Bian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pada jam segini jalanan cukup ramai dan padat, terutama jalan yang saat ini tengah ia lewati, gedung-gedung pencakar langit berdiri di sepanjang jalan mengindikasikan bahwa daerah ini adalah jantung perkantoran.
Menoleh ke samping, ia menemukan gadis yang beberapa menit lalu dipaksanya untuk ikut dengannya. Gadis itu sedang duduk cemberut di bangku penumpang, bahkan sejak pertama kali ia duduk di sana, gadis itu sama sekali tidak membuka mulutnya, tidak menatapnya. Lera ... Bian cukup penasaran tentang apa yang membuat gadis itu menjadi seperti ini padahal kemarin ia melihat sosoknya begitu memukau dengan balutan dress mahal, make up dan juga setumpuk uang di dalam tasnya Bian rasa.
Belum juga 24 jam, namun gadis itu terlihat 180 derajat berbeda. Pakaiannya tidak bisa dibilang lusuh tapi Bian yakin itu bukan pakaian terbaik yang gadis itu punya dan ingin dipakainya untu pergi ke kampus. Sepatu yang kemarin ber-hak tinggi dan mengkilap, kini hanya ada sepasang kets yang warnanya bahkan sudah agak pudar membungkus kaki indahnya.
Well, Bian tidak bisa membayangkan kehidupan seseorang yang sebelumnya seperti tuan putri, kini berubah menjadi ... oh, Bian tidak tega memanggil gadis itu gembel di saat ia memiliki keluarga super kaya.
Merasa diperhatikan, Lera segera menoleh dan melotot pada pria yang masih memandanginya dari kaca spion. "Apa?" tanyanya galak.
Lera masih marah?
Jelas!
Hanya orang tidak waras yang tidak jengkel dan marah saat barang berharga satu-satunya yang ia punya dirusak tanpa perasaan. Bahkan pria itu sampai detik ini belum meminta maaf padanya atas apa yang dia lakukan beberapa saat lalu.
Oh, Tuhan, kenapa Engkau menciptakan orang seperti Bian ke dunia ini? Manfaatnya apa? —Lera menggerutu dalam benaknya.
"Kau bisa menangis sepuasmu asal tidak membuang ingus sembarangan." ucap Bian seraya mengerling.
Menangis? Lera mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan pria itu. "Kenapa kau berpikir aku ingin memangis?"
Mengendikkan bahu, Bian kemudian mengatakan, "Entahlah, mungkin karena kau akan menjalani hidup yang berat mulai saat ini?"
Kehidupan yang berat? Apa maksudnya itu?
"Ya, kehidupan memang akan terasa berat saat seseorang tidak memiliki apa-apa."
"Jadi? Apa kau mau aku antar ke tempat Nyonya besar Estan?"
"Untuk?"
"Mungkin dengan cara berlutut dan mencium kakinya akan membuat hatinya luluh." Seorang Nyonya besar Estan akan luluh dengan air mata? Tck, jangan bercanda!
Lera sudah menghabiskan hidupnya bersama wanita itu sejak ia berumur 13 tahun, dengan kata lain ia sangat tahu bagaimana sifat Neneknya. Wanita tua itu memiliki hati sekeras batu. Setetes air mata tidak akan bisa melubangi hatinya apalagi meluluhkannya. Lagi pula, daripada menangis dan mengemis, Lera lebih ingin mengamuk karena perlakuan sang Nenek padanya.
"Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan mengemis pada Nenek tua itu atau pun pada Ayahku." ujar Lera dengan penuh keyakinan, "aku akan membuktikan pada mereka kalau aku akan bertahan walau tanpa fasilitas dari mereka. Aku akan bekerja dengan giat di perusahaan mulai saat ini, aku akan mencetak uangku sendiri."
Bian terkekeh melihat Lera yang begitu menggebu-gebu. Gadis ini memiliki sesuatu yang membuat dirinya cukup penasaran diluar konteks bahwa dia adalah salah satu ahli waris Estan Grup. Well, akan cukup sulit menghapadi gadis ini kalau tidak mempersiapkan alat tempur yang tepat.
"Kau cukup percaya diri." komentar Bian.
"Tentu, selama masih ada Emo, hidupku akan baik-baik saja."
Bian terdiam, dia sedang mimikirkan tawarannya pada Demon Estanbelt sebelumnya. Apakah pria itu akan menyetujui usulnya untuk mengirim Lera bekerja di perusahaannya atau justru menolaknya mentah-mentah? Kalau Demon menolak, maka rencana yang ia susun akan berantakan dan harus memikirkan cara lain agar bisa menjadikan gadis ini miliknya.
"Di mana kampusmu?" tanya Bian setelah mengemudi cukup lama namun tidak tahu arah tujuan.
"Kau tidak perlu mengantarku sampai kampus. Turunkan aku di sana, di halte depan sana — Heeeey!" Lera berseru karena bukannya memelankan laju mobilnya, Bian justru menekan gas semakin cepat.
"Kalau kau tidak mau memberitahu di mana kampusmu, aku akan membawamu ke apartemenku kalau begitu."
"Apa? Dasar gila!" umpat Lera sambil menatap Bian horor. "Jalan saja, nanti kuberitahu arahnya!!!" teriaknya kemudian.
Bian tergelak, ia merasa terhibur dengan wajah paranoid Lera saat ini. "Kau semakin cantik saat sedang marah." goda Bian pada gadis itu.
Lera mengerutkan keningnya, namun dia sama sekali tidak berminat untuk memberikan tanggapan. Meladeni orang gila seperti Bian tidak akan ada habisnya. Sisa perjalannya hanya untuk berteriak pada pria itu untuk menunjukkan jalan ke arah kampusnya.
Saat mobil yang Bian kendarai telah sampai di area kampus, Lera segera keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun. Demi Tuhan, ia sudah tidak kuat untuk berlama-lama dengan pria sinting itu, kepalanya sudah berasap sejak tadi dan dia harus menemukan sesuatu untuk mendinginkannya. Selain itu, bisa gawat kalau sampai Kenan memergokinya pergi ke kampus dengan pria lain, Kenan bisa salah paham dan peluangnya untuk bisa mendapatkan hati laki-laki itu akan semakin tipis.
"Hey, jam berapa kau pulang?" tanya Bian namun gadis itu sama sekali tak mengindahkannya. Satu hal yang membuat Bian kesal karena Lera keluar begitu saja tanpa mengatakan apapun, jangankan berterimakasih, menatapnya pun tidak sama sekali dilakukannya. "Lera, jam berapa kau akan pulang?"
Tck, dasar gadis keras kepala!
Bian baru saja akan keluar untuk menyusul Lera namun suara dering telpon di atas dasbor membuat pria itu mengurungkan niatnya, terlebih lagi ada nama Estan yang tertera di layarnya.
"Selamat siang, Mr. Estan, ada yang bisa saya bantu?" sapa Bian sedikit gugup.
Bian merasakan dadanya berpacu lebih cepat dari biasanya hanya karena menunggu sosok di seberang saluran untuk bicara. Ini mungkin tentang penawarannya tadi mengenai Lera.
"Aku sudah membicarakan dengan Nenek. Beliau setuju untuk menitipkan Lera di perusahaanmu. Tapi Nenekku berpesan kalau Lera harus bekerja dari bawah. Kau mengerti maksudku, kan?"
Bian menyeringai, ia merasakan perasaan lega bukan main. "Tentu saja."
"Baiklah, dia bisa mulai bekerja besok. Aku akan memberitahunya setelah ini." ucap Demon sebelum memutuskan sambungan telepon.
Menyandarkan punggung di sandaran bangku kemudi, Bian kembali melemparkan pandangan ke sosok Lera yang tengah berjalan menuju gerbang kampus sambil menatap ke arahnya, gadis itu menjulurkan lidah seperti anak kecil. "I got you, Lera."