Bel pertanda pulang yang paling di tunggu tunggu seluruh siswa akhir nya tiba. Semua murid dengan semangat '45' memasuk kan buku dan seluruh alat tulis nya ke dalam tas.
"Yuhu pulang!" ucap Dion sambil berjalan menuju keluar kelas.
"Gue di sini dulu ah." ucap Evan.
"Mau ngapain lo?" tanya Rio.
"Sebagai murid yang baik gue harus memanfaat kan fasilitas sekolah dengan sebaik baik mungin." ucap Evan.
"Wah gue tau, lo pasti mau numpang wifi gratis kan?"
"Hehe iya, tau aja lo." ucap Evan.
"Gue juga di sini dulu ah kalo gitu, pas banget kuota gue lagi abis." ucap Rio sambil duduk di atas meja.
"Ngikut juga kan lo."
"Hehe."
"Key, rencana pulang sekolah mau kemana?" tanya Lala saat mereka sudah keluar dari kelas.
"Paling juga di rumah." ucap Keyla.
"Key, pulang yuk!" teriak Aron sambil mendekat ke arah Keyla.
"Loh, Aron kenapa nyamperin nerd itu?"
"Demi apa Aron mau jalan sama Nerd?!"
"Gila! Gue juga pengen kali. Gue yang cantik aja nggak pernah di ajak pulang bareng."
"Bang, lo apa apaan sih teriak teriak gitu. Semua pada lihatin kita tau." Ucap Keyla sambil melihat sekeliling.
"Biarin aja. Gue kan pengen sama adek gue, masa nggak boleh." ucap Aron sambil meletak kan tangan nya di pundak Keyla.
"Iya juga sih. Tapi kalo mereka curiga sama gue gimana?" tanya Keyla dengan menatap Aron.
"Tenang aja kali, kawatir banget sih." ucap Aron sambil mencubit pipi Keyla.
Perlakuan Aron terhadap Keyla yang terbilang manis itu membuat siswi kembali histeris dan juga berdecak heran.
"Pakek pelet kali ya tuh nerd."
"Pelet ndasmu!!" batin Keyla.
"Gatel banget sih!!" ucap siswi itu dengan lantang.
Aron yang mendengar nya langsung saja menghampiri siswi itu dengan tatapan tajam nya. Dia sudah gedek setengah mati, ingin rasa nya Aron menjambak rambut siswi itu sampai botak.
"Sori, maksud lo apa sampek ngatain dia gatel?" tanya Aron tajam.
"Ya..dia deket deket terus sama lo!" ucap Sherly.
Ya, orang itu adalah Sherly, orang yang selama ini selalu membuat Aron emosi setiap hari.
"Apa urusan nya sama lo?!" teriak Aron di hadapan Sherly.
"Gue nggak terima!"
"Terus, gue peduli? Nggak!!"
Aron kini sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi. Kalau saja Sherly cowok, Aron pasti sudah menghajar nya habis habisan.
"tapi ka-"
"Diam!" Bentak Aron.
"Sekali lagi lo gangguin dia sama temen temen nya, gue nggak bakal tinggal diam! Camkan itu!!" ancam Aron.
"Lo ngancem gue?!" teriak Sherly sambil menunjuk diri nya dengan menggunakan telunjuk nya sendiri.
"Menurut lo?! Oh iya, gue tekan kan sekali lagi, JANGAN PERNAH GANGGUIN MEREKA!! Inget?!" bentak Aron.
Mereka tidak sadar bahwa banyak murid yang memperhatikan mereka. Walau Aron tau sekalipun, Aron tidak akan memperdulikan nya. Toh, Aron sudah terbiasa dengan hal itu semua.
"Bang, udah. Yuk pulang, orang yang kayak gitu nggak usah di ladenin." bisik Keyla sambil menepuk bahu Aron.
"Iya, tunggu dulu." balas Aron.
"Kalian semua nggak ada niatan pulang?" ucap Aron yang membuat segerombolan murid yang memperhatikan mereka langsung bubar seketika, termasuk Sherly dkk.
"Dah yuk pulang." ucap Aron.
Aron serta Keyla dkk pun menuju ke area parkir yang tentu nya khusus untuk orang orang tertentu saja. Mereka langsung masuk ke dalam mobil nya masing masing.
"Lamborghini coy!!" ucap salah satu siswa saat melihat mobil Aron serta Keyla dkk melesat keluar dari area parkir.
"Makin banyak aja yang punya mobil lamborghini. Gue nya kapan?" ucap Rido.
"Seratus tahun yang akan datang." celetuk Reza.
"Masih lama ya? Nungguin seratus tahun lagi paling gue udah tenang di alam sana."
"Mungkin aja kan lo di kasih umur satu setengah abad sama yang di atas."
"Satu setengah abad ya? Makan tuh satu setengah abad!" ucap Rido sambil melempar plastik es ke arah Reza.
"Hehehe."