“Tolong lepaskan saya!” Sebenarnya Aika enggan melepaskan pegangannya pada cowok galak tukang serobot antrian itu, tetapi perutnya udah sakit banget. Dia ingin segera dapat obat. Capek kalau harus mondar-mandir ke kamar mandi padahal udah nggak ada lagi yang bisa dikeluarkan. “Aduh!” Aika menekan perutnya hingga terbungkuk. Badannya kembali tegak ketika cowok itu menanyakan siapa namanya. “Mas mau modus sama saya? Nggak lihat saya sedang kesakitan gini? Masnya berani juga ngerayu padahal ada suami saya di belakang! Hati-hati saja, kalau dia marah! Masnya bisa dipecat dari kerjaan. Eh, memangnya Mas kerjaannya apa? Ah, lupakan. Mas Bos pasti bisa menemukan apa kerjaan kamu!” cerocos Aika tanpa henti. “Kebetulan sekali saya bekerja di sini. Saya dari tadi hendak menyambut Anda sebagai p

