DUA PULUH

815 Kata
Kematian Jessy membuat luka tersendiri bagi Aretha. Kematian sang nenek sangat membuat hatinya sakit, ditambah ia tak bisa menghadiri proses pemakaman itu. Hanya satu kata s**l. Hidup Aretha berubah menjadi s**l semua itu karena David. Kehidupannya yang bahagia, harus tergantikan oleh kehidupan layaknya neraka. Kematian sang nenek sudah menyebar luas, dari negara ke negara. Karena Jessy orang yang cukup berpengaruh, maka semua media masa hanya memberitakan kematian Jessy. Jika saja Lea tidak memberitahunya, maka ia pun tak akan tahu. Karena selama ini Aretha dilarang memegang ponsel, melihat televisi dan semacamnya. "Apa kau ingin menghadiri proses pemakaman nenek mu nyonya?" Lea bertanya dengan serius. "Iya Lea, iya. Aku ingin sekali Lea, kau tahu nenek adalah orang yang aku sayangi ke dua setelah papa dan mama ku." isak tangis Aretha semakin terdengar keras. "Akan aku bantu. Kali ini jangan menolak nyonya, setelah kau keluar dari rumah ini. Jangan pernah kembali, mulailah hidup mu yang baru. Kau mau berjanji?" Lea memegang erat tangan Aretha, seraya menangis. "Iya aku berjanji." "Kalau begitu, aku pergi dulu. Memastikan semuanya aman nyonya." ucap Lea bergegas keluar dari dalam kamar Aretha. Sepeninggal Lea, Aretha kembali menangis. Rasa sakit dihatinya tak kunjung reda. Semua itu karena David, hanya karena David. Apa yang dialami Aretha karena David. Dan Aretha akan bersumpah menghilangkan rasa cintanya itu. Cinta yang tak seharusnya tumbuh untuk pria laknat dan b******n seperti David. *****                   Lea berjalan-jalan disekitar rumah. Memastikan semuanya aman, Lea ingin Aretha segera pergi. Ia sudah tak kuat melihat Aretha tersiksa dan digelayuti kesedihan. Langkah kaki Lea berjalan menuju hutan belakang rumah ini. Langkahnya begitu hati-hati takut anak buah David memergokinya. Dengan perlahan lahan Lea melangkah, hingga ia merasakan ada yang memegang pundaknya. Ia sudah ketakutan setengah mati, nafasnya terengah-engah. "Kenapa kau berjalan mengendap-endap?" Lea langsung berbalik badan dan mendapati pria dengan postur tubuh tinggi itu, sedang menatapnya heran. "Siapa kau?" tanya Lea. Ia yakin pria didepannya bukan anak buah David. Karena Lea belum melihat wajah pria itu sebelumnya. "Aku manusia." jawab pria itu. Lea memutar matanya malas, ternyata pria didepannya sedang bergurau, "Aku bertanya siapa kau? Nama mu siapa? Kenapa kau bisa ada disini?" "Oh kau bertanya itu. Tapi, haruskah aku menjawabnya?" ucapan pria itu sungguh membuat Lea ingin sekali menghajarnya. "Kau menyebalkan." "Hey kenapa kau marah, liat itu. Wajahmu seperti monster jika marah hahahha." ledek pria itu. Lea maju dan langsung menumpuk kepala pria itu dengan tangannya. "Hey kau melakukan penyiksaan." "Masa bodoh dengan kau, pria aneh." kata Lea dan berniat meninggalkan pria didepannya. Belum beberapa langkah Lea berjalan menjauh, namun cekalan ditangannya membuat ia berhenti. Dan menatap pria didepannya dengan alis terangkat. "Elton Ackles." "Elton Ackles?" tanya Lea. "Namaku Elton Ackles. Jika boleh tahu siapa namamu?" tanya Elton yang tiba-tiba berganti nada bicara. Saat ini nada bicara Elton terdengar serius. "Lea Dhemercia." "Jika aku boleh tahu. Apa kau tinggal di rumah itu?" tanya David dengan jarinya menunjuk rumah David. "Hmm, iya memangnya kenapa?" "Berarti kau kenal dengan Aretha?" "I..iya." Ya, semalam David mengikuti Aretha dan pria yang memaksa Aretha pulang. Rasa penasarannya membawa kakinya menuju rumah yang tidak terlalu besar. Namun, kelihatan mewah. Dan saat ini pun Elton berada disekitar sini, karena ingin mengetahui siapa Aretha. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres dengan Aretha. Wanita yang ditemuinya semalam. "Siapa dia, aku sangat penasaran dengan dia. Semalam aku bertemu dia dijalan, tapi tiba-tiba ada pria yang memaksanya untuk pulang. Dan pria itu memanggil Aretha nyonya." papar David membuat Lea mengangguk mengerti. "Dia nyonya ku. Aretha Franklin Frandes." "Entah kenapa aku sangat penasaran dengan dia. Aku merasa ada yang tidak beres dengan dia. Jika kau mau, tolong ceritakan siapa Aretha itu. Itung-itung kau membantu aku." ucap Elton menunjukkan sifat aslinya. Yaitu datar. "Kenapa nada bicaramu berubah. Dan itung-itung membantu apa?" tanya Lea ketus. "Membantu supaya aku tidak penasaran lagi." Elton menarik pergelangan tangan Lea, ia menarik Lea supaya mengikutinya. "Lepaskan aku. Hey lepaskan aku." berontak Lea tapi tak didengarkan Elton. Malahan Elton semakin erat menggenggam pergelangan tangan Lea. Elton berhenti didepan bangunan tua, yang ada disekitar hutan. Lea yang melihat bangunan itu merasa takut, "Kenapa kau membawaku kesini?" "Aku bilang ceritakan tentang nyonya mu itu." tegas Elton dan duduk di batu besar yang ada disekitar bangunan tua itu. "Aku tidak bisa menceritakannya." "Kenapa?" Lea tidak sanggup berbicara lagi. Ia takut jika David tahu maka keluarganya akan mati. Tapi, dilain sisi Lea yakin pria didepannya adalah pria baik-baik. Dan Lea yakin jika Elton pasti mau membantu Lea membebaskan Aretha dari kehidupan David. "Tapi aku ingin syarat." ujar Lea tiba-tiba. Ia mengambil duduk disamping Elton. "Baiklah, apa itu?" tanya Elton tanpa pikir panjang. "Turuti apa kemauan ku." "Apa yang kau mau?" "Akan aku beritahu setelah aku menceritakan semuanya." "Baiklah." Entah setan dari mana yang merasuki Elton. Pria itu dengan mudanya menuruti kemauan Lea. Demi mendapatkan informasi tentang wanita yang semalam ia temui. Hanya wanita itu. Aretha. Aretha membuat seorang Elton dilanda penasaran. Ini bukan sifat Elton, sang pengusaha sukses Amerika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN