EMPAT PULUH SATU

732 Kata

Malam ini udara berhembus dengan kencang, serta petir yang ikut bersahutan. Aretha keluar kamar hanya mengenakan baju tidur berbahan satin, bisa dibayangkan betapa dinginnya angin malam yang dirasakan Aretha. Meskipun mansion ini cukup luas, angin malam selalu terasa hingga kedalam kamar. Aretha berjalan menuruni tangga, ia berbelok kearah dapur dan mengambil sebotol air putih dari dalam kulkas. "Mama sedang apa?" Mendengar suara kecil namun tajam itu, tak ayal membuat Aretha terkejut, "Kau sedang apa disini sayang." "Air minum di kamar ku habis ma." ucapnya datar. Rasanya Aretha tak kuat berlama-lama menatap mata putranya, Arslan. "Kenapa kau tidak bilang mama, mama bisa ambilkan untukmu." ucap Aretha tanpa melihat manik mata Arslan. Rasanya sama seperti menatap mata David. Apa ini?

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN