ENAM BELAS

813 Kata
Wajah Aretha penuh dengan sayatan. Bahkan luka sayatan itu tidak diobati, melainkan dibiarkan sampai darah yang keluar mengering. David benar-benar bruntal menyiksa Aretha. Tak hanya fisik, mental Aretha pun David hancurkan. Tiga jam lalu, baru saja David selesai menyetubuhi Aretha. Dan Aretha? Dia diam tak memberontak, meskipun David menghujam nya dengan kasar. Karena Aretha tahu, melawan akan mendatangkan luka di sekujur tubuhnya. Jangan kira diamnya Aretha adalah tanda ke tidak berdayanya. Aretha diam karena tak ingin David menyiksanya lagi. Aretha masih kuat, buktinya dia masih bertahan dengan David. "Tunggu suatu saat nanti David. Aku akan membalas perbuatan mu." lirih Aretha. Tokk tokkk Terdengar ketukan pintu, dan masuklah wanita berpakaian feminim. "Hai Aretha." sapa Lea. "Hai juga Lea." Aretha membalas sapaan dokter muda itu dengan sisa energinya. "Aku tahu apa yang terjadi. Mari aku bantu membersihkan bekas darah yang mengering itu." Lea berjalan dan berniat membantu Aretha untuk berdiri. "Tidak, aku tidak bisa berdiri." "Kenapa nyonya?" "Bagian bawahku sakit, Lea." setetes air mata jatuh membasahi pipi yang dipenuhi sayatan. "Maksud mu nyonya?" "Bagian bawah ku terasa ngilu." wajah Aretha menunduk. Lea juga berpikir lebih cepat, karena dia juga tidak tahu apa-apa, selain tuannya menyiksa Aretha. Dan seketika ia sadar akan apa yang di maksud nyonya di depannya ini. "Nyonya, taun me..nye..tubuhi..mu?" ucap Lea terbata-bata. Tak ada respon dari Aretha. Lea langsung menarik tangan Aretha dengan pelan, "Saya akan bantu nyonya." Dengan susah payah Lea bisa membawa Aretha ke dalam kamar mandi. Membersihkan bekas darah yang mengering. "Nyonya tuan David mengizinkan aku membawamu keluar." Lea tiba-tiba bersuara,menghentikan kegiatannya menatap Aretha dengan diam. "Kita akan keluar kemana?" "Tuan David mengizinkan hanya keluar dari rumah saja. Tidak lebih. Dan itu juga tidak boleh terlalu jauh dari rumah." jawab Lea. "Bilang kepada dia, kenapa tidak mengizinkan aku mati saja?" "Nyonya jangan bicara seperti itu. Aku akan membantu nyonya jika nyonya ingin kabur." Lea menawari Aretha. Mata sayu Aretha menatap mata Lea dengan dalam, "Kau serius?" "Iya nyonya, tapi aku tidak bisa membantu lebih dari keluar rumah." ucap Lea, seketika raut wajah Aretha kembali sedih. "Kenapa Lea?" "Karena keluarga ku akan menjadi korbannya. Tuan David berjanji akan membunuh keluarga ku, jika aku mencampuri urusan nya." ucap Lea, menjelaskan yang sebenarnya. "Jika begitu tidak perlu kau membantu aku." putus Aretha. Lea menatapnya dengan pandangan tak bisa diartikan, "Kenapa nyonya? Bukankah kau ingin terbebas?" "Iya, aku ingin terbebas. Tapi aku tidak ingin menyusahkan orang lain." "Kau tidak menyusahkan aku nyonya." "Aku akan membantumu." lanjut Lea. "Tidak perlu. Aku akan keluar dari rumah ini dengan usahaku sendiri." Aretha berdiri dari duduknya, wajahnya sudah bersih dari darah. Hanya sisa sayatan yang membekas. "Kau mau kemana nyonya?" tanya Lea yang melihat Aretha meninggalkan dirinya dikamar mandi. Jalan Aretha masih tertatih-tatih. "Lea." panggil Aretha. "Iya nyonya, ada apa?" "Apa wajahku kelihatan buruk?" "Tidak nyonya. Anda masih cantik." jawab Lea, tapi tak membuat Aretha tersenyum. "Apanya yang masih cantik. Wajah penuh sayatan kau bilang cantik? Kamu lucu." Aretha tertawa merasakan kemirisan hidupnya. "Tidak nyonya, aku jujur." "Sudah-sudah lupakan itu." kata Aretha. "Sekarang tolong bantu aku." ucap Aretha memelas. "Bantu apa nyonya?" "Bisakah kau mengobati aku? "Maksudnya nyonya?" "Badanku rasanya remuk, perutku rasanya perih. Dan juga s**********n ku, rasanya sangat menyakitkan. Kau tahu Lea, aku tidak kuat untuk berbaring. Cambukan di punggungku terasa menyiksa." aduh Aretha, ia terisak menahan sakit yang sedari tadi ditahannya. Memang dalam seharian ini ia di siksa oleh David. Bahkan David tak memikirkan kondisi Aretha setelah Aretha keguguran beberapa jam lalu. Setetes air mata terjatuh dari mata Lea. Lea ikut menangis mendengarkan nyonya nya berbicara. Miris? Itulah kehidupan nyonya nya. "Saya akan mengobatinya." ucap Lea dengan isakan. "Terima kasih Lea." "Iya nyonya." *****                Liam menggeram marah ketika Karen menelfon nya, dan mengatakan David tadi menelfon. Liam sudah berusaha melacak nomor telepon David. Tapi tak ada hasil, nomer David tak bisa dilacak. "Mungkin David sudah merusak SIM nya paman." ucap Chesy. "Kau benar Chesy. b******n itu tidak bodoh rupanya." Liam tersenyum miring. "Kita tinggal menunggu apa yang akan di lakukan kedepannya paman." Chesy menyeringai. "Kau benar." Liam berdiri dan mengambil minuman alkohol. "Oh iya paman, bagaimana kabar Sherly? Sejak dia datang dari Bangkok aku belum menemuinya. Ditambah dia sekarang sudah di Britania Raya." ucap Chesy, seraya mengambil gelas berkaki yang berisi alkohol. Dari tangan Liam. "Terima kasih paman." ucap Chesy setelah mengambil gelas itu. "Sama-sama." "Kabarnya baik, dan bagaimana kabar ibu dan ayahmu?" tanya Liam, berusaha melupakan masalah Aretha. "Mereka baik-baik saja." Liam menghembuskan nafas kasar, "Syukur lah." "Jangan memikirkan masalah Aretha terlalu dalam. Paman harus yakin Aretha pasti baik-baik saja." Chesy mencoba menenangkan Liam. "Kau benar Chesy." Baik Chesy maupun Liam sama-sama terdiam, menikmati minumannya. Chesy adalah anak dari Jhordan dan Sielvaa Gronio. "Paman nanti malam kita akan kembali ke Turki. Apa Sherly di sini ada yang menemani?" tanya Chesy. "Ada, Lucas akan tetap disini." jawab Liam. "Oh." "Aku berharap semuanya akan kembali normal, seiring berjalannya waktu paman." ujar Chesy melanjutkan acara minumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN