Esok harinya aku ke rumah Bintang.
"Hai" sapa bintang. Ia mengajakku masuk dan menuju ke ruang belajar, di ruangan itu ada adiknya sedang bermain game dengan headphone menempel di telinganya. Ia melepaskan sejenak, menyapaku dan memakainya kembali.
"Aku mau ngomong sesuatu," kataku
"Oke, ngomong aja"
"Kayaknya aku nggak bisa ngomong di sini deh", aku melirik ke adiknya yag membelakangi kami dengan headphone di telinganya
"Dia nggak bakal denger apapun, tenang aja"
"Well," aku menghela nafas, mencoba merangkai kata-kata di kepalaku, tapi yang keluar hanya, "let's try"
"Try what?"
"Pacaran," aku memalingkan pandanganku ke sekeliling ruangan, tak berani menatapnya. Rasanya gugup menunggu reaksinya.
"Aku cuma bilang aku suka sama kamu, ak nggak pernah bilang mau ngajak kamu pacaran." Mendengar itu aku bingung harus bereaksis seperti apa, aku jadi salah tingkah danmenggaruk-garuk belakang telingaku, "Oh, oke, sorry my mistake. Aku pikir. . Mm.. Sorry aku minta maaf bgt" aku beranjak dari tempat dudukku. Bintang berdiri sambil tersenyum, memegang kedua tanganku dan berkata sambil terkekeh, "Hei, aku cuma bercanda". Ia memelukku dan berkata, "Thank you, i love you". Bintang melepas pelukkannya dan memandang ke arahku tersenyum. Ia lalu mengambil kalender di mejanya dan menandai tanggal itu dengan tanda hati.
Tiga minggu berselang. Aku sering ke rumah Bintang setelah pulang sekolah. Kedua orangtuaku bekerja, dan kakakku sering kali sibuk dengan tugas kampusnya. Adanya Bintang, pacarku, hehe, membuatku tidak kesepian. Aku tidak berani membawanya ke rumah karna ibuku bisa sangat bersikap panik berlebihan kalau tahu aku bawa laki laki ke rumah. Karena di rumah Bintang selalu ada nenek dan ibunya aku merasa lebih nyaman di rumahnya.
Suatu hari, kami sedang belajar kelompok berempat di ruang belajar, dan kebetulan adik bintang, Devan ada di ruangan itu juga. Saat kami sedang mengerjakan tugas, Ibu Bintang memanggilnya, "Bin, ada Ella tuh nyari kamu".
Ella? siapa tuh? nama perempuan kan itu?. Bintang kemudian keluar kamar. Adiknya berkata, "Kekeh banget tuh cewek". Aku menoleh dan bertanya, "Cewek siapa?". Devan memutar kursinya ke arahku, "Ella, anak angkatanku, minggu lalu diputusin sama mas bintang, tapi tetep aja ngejar-ngejar. Sampai nanya-nanya ke aku mulu alamat kami yang baru. Jangan bilang ke mas ya kalo ak yang kasih tahu ke Ella"
"Sebentar, minggu lalu? Bukannya kalian berdua udah pacaran 3 minggu?," tanya Mira padaku
"Loh?! Kalian pacaran? Bukannya cuma temenan?," tanya Devan terkejut
Aku hanya diam dan keluar ruangan, tanpa sengaja aku mendengar percakapan nenek dan ibu bintang, neneknya berkata, "Syukurlah kalo dia datang lagi, ibu lebih suka sama perempuan itu lebih kaya, lebih cantik daripada anak tetangga kita itu, kalau si Athena itu orangtuanya aja nggak pernah ada di rumah, pasti nggak dididik tata krama, dia aja main terus ke rumah laki-laki". Ibu Bintang hanya diam mendengarkan nenek berbicara, saat beliau berbalik badan ia melihatku berdiri di depan pintu. Beliau menatapku canggung, aku mencari alasan, "Mm...Bintangnya mana ya tante?, ada barang saya kebawa bintang waktu di sekolah, saya harus pulang sekarang".
"Oh ya, duh Bintangnya masih ada tamu, kamu ambil sendiri aja ya, mu..mungkin ada di kamar, tas sekolah, iya maksudnya tas sekolahnya di dalam kamar, masuk aja," Ibu Bintang terbata-bata dan menunjuk jarinya ke arah kamar Bintang
Aku masuk ke kamar, mondar-mandir mencari barang yang tidak ada. Tak lama Bintang masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Kenapa ditutup, nanti ibu dan nenek mikir yang enggak-enggak," aku terkejut dan berlari ke arah pintu. Belum sampai ke pintu Bintang segera menghadangku, ia memegang pundakku, diam dan kemudian memelukku. "Ada apa?," tanyaku.
"Maafin nenek ya". Ternyata Bintang juga mendengar semua perkataan neneknya.
"I'ts okay" Aku menepuk-nepuk punggungnya.
Aku melepaskan pelukkannya dan bertanya, "Siapa cewek itu?, Devan bilang kalian baru putus minggu lalu"
"Aku..itu.. Bener, tapi..". Kegagapan bintang membuatku semakin yakin mungkin tidak seharusnya aku bersamanya. Aku keluar kamar dan berlari pergi
Di teras rumah aku melihat perempuan cantik, berbadan tinggi dengan rambut bergelombang panjang terurai mondar mandir terlihat gusar , "Ella?," sapaku. "Ya?," dia menoleh ke arahku. "Duduk lah, tenangin diri kamu ya, bicara baik-baik dengan Bintang, aku rasa dia bakal lebih mau mendengarkan kalau kamu tenang"
"Oke," dia duduk sembari menghela nafas panjang, "Terimakasih ya", jawabnya sambil tersenyum.
Aku melihat Bintang mendekati pintu, aku kembali berlari, pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar dan menangis. Kakakku masuk ke kamar, "Dek ada Bintang tuh," dia melihatku menangis, "Bagian mana yg mau kakak pukul?"
"Jangan, bentar lagi ak ke depan, suruh dia tunggu". Aku menyeka air mataku, dan keluar menemui Bintang yang sedang duduk di teras.
Melihatku dia segera bangun dari kursi dan menghampiriku. "Please, jangan tinggalin aku. Aku udah milih kamu, ak tinggalin dia buat kamu"
"Kamu pikir kamu bisa seenaknya kaya gitu ke cewek! Pilih yang kamu suka terus yang lama kamu buang gitu aja, kita bukan baju di etalase toko Bin, yang bisa kamu beli sesukamu terus kalau udah jadi milik kamu terserah kamu deh mau dipake atau enggak"
"Bukan gitu, aku udah minta putus dari lama, tapi dia nggak pernah mau, dia selalu ngerasa aku nggak bakal dapetin yang sehebat dia, waktu aku bilang ke dia aku suka sama kamu dia mutusin aku dan ngancam kalau aku bakal nyesel, tapi nyatanya aku nggak nyesel. Aku ngerasa beruntung punya kamu"
"Beruntung? Tahu apa kamu tentang aku, kita baru pacaran 3 minggu"
"Iya, tapi kan hampir 1 tahun lebih kita temenan, kamu selalu dengerin aku, kamu selalu mau bantu aku kalau kesulitan selama kita kelas online, kamu selalu ramah dan baik ke semua orang, kamu bahkan support aku waktu aku bilang mau ikut OSIS sedangkan semua orang ngetawain keputusanku dan mandang aku cuma sekedar Bintang yang konyol, tukang ngebanyol. Mungkin kamu nggak sadar tapi kamu yang bikin aku kaya sekarang"
"Gimana aku bisa yakin kamu nggak bakal perlakuin aku kaya perlakuan kamu ke Ella? Gimana kalau suatu hari kamu harus lihat sisi jelek aku dan ada cewek yang lebih baik memperlakukan kamu dibanding aku, apa kamu bakal buang aku juga?". Bintang terdiam.
Waktu jeda yang dia ciptakan membuat aku berpikir mungkin benar aku akan dibuang suatu hari nanti. Diamnya Bintang menandakan ada jawaban 'iya' di kepalanya tapi dia tidak mungkin mengatakan itu. Atau mungkin ada jawaban 'tidak tahu', yang berarti dia tidak benar-benar mengenalku dan merasa suatu hari nanti akan muncul sisi dari diriku yang tidak ia sukai. Dua-duanya bukan alasan yang kuat supaya aku melanjutkan hubungan ini. Pada akhirnya aku memintanya pergi dan memikirkan semuanya baik-baik.
Awalnya dia tidak mau pergi, hingga kemudian kakakku keluar, "Pulang aja dulu, dinginin kepalamu, pikirin baik-baik, adikku bukan barang, kamu harus pikirin perasaan dia juga". Bintang pun akhirnya pergi.
Aku masuk ke rumah, mengekor di belakang kakakku
"Mau ngeband bareng?," tanya kakakku. Aku pun mengangguk.
Ayah kami sangat support apa yang kami sukai di luar akademik. Karena kami suka main musik beliau membuatkan ruangan kedap suara supaya kami bisa menjadikannya studio musik. Kecil memang tapi alat musik kami cukup lengkap.
Aku masuk ke studio dan ternyata ada dua teman kakakku yang sedang ada di dalamnya. Salah satu pria di belakang drum menatapku, "Adikmu mau ikut latihan?". Juno, cukup populer di kalangan cewek-cewek, karena tampangnya yang lumayan ganteng dengan rahang tajamnya, kulit putih, dan rambut yang aku rasa tidak perlu pakai pomade pun sudah rapi. Aku sudah mengenal mereka sejak aku SMP, saat itu mereka sudah SMA. Tidak pernah sekalipun kakakku memperbolehkan aku berinteraksi dengan mereka. Baru hari itu. Bobi vokalis, Juno drummer, Robin di bass, dan kakakku Alan, di gitar.
"Nggak usah latihan lah, have fun aja kita hari ini, Bobi juga nggak bisa dateng kan, biar adikku aja yang nyanyi hari ini, kalian siap-siap aja tutup kuping ya," ledek kak Alan
"Iya deh yang suaranya bagus, kamu aja lah yang nyanyi, aku main gitar, lagian kamu juga tau kan suaraku selalu melenceng dari nada," gerutuku
"Haha enggak selalu kok, coba aja, teriak sesuka kamu, luapin semua emosi negatif kamu," kak Alan menepuk-nepuk pundakku
"Huh, gara-gara kamu nyuruh aku nyoba pacaran, liat kan endingnya sekarang, cinta pertama dan pacar pertamaku kandas dalam waktu singkat".
"Halah, santai aja kali, baru juga sekali. Lagipula belum tentu itu ending kamu kan, hidup kamu masih panjang sweety," kata Juno sambil menatapku
"Sweety, pampers kali ah" jawabku ketus. Akupun memegang mic dan kami mulai bersenang-senang. Aku harap telinga mereka baik-baik saja sepulang dari rumah kami.