Gadis dengan gaun mewah dan elegan itu berjalan dengan tenang tanpa menghiraukan para karyawan yang berusaha menyapa putri tunggal dari pemilik perusahan tempat mereka bekerja itu, sayangnya gadis itu sama sekali tidak menghiraukan mereka, seangkuh dan sesombong itu memang gaadis dengan nama lengkap Aileen Bellova atau kerap disapa Ay itu, dengan tenang gadis itu melangkah menuju ruangan sang papa.
"Pa.." panggilnya, tidak peduli jika sang papa sedang ada tamu, gadis itu masuk begitu saja, bahkan tanpa mengetuk pintu..
"Maaf Pak kita tunda meetingnya sampai besok dulu ya," pinta Mr Bellova merasa tidak enak dengan tamunya
" Baiklah Pak, kalau begitu saya pamit dulu," Pamit Mr Bryan terlihat sedikit kecewa
" Fi, tolong antar pak Bryan kedepan ya," pinta Mr Bellova pada sekretarisnya
" Baik Pak, mari Mr Bryan, saya antar ke lobi," ajak Nofi, sekretaris Mr Bellova
Setelah Mr Bryan dan sekretarisnya keluar, Mr Bellova mendekati putri satu-satunya itu
" Ay, Papa kan sudah bilang, ketuk dulu pintunya, papa kan jadi gak enak sama tamu papa." tegur Mr Bellova
Aileen hanya memutar bola matanya, tidak mau ambil pusing dengan teguran sang papa
"Pa.. beliin Ay mobil keluaran baru dong, teman teman Ay udah punya, Ay yang anak sultan gini belum punya sih," rengeknya pada sang papa
" Kan bulan kemarin baru aja beli mobil Ay," tutur Mr Bellova mencoba memberi pengertian pada putri tunggal keluarga Bellova itu.
"Ayolah Pa," jurus andalannya yaitu Puppy eyes yang tentu tidak bisa ditolak Mr Bellova
" Yaudah nanti Papa suruh sekretaris papa buat beliin." Mr Bellova akhirnya mengalah
"Yes, makasih Papa, sayang deh sama Papa," ucap Aileen sambil mencium pipi Mr Bellova
"Tapi malam ini, kamu ikut papa dan mama bertemu dengan kawan lama papa ya," Pinta Mr Bellova
"Ay..." belum sempat gadis itu melanjutkan perkataannya, Mr Bellova sudah lebih dahulu mengitrupsinya, Mr Bellova sudah dapat menebak jika putrinya pasti akan menolak
" Mau mobilnya gak, kalau gak mau yaudah." Ancam Mr Bellova pada putrinya, Aileen mendengus kesal
"Iya iya, Ay ikut deh." Pasrah Aileen akhirnya
" Nah gitu dong, sekali kali nurut sama orangtua kamu tu," Nasehat Mr Bellova
" Iya Pa..iya, yaudah Ay mau ketemu teman-teman Ay dulu ya, dadahh Papa," Pamit Aileen
" Gak makan di sini dulu sama papa?" tawar Mr Bellova
" No.. Ay udah janjian sama teman teman Ay." Tolak gadis itu
" Jangan lama, kamu harus beres-beres nanti, dandan yang cantik, paham?" peringat Mr Bellova
" Ay udah cantik ngapain pake dandan segala heh." bukan sombong tapi memang itulah kenyataannya, Aileen terlahir sebagai gadis yang sangat sempurna, cantik, mempunyai orangtua lengkap yang selalu melindunginya dan selalu menjadikannya Tuan Putri
" Hati- hati" ucap Mr Bellova menatap kepergian putri tunggalnya
Pria paruh baya itu sangat menyayangi putrinya, apapun akan dilakukan, bukan tanpa alasan Mr Bellova sangat menyayangi Aileen, gadis itu adalah putri satu satunya yang mereka punya, putri yang sangat lama dinantikan juga keajaiban yang tercipta ditengah keluarga mereka, tidak peduli jika Aileen memiliki karakter yang buruk , Mr Bellova akan selalu menyayangi gadis itu, akan selalu membuat gadis itu " Tuan Putri" keluarga Bellova
Setelah dari kantor keluarga Bellova, seperti perkataannya sebelumnya Aileen menuju cafe tempat teman temannya sudah menunggunya, namun saat dalam perjalanan hampir saja putri tunggal Bellova itu menabrak seorang nenek yang tiba tiba saja menyebrang, dengan perasaan kesal Aileen keluar dari mobil
“ Nek..udah bosan hidup atau gimana?” tegurnya pada sang nenek
“ Maaf neng, tadi Nenek merasa ada yang dorong tiba-tiba,” aku nenek tersebut
Aileen mengamati sekitarnya, dan memang hanya ada mereka berdua disana, jadi nenek itu hanya beralibi saja?
“ Tidak ada siapa-siapa Nenek..” kesal Ailen
“ Tapi tadi nenek-benar benar merasa ada yang mendorong Nenek, Neng, Nenek ndak bohong,” tutur nenek tersebut mencoba menjelaskan
Sejujurnya Aileen sama sekali tidak percaya, tetapi gadis itu sedang malas memperpanjang masalah
“ Yaudah..Nenek mau kemana biar Ay antar aja,” tawar Aileen, melihat kondisi nenek yang sudah renta membuat Aileen tidak tega meninggalkannya sendirian, bisa saja kejadian tadi terulang, bukan didorong oleh seseorang tetapi mungkin karena sudah tua jaadi jalan nenek tersebut sudah tidak stabil dan sering tersandung, pikir Aileen
“ Makasih atuh Neng, sudah mau mengantar nenek,” tutur nenek tersebut, Aileen dengan malas mengangguk
Gadis itu lebih fokus dengan kondisi rumah nenek tersebut, gubuk yang terbuat dari bambu, apakah bisa disebut rumah?
“Ini rumah nenek?” tanya Aileen, nenek tersebut mengangguk
“ Ini Ay ada sedikit, mungkin bisa membantu nenek,” tutur Aileen sembari memberi beberapa lembar yang untuknya sama sekali tidak seberapa
“ Terimakasih atuh Neng..Eneng itu orangnya baik, sayangnya, eneng sering di peralat sama orang terdekat eneng, hati hati ya neng, akan ada banyak yang menguji eneng dimasa depan,” pesan nenek tersebut, Aileen yang tidak terlalu peduli hanya mengiyakan saja, toh dia yakin kalau oraang terdekatnya tidak mungkin melakukan hal semacam itu
Setelah mengantar nenek tersebut, Aileen melanjutkan perjalanaannya, dirinya sudah sangat terlambat
"Tumben telat lo?" tanya salah satu sahabat Aileen saat gadis itu tiba
" Biasalah, udah pada pesan belum?" tanya Aileen
" Udah nih," ucap teman temannya
" Kitaa tunda dulu ya pestanya, gue ada urusan keluarga nih entar malam," tutur Aileen memberitahu, seharusnya memang malam ini mereka mengadakan pesta gitu, but.. harus ditunda dulu karena sang empunya acara harus ikut orangtuanya malam ini
" Lah tumben lo, jadi anak berbakti nih ceritanya sekarang Ay," ledek Delila diiringi taawa, bagaimana tidak, seorang Aileen menjadi gadis penurut sungguh sesuatu yang sangat langka
" Demi mobil barulah apalagi," sanggahnya tidak suka diledeki oleh teman temannya, meski memang bukan itu alasannya
Dan mereka laarut dalam perbincangan yang disertai candaan seputar fashion, makanan, pesta dan semacamnya, sampai Aileen lupa kalau diriinya harus bersiap untuk acara bersama orangtuanya, bunyi ponsel mengintrupsi perbincangan mereka
" Hp lo bunyi Ay," tegur Jesika pada Aileen yang belum menyadari hal tersebut
" Gue angkat telpon dulu ya," pamitnya, teman temannya menggangguk lalu kembali berbincang
" Halo Ma.."
"Kamu itu di mana sih, udah sore ini, kita harus siap siap....bla bla," selanjutnya Aileen pasrah mendengar omelan Mrs Bellova, jika sudah begini Aileen hanya akan menurut saja tanpa memprotes apapun.
"Iya iya Ay pulang sekarang." pungkas Ailen menyudahi omelan nyonya besar
" Gues, gue balik duluan ya, udah sore nih, harus siap-siap dulu gue," pamitnya pada mereka
" Hati-hati lo." cetus Maudy
" Hem," gumam Aileen
Tanpa disadari seseorang dari antara teman temannya sedang tersenyum dalam hati melihat kepergian Aileen, bukan senyum biasa, namun senyum penuh kelicikaan