Di ruang tamu Larasati menunggu Ibunya datang. Perempuan muda itu sedang duduk sendirian seraya memegang perutnya yang belum kelihatan. Padahal sudah hamil hampir empat bulan. Tapi, masih belum kelihatan.
"Ngapain, muka kamu di tekuk begitu?!" Yanti Ibu Larasati baru saja datang ke rumah ini setelah tadi di telepon Laras untuk menemaninya tinggal di rumah ini selama Albian pergi.
"Mas Albian, sudah sepuluh hari tidak pulang. Dia sibuk dengan istrinya, Bu." Larasati terlihat malas dan bete saat mengatakan itu.
Yanti kini duduk kursi yang ada di samping Larasati anaknya. Menatap Larasati seraya mengernyit. "Lalu, kamu marah sama Albian?" tanyanya.
Larasati mengangguk dengan cepat. "Iyalah, Bu. Aku kan lagi hamil muda, masa di tinggal pergi selama sepuluh hari ini, mana Mas Albian juga tidak pernah ke pabrik. Dia benar-benar bersama dengan istrinya."
Tuk!
Satu sentilan mendarat tepat di kening Larasati. Yanti dengan sengaja menyentil kening Larasati dengan tangannya. Wanita dewasa itu menatap Larasati dengan tatapan tajam.
"Jangan bodoh kamu Laras! Kamu itu, sekali kali jangan sampai marah sama Albian. Dia itu Pria mapan dan kaya. Kamu harus benar-benar menjaga aset berharga seperti dia. Jangan sampai Albian marah dan menceraikan kamu gara-gara kamu cemburu saat Albian menemui istrinya. Ingat! kamu dan Albian hanya menikah secara siri. Jangan sampai Albian pergi dan meninggalkan kamu dalam keadaan hamil seperti ini. Yang rugi kamu sendiri."
Yanti menceramahi Larasati. Membuat anak perempuannya semakin kesal saja. Sudah di tinggal pergi Albian dan sekarang di ceramahi Ibunya. Larasati merasa benar-benar sial.
"Lalu apa yang harus Laras lakukan, Bu?" tanya Larasati seraya mengerucutkan bibirnya.
"Kamu harus bisa rayu dan senengin Albian, pokoknya jangan sampai membuat Albian marah sama kamu, pokoknya kamu harus selalu bisa ambil hatinya. Buat Albian nyaman sama kamu. Jangan sampai Albian lebih nyaman bersama istri lamanya." tutur Yanti.
Larasati mengangguk pelan tanda setuju. Dan menyesal tadi telah marah sama Albian lewat telepon.
"Iya, Bu." Larasati mengangguk pasrah.
"Ya sudah, sekarang Ibu mau pergi dulu, Pak Dani sudah menungguku di tempat biasa." Yanti bangkit berdiri seraya mengambil tas miliknya yang ada di atas meja.
"Ibu mau kemana?" tanya Larasati ingin tahu. Karena Ibunya baru saja datang dan sekarang pergi lagi.
"Ibu ada janji sama Pak Dani. Nanti sore Ibu pulang ke sini temenin kamu. Dah ya, Ibu pergi dulu." kemudian Yanti bergegas pergi meninggalkan Larasati sendirian di rumahnya.
"Ih. Percuma dong suruh datang ke sini buat nemenin aku kalau ujung ujungnya Ibu pergi juga seperti biasanya. Sebel! sebel! sebel!" gerutu Larasati kesal dengan Ibunya juga dengan Albian. Kedua tangannya ia lipat di depan d**a.
Namanya Larasati, gadis cantik berkulit putih, rambutnya lurus sebahu, hidungnya bangir dengan tubuhnya yang sempurna sesuai usianya delapan belas tahun. Dia cantik energik dan supel, gampang bergaul dengan orang-orang sekitar. Gampang pula mencari perhatian. Itulah sosok istri baru Albian. Yang umurnya sebaya dengan Alana anak pertama Albian.
Keduanya kenal di pabrik mebel milik Albian. Karena Laras adalah salah satu karyawan yang bekerja di pabrik tersebut.
Albian selalu ingin barang produksi dari pabriknya memiliki kualitas bagus dan bisa menjadi nilai jual tinggi. Karena itulah setiap hari Albian selalu turun tangan mengecek hasil produksi karyawannya secara langsung. Albian juga tidak membatasi diri dari semua orang yang bekerja di pabriknya. Malah, Albian menjalin hubungan baik dengan semua karyawannya. Bisa di bilang Albian sosok pemimpin sekaligus pengusaha yang baik dan ramah pada semua karyawannya. Baik karyawan laki-laki maupun karyawan perempuan.
Ada sekitar dua ratus karyawan dan karyawati yang bekerja di pabrik mebel itu, termasuk Larasati yang bekerja di bagian finishing. Saat Albian datang dan melihat hasil kerja di bagian itu, Larasati selalu memperhatikan Albian. Bosnya. Hingga suatu hari tanpa sengaja Larasati pura-pura terjatuh di depan Albian dan dengan sigap pria itu menolongnya.
"Lain kali kalau jalan hati - hati," ujar Albian dengan suara lembutnya. Membuat Larasati makin terpesona dengan bosnya tersebut.
Tak hanya itu, Larasati juga selalu menyapa Albian setiap mereka ketemu di pabrik. Sosok Albian yang baik dan ramah telah di manfaatkan oleh gadis belia itu.
Suatu hari, Larasati pulang bekerja. Semua karyawan pada lembur. Tapi, Larasati izin pulang jam empat sore.
Saat itu tanpa sengaja Larasati juga melihat Albian sedang keluar dari pabrik berjalan pelan menuju mobilnya.
Larasati turun dari motor dan menuntun motor matic miliknya. Melewati mobil Albian. Seperti biasanya Larasati menyapa bosnya itu seraya tersenyum manis.
"Selamat sore, Pak Bian," sapa Larasati seraya tersenyum ramah di depan Albian.
"Sore Laras. Loh! Motor kamu kenapa di dorong?" tanya Albian dari dalam mobil saat melihat karyawannya mendorong motornya.
"Eh, iya Pak. Motornya ban-nya bocor." dengan memasang wajah memelas Larasati menjawab pertanyaan Albian bosnya.
"Oh..." Albian manggut-manggut. Kemudian kembali berkata. "Rumah kamu mana?" tanya Albian.
"Daerah sumber arum, Pak," sahutnya cepat.
"Wah ... Kebetulan kita satu arah. Mau saya antar pulang? Kebetulan mendung mulai gelap, sebentar lagi sepertinya akan hujan."
Bak gayung bersambut, Larasati tersenyum girang. Tapi, sebisa mungkin gadis itu menahannya di depan Albian. "Maaf, Pak. Takutnya nanti malah merepotkan Pak Bian."
Bibir Albian tersenyum. Membuat Pria dewasa itu terlihat semakin tampan dan berkharisma. Larasati semakin ingin memiliki Pria yang sudah mempunyai istri dan dua anak tersebut.
"Tidak apa-apa, ayok masuk." Albian membuka pintu mobilnya.
"Terus motornya gimana, Pak?" Larasati ingin sekali ikut naik mobil bersama dengan Albian. Pria pujaannya. Tapi, gadis itu juga bingung dengan motor maticnya.
Albian diam sejenak. Tak lama berselang ada Satpam yang kebetulan lewat di depan mereka.
"Satpam!" panggil Albian.
Saat Satpam laki-laki itu menoleh, tangan Albian melambai. "Sini!"
"Iya, Pak Bos?" ujar Satpam tersebut seraya berjalan mendekat.
"Kamu bawa motor itu ke tempat parkir karyawan ya." perintah Albian seraya menunjuk ke arah motor milik Larasati.
"Siap, Pak." Satpam itu langsung pergi seraya menuntun motor matic milik Larasati dan membawanya ke tempat parkir para karyawan.
"Ayok masuk, Laras. Biar saya antar kamu pulang." perintah Albian.
Tanpa pikir panjang lagi, Larasati langsung masuk ke dalam mobil tersebut. Dan duduk di depan. Tepatnya di samping Albian Bosnya.
Mobil warna putih itu melaju keluar dari halaman pabrik.
Selama perjalanan tak ada percakapan di antara mereka berdua.
Hening. Hanya keheningan yang ada di dalam mobil tersebut. Albian sibuk dengan aktivitas menyetir. Pandangan matanya lurus ke depan memperhatikan jalan raya yang lumayan padat sore hari ini.
Sedangkan Larasati kini menundukkan wajahnya seraya menahan senyuman yang sedari tadi mengganggunya.
'Pak Albian kalau di lihat dari dekat seperti ini tampan banget, wangi parfumnya ... Hem ... Menggoda sekali, Pak ... Aduh! Gila, aku kayaknya sudah gila deh. Kenapa lihat Pak Albian sedekat ini aku jadi pengen di peluk sama dia...' Larasati membatin. Pikirannya mulai liar kemana mana saat melihat Albian sedekat ini.
Sosok Pria dewasa itu sudah mencuri hati gadis belia yang duduk di sampingnya. Larasati tahu kalau Albian Pria tampan, mapan dan matang. Pastinya sudah mempunyai istri dan anak.
Tapi, Larasati tidak peduli akan hal itu. Yang dia tahu sekarang Albian sudah membuatnya tergila - gila. Padahal Albian tidak pernah menggodanya.
"Laras, ini bener alamat yang kamu bilang tadi kan?" tanya Albian seraya menghentikan mobilnya di depan gang sumber arum.
"Hah?" mendengar pertanyaan Albian, Larasati bengong sejenak. Dia masih sibuk dengan pikiran liarnya yang sudah mulai merambat di otak dan syarafnya.
"Eh! Maaf Pak, maaf." Larasati tiba-tiba salah tingkah sendiri. Padahal sikap Albian biasa saja. Albian hanya bertanya sewajarnya.
"Ini benar gang kamu kan?" tanya Albian lagi.
"Iya, Pak. Benar, ini gang rumah saya, Pak." Larasati tersenyum manis di depan Albian.
"Saya hanya bisa mengantar sampai sini saja ya, tidak apa-apa kan,"
"Iya, Pak. Nggak apa-apa kok. Terima kasih banyak Pak Albian sudah mau mengantar Laras. Pak Albian baik banget, tidak sombong lagi." puji Larasati seraya tersenyum.
Albian tiba-tiba terkekeh mendengar pujian yang Larasati ucapkan.
"Hahaha, kamu bisa saja, di luar sana masih banyak kok orang yang lebih baik dari pada saya."
"Tapi, bagi saya Pak Albian yang terbaik." setelah mengatakan itu, Larasati bergegas turun dari mobil Albian. Lalu berdiri di samping jalan. Menunggu Albian pergi.
Setelah melihat Larasati turun, Albian segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Tanpa sadar Larasati melambaikan tangannya sesaat setelah mobil Albian menjauh.
"Aku harus bisa mendapatkan kamu, Albian. Karena kamu sudah mencuri hatiku." gumam Larasati dengan suara lirih. Bibirnya tiba-tiba tersenyum sendiri saat mengingat wajah Albian dari dekat.
Di dalam mobil.
Albian masih sibuk dengan aktivitas menyetirnya. Melihat Larasati dia jadi teringat akan Alana anak gadisnya yang seusia dengan gadis itu.
Ada rasa tidak tega melihat Larasati mendorong motornya setelah seharian bekerja di pabrik. Albian membayangkan seandainya itu Alana anaknya, pasti Albian tidak akan tega melihat anaknya bekerja di usia itu.
Alana saja masih duduk di bangku kelas dua belas dan akan menunggu surat kelulusan bulan ini. Setelah itu Alana akan melanjutkan pendidikan ke Universitas.
Tapi, Larasati yang usia sebaya dengan Alana sudah bekerja keras di pabrik. Itulah yang membuat Albian simpati dengan gadis itu. Apalagi sekarang ini Albian sangat merindukan Alana anak pertamanya tersebut.
Sudah satu bulan ini Albian tidak pulang ke rumah. Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Karena permintaan pasar luar negeri mulai banyak yang menyukai mebel buatan pabriknya. Itu yang membuat Albian harus benar-benar memperhatikan kualitas. Albian tidak malu turun langsung ke produksi dan mengawasi karyawannya secara langsung. Semua dia lakukan demi menjaga kualitas produk buatan pabriknya.
Pria itu sangat ingat, nama Alana ia ambil dari awalan namanya Albian sedangkan Diana, nama itu di ambil dari awalan nama depan Dewi. Sungguh keluarga yang sempurna. Walaupun terkadang di dalam hati Albian pernah terbesit kalau dia ingin mempunyai anak laki-laki agar kelak bisa meneruskan usahanya di pabrik ini. Tapi, setelah di pikir lagi, Alana dan Diana juga mampu meneruskan usahanya.
Bukankah anak laki-laki dan perempuan itu sama saja?
Semua tergantung cara kedua orang tua mendidiknya. Kalau orang tuanya menanamkan kebaikan, pasti anak itu akan menjadi anak yang baik. Begitu pula kalau orang tua menanamkan pengetahuan tentang bisnis keluarga. Pasti anak itu akan mampu mengelolanya walaupun dia seorang perempuan.
***