SEBELAS

830 Kata
Liam memasuki mansion dengan raut wajah marah. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Didalam mansion sudah ada banyak orang, mereka semua berkumpul setelah Liam mengatakan apa yang terjadi. "Jackson dimana dia." teriak Liam pada Jackson. "Aku disini Liam." ucap wanita baya. Liam menoleh ke sumber suara, dilihatnya wanita itu dari atas sampai bawah. "Apa yang kau katakan tadi benar?" tanya Liam mencari kepastian. "Iya Liam, aku tidak akan berbohong. Putri mu dalam bahaya. Selamatkan dia, sebelum putra bejatku membuatnya lebih tersiksa." mohon wanita itu. Ya, itu Karen. Semalam ia langsung melakukan penerbangan, Britania Raya - Turki. Ia ingin membongkar semuanya, ia sudah tak tega melihat Aretha disiksa oleh putranya. Ia juga rela jika Liam, akan melakukan tindakan untuk membalas perbuatan putranya. "Iya sekarang mereka di Britania Raya. Dan harus kau ketahui, Aretha hamil." kata Karen, wajahnya menunduk. Liam dan yang lain mematung, mendengar pertanyaan dari mulut Karen. "Apa kau bercanda?" "Tidak Liam, aku tidak bercanda. Sebelum Aretha di Britania Raya, ia sudah mengandung." Karen mencoba menjelaskan. "Tidak, Aretha tidak mungkin mengandung." teriakan yang terdengar cukup keras membuat semua orang menoleh. Mendapati Jessy berdiri tak jauh dari mereka. "Nyonya Jessy." lirih Karen. Jessy dengan sekuat tenaganya, berjalan menuju kearah Liam. "Tidak, cucuku tidak mungkin hamil diluar nikah." "Nyonya." "Kau, Karen?" Jessy terkejut karena ada Karen di mansion ini. "Aretha benar hamil nyonya." kata Karen. "Darimana kau tahu?" "Karena...karena...yang menghamili Aretha adalah David. Putraku." ujar Karen terbata. "Jadi.. putramu yang menghamili Aretha? Tega sekali dia. Apa salah Aretha, ya Tuhan." teriakan histeris Jessy menggema. "Mom, mom bangun." guncang Catline ikut menangis. Yeah, Catline sudah tiba di mansion. Karena setelah Liam menerima kabar, bahwa Aretha dalam bahaya. Liam langsung menyuruh semua berkumpul. Tak terkecuali Catline. Ia langsung menuju Turki. "Bibi bangun." kata Lucas mencoba membangunkan Jessy. "Kau bawa mom ke atas. Biar aku yang mengurus ini!" perintah Liam, Sam mengangguk dan menggendong Jessy. Sedangkan Lucas sudah menatap Karen dengan sorot mata tajam. "Siapa nama anakmu?" "David. David Aderxio." jawab Karen. "Sebelumnya kita semua berterima kasih. Karena kau mau memberitahu ini kepada kami. Berarti kau tidak membela anakmu itu." ucap Lucas panjang lebar. "Ya ya. Sekarang yang terpenting kalian cepat susul Aretha di Britania Raya." suruh Karen. Ia khawatir sendiri. "Aku yang akan menyusulnya." Sam angkat bicara setelah membawa Jessy ke atas. "Biar aku saja Sam." seru Liam. "Tidak paman, lebih baik paman meminta dia untuk menceritakan semuanya. Semua yang membuat Aretha dalam masalah seperti ini." saran Sam, menunjuk kearah Karen. "Baiklah, kau akan berangkat dengan siapa?" "Aku akan ikut Daddy." ucap Greno. Liam mengangguk, dan setelahnya Sam dan Greno pergi meninggalkan mansion. "Sekarang ceritakan semua yang terjadi. Semua, pasti ada sebab bukan putra mu melakukan itu semua." desis Liam. "Lebih baik kalian duduk." kata Catline, dan mereka semua duduk. Karen menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Ia bercerita mulai dari masa kecil David, dendam David kepada Adeks. Dan berakhir membalas ke Aretha. "Ia salah paham. Aretha tidak salah, begitu juga dengan Adeks. Yang salah adalah suamiku, karena ia yang membenci Adeks. Dan berbuat buruk kepada Adeks, sehingga Adeks geram dan membunuhnya." pengalihan yang di lontarkan Karen, membuat semua orang tahu. Apa masalah sebenarnya. "Jika begitu, saya benar-benar berterima kasih nyonya." ucap Liam sopan. "Iya, apakah kau akan menyusul ke Britania Raya? Jika iya, aku ikut." tanya Karen. "Pasti." "Aku ikut paman, aku tak akan membiarkan Aretha dalam masalah. Aku tak akan membiarkan David itu menyakiti Aretha." geram Lucas, sehingga otot tangannya terlihat karena tangannya mengepal. "Ini foto David." Karen memberikan selembar foto. Liam menerimanya dan memperhatikannya dalam diam, "oh s**t, dia pria yang pernah menemui ku. Dan mengatakan Aretha akan ke Britania Raya, karena berkerja sama dengan perusahaannya." "Dan putra ku berbohong Liam." "Baiklah jika begitu. Tunggu perhitungan dariku David." Liam meninggalkan mansion, diikuti Lucas, Jackson, Amer dan Karen dibelakangnya. Yang lainnya tidak diperbolehkan ikut. Karena jika mereka semua ikut, akan semakin sulit untuk menyelamatkan Aretha. ***** "Shit." umpat David. "Ternyata ibu pergi ke Turki, dan memberitahu semuanya. Dasar, kita harus segera meninggalkan Britania Raya. Aku tidak ingin penderitaan Aretha hanya sampai disini." marah David, setelah mengetahui kabar baru-baru ini dari anak buahnya. "Siapakan pesawat. Dan aku akan mengajak paksa Aretha, kita akan meninggalkan Britania Raya." ucapnya, dan berlalu pergi. Langkah kaki terdengar di gendang telinga Aretha. Ia yakin itu pasti suara langkah kaki David. Karen hanya David yang bisa berkeliaran di mansion ini. "Ayo ikut aku, kita akan pergi dari Britania Raya." "Kemana?" "Bisa tidak mulutmu tak banyak bertanya, jika kau masih bertanya. Aku tak akan segan-segan membunuh anak didalam perutmu ini." David menampar pipi Aretha. Membuat Aretha menangis. "Kau kasar, jangan sakiti anak ini. Dia tidak berdosa, dan kau. Kau ayahnya." tangis Aretha menjadi-jadi. "Camkan Aretha. Aku sampai kapanpun tak akan menganggap anak ini anak ku." bagai disambar petir, hati Aretha sakit. Sangat sakit, setidaknya David tidak membenci anaknya. David langsung menarik tangan Aretha, untuk menuruni tangga. Tarikan tangan David sangat menyakiti Aretha. Tapi, Aretha hanya diam tak bisa melawan. Sekarang Aretha bukanlah Aretha yang dulu, Aretha yang sekarang lemah dan juga penakut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN