima. Tapi semakin gak ada yang kenal, biasanya aku semakin PD. Aneh bukan?