Motor kebanggaan Arkan sudah berhenti didaerah perkarangan gedung tua, ia segera turun dari motor dan mengulas senyumnya lebar begitu mengetahui bahwa mobil sport milik Dika sudah terparkir lebih dulu didepan sana. Ternyata lelaki itu tidak sepengecut yang ia banyangkan. Arkan segera berjalan cepat memasuki gedung tua itu, langkahnya diperlambat saat ia lihat Dika tengah duduk dikursi yang berada ditengah-tengah ruangan lantai 2 itu. Setelah dekat dengan jarak Dika, Arkan menepukkan tangannya sambil tertawa menyeringai. "Gue bersyukur lo udah tobat dari kepengecutan lo itu." sahut Arkan setelah memberhentikan tepukan tangannya. Dika sedikit terkejut, ia berdiri lalu berbalik badan. Tepat sekali. Santapannya sudah berada didepan matanya, persis dan ia tidak mungkin salah lihat. Itu benar

