Episode 9

1699 Kata
Zara berjalan di sebuah ruangan yang gelap dan kotor,  ia melihat mayat bergeletakan dimana-mana. Ia begitu kebingungan dan ketakutan. “Huaaahhhhhhh!” Suara teriakan itu sungguh membuat Zara ketakutan. Tak jauh dari tempatnya berdiri dia melihat sosok pria berbadan besar dan tinggi. Pria itu membawa cerurit di tangannya. “Hey kau!” pria itu menunjuk ke arah Zara. Zara sangatlah ketakutan,  ia berlari sekencangnya tetapi rasanya kakinya tak juga beranjak dari tempatnya. Orang itu semakin dekat. “Help... Help...” Zara terus berteriak sampai ia merasa tubuhnya di dorong dan dia jatuh menimpa tubuh mayat yang berlumuran darah. Ia menoleh ke belakangnya dan melihat pria tadi sudah berdiri du belakangnya dan mengacungkan ceruritnya. “Aaaaaaaaa!” Zara terbangun dengan keringat membanjiri tubuh dan wajahnya. Nafasnya terengah dan rasanya sedikit sesak. Ia menatap sekeliling ruangan dengan rasa takut. Sedikit bernafas lega karena itu hanya mimpi. Tetapi sampai kapan mimpi itu akan terus datang menghantui dirinya. Tok tok tok “Zara,  ini Ali. Apa kamu baik-baik saja?” ketukan itu menyadarkan Zara dari lamunannya. Zara beranjak dari atas ranjangnya dan memakai kerudungnya. Ia membuka pintu dan terlihat sosok Ali masih dengan pakaian kerjanya yang di bungkus jaket hitam. “Ada apa? Apa semua baik-baik saja?” tanya Ali kembali. “Iya Kak,  aku hanya kembali bermimpi. Kak Ali tidak pulang ke apartement?” “Aku hanya mampir sebentar,  memastikan keadaanmu dan semuanya baik-baik saja. Emm mau ngeteh bareng?” tawar Ali yang di angguki Zara. “Aku tunggu di pantry yah,“ seru Ali dan berlalu pergi meninggalkan Zara. Zara menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan merapihkan kembali kerudung dan cadarnya. Ali telah menyuguhkan dua gelas teh hangat di atas meja bar,  saat Zara datang menghampirinya. “Duduklah,“ ucap Ali dan Zara menurutinya,  kemudian ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Ali. “Apa kamu sudah lebih baik?” “Iya Kak,  aku sudah merasa jauh lebih baik.” Zara meneguk teh dalam mug miliknya dan merenung sesaat. Ali tampak menunduk menatap air teh di dalam mug nya yang begitu tenang. Ingin sekali ia menatap mata Zara,  tetapi itu akan menyiksa hatinya dan juga membuat dosa untuk Zara juga dirinya. “Tadi siang aku bertemu kak Alfa.” Jawaban Zara spontan membuat Ali menatap ke arah Zara yang ternyata juga tertunduk,  tatapannya terarah pada mug di genggamannya. “ Dia tampak baik-baik saja dan begitu tampan, “ kekeh Zara. “ Dia adalah Kakak idamanku,  walau sikapnya dingin dan cuek,  tetapi hatinya begitu lembut dan hangat.” Zara tersenyum dari balik cadarnya. Walau Ali tidak melihat senyuman Zara,  tetapi ia tau kalau Zara tengah tersenyum memikirkan Kakak kesayangannya itu. “Aku merasa begitu bahagia dan berbunga-bunga hanya mendengar suaranya yang tetap berat dan merdu. Aku begitu merindukannya,  ingin rasanya aku memeluk dia dan berkata aku adalah adikmu,  Zara.” Kini tatapan Zara tampak berkabut dan memerah. “Aku sangat merindukannya, “ gumam Zara tak kuasa menahan air matanya kini begitu saja lolos dari pelupuk matanya. “Sampai kapan kamu bersembunyi Zara?” tanya Ali. “Aku takut,  aku takut kalau mereka mengetahui keberadaanku,  hubungan kak Alfa dengan mereka kembali hancur. Aku juga takut mereka akan kembali membuangku,  aku sangat takut. Aku takut mereka mengetahui keberadaanku,  Kak. Luka ini belum sembuh, “ gumamnya. “Tetapi dengan begini kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri, “ ucap Ali. “Biarkanlah,  biarlah mereka hanya mengetahui kabar kalau aku sudah tiada. Dengan hanya melihat mereka dari jauh dan memastikan keadaan mereka baik-baik saja. Itu sudah sangat cukup untukku,  aku tak butuh yang lainnya lagi.” Ali sungguh merasa iba ada Zara,  traumanya membuat dia hilang rasa percaya dirinya. Hanya rasa takut yang selalu menyelimutinya. “Kamu kembali bermimpi buruk setelah satu bulan ini tak terjadi lagi. Apa aku harus kembali menghubungi Dr. Nara?” tanya Ali. “A-aku akan mendatanginya besok,“ jawab Zara. “Akan aku temani, “ jawab Ali yang di angguki Zara. Ω Alfa bersama Gio pergi ke tempat terjadinya pembataian para teroris beberapa tahun lalu. Tempat itu di kota terpencil di Boston. Sesampainya di sana,  tampak sekali masyarakatnya masih sedikit dan banyak bangunan bangunan yang sudah tak terpakai. Di sana tepat di dekat sebuah laut dan terdapat penjara bawah tanah yang kotor dan kecil. Penjara itu sudah tak terpakai,  tetapi menjadi objek sejarah karena banyak sekali teroris yang di bantai di sana. Alfa masuk ke dalam penjara yang kotor,  gelap dan bau amis. Ia berjalan menyusuri lorong sempit dimana kanan kirinya ada beberapa ruangan lalu sebuah penjara dengan jeruji besi yang sudah berkarat.       Alfa tak kuasa menahan air matanya yang begitu saja luruh membasahi pipinya. Dulu adiknya di sekap di tempat buruk ini. Bagaimana bisa anak sekecil Zara bertahan di tempat buruk seperti ini? Setelah darisana,  Gio membawa Alfa ke makam masal dimana jenazah teroris itu di kubur dalam satu liang lahat. Sesampainya di aama,  Alfa tak mampu lagi menahan beban tubuhnya lagi. Ia ambruk ke tanah tepat di hadapan makam itu. “Ini semua karena ketidakberdayaanku, dulu,“ gumam Alfa dengan mata memerah. Alfa terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena ia tak mampu melindungi adiknya. Dia tak mampu membuat Zara bahagia,  malah dia membuat Zara semakin menderita dan membiar para iblis itu menyiksa Zara. Kepingan masalalu melintas di kepalanya. Memancingkan sebuah penyesalan yang besar,  dimana Alfa yang hanya bisa terdiam melihat Zara di siksa,  di lempar gelas,  di pukul,  d cambuk dan masih banyak lagi. Alfa merasa sangat bodoh karena ketidakberdayaannya. “Hikz...” Alfa tak mampu lagi mengontrol emosinya yang memuncak dari dalam dirinya. Ia menangis terisak dengan tangan menggenggam tanah di depannya. Ia menggenggam tanah itu kuat-kuat. “Kendalikan dirimu, Alfa.” Gio memahami emosional yang terjadi pada Alfa. Ia berusaha menenangkan sahabatnya itu yang sungguh tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ω Zara melakukan kembali terapy dengan dokter psikiater,  atau Dokter spesialis kejiwaan. Selama beberapa tahun sebelumnya Zara memang sudah melakukan perawatan ini hingga dia mampu beradaptasi kembali dengan orang. Tetapi beberapa hal terjadi,  pertemuan dirinya dengan sanak keluarga di masalalunya kembali mengguncang kejiwaannya hingga Zara kembali terjatuh dalam keterpurukannya. Dokter tengah melakukan terapy kepada Zara kembali. Kini hanya tinggal Ali dan Dokter di dalam ruangan milik sang Dokter. Zara di buat tertidur di dalam ruangan perawatan, supaya dia merasa lebih tenang. “Bagaimana?” tanya Ali. “Zara memderita Post traumatic stress disorder (PTSD), kali ini emosionalnya tidak terkendali. Kalau dia tidak mampu mengontrol dirinya seperti ini,  keadaannya akan sangat fatal.” “Maksud Dokter apa?” “Zara bisa saja mengalami cedera otak,  dan ketakutan yang berlebihan bisa membuatnya kehilangan kendali diri. Dia bisa memyakiti dirinya sendiri dengan tak mau makan. Bahkan bisa sampai mengakhiri hidupnya, karena rasa takut dan kegelisahaan yang berlebih. Dan mengenai cedera otak ini,  akan memicu penyakit lain di dalam tubuhnya. Otak adalah sistem sarap manusia paling pokok,  kalau otak terganggu maka semua jaringan dalam tubuh bisa mendapat dampaknya.” Ali terdiam membisu,  ia tidak menyangka kini keadaan Zara semakin parah. “Apa dia bisa di sembuhkan?” tanya Ali. “Entahlah Ali. Tetapi ada beberapa hal yang sedikit bisa membantu meringankan PTSD ini.” “Apa?” tanya Ali. “Dukungan dari orang-orang terdekatnya. Jangan sampai Zara di biarkan sendirian dan melamun,  berikan dia dukungan dan semangat hidup,  buatlah dia berbaur dengan banyak orang atau kegiatan apapun yang positif. Tetapi jangan memaksanya,  tetap kita ayuh seperti maunya dia juga tetap mengarahkannya ke hal yang positif. Jadilah pendengar yang baik,  dengarkan apapun yang dia katakan. Zara melihat dunia ini seperti berbahaya dan menakutkan,  buatlah dia merasa aman dan percaya diri. Buatlah dia yakin bahwa orang-orang di dunia ini tidak semenakutkan itu. Kemudian yang terakhir atasi dan minimalisi sesuatu yang dapat memicu ingatannya ke masalalu. Tempat,  situasi,  orang-orang semua yang membuatnya ingat dalam traumanya di masalalu.” Jelas Dokter Nara. “Seperti yang pernah aku katakan dulu,  lebih baik Zara jauh sejauh-jauhnya dari orang-orang di masalalunya. Buatlah dia melupakan mereka dan membuka kehidupan yang baru. Itu adalah cara terbaik supaya Zara sembuh.” “Aku inginnya seperti itu,  tetapi ini keinginan Zara. Dia ingin kembali ke Boston hanya untuk melihat keadaan Kakaknya, tetapi itu ternyata memicu emosionalnya.” Ali tampak bingung. “Untuk sekarang turuti saja dulu kemauan Zara,  tetapi kalau bisa harus selalu ada orang yang menemani Zara selama 24jam. Jangan biarkan Zara sendirian.” “Ya Dok.” Ω Ali dan Zara kembali ke rumah Zara yang menyatu dengan toko. Beberapa karyawan menyapa mereka berdua termasuk Sahira. “Miss,  Ada tamu yang menunggu anda sejak tadi, “ seru salah satu karyawannya. “Sampaikan kalau Miss Lamia sedang tidak bisa di ganggu, “ ucap Ali. “Lamia!” seruan itu membuat mereka menoleh. “Kak Rival, “ gumam Zara berjalan mundur dengan tubuh bergetar. “Sedang apa kau di sini?” Ali langsung menghadang Rival dengan berjalan ke depan Zara. “Kau? Sepertinya aku mengenalmu,“ seru Rival berpikir sesaat. “Kau Ali kan? Teman sekolahnya Kak Alfa dulu?” Ali sedikit melirik Zara. “Ya Rival,  aku Ali.” “Ah ternyata benar,“ seru Rival tersenyum. “Kau sedang apa di sini? Dan Miss Lamia?” tanya Rival tampak bingung. “Ada apa kau kemari,  Rival? Jangan mengganggu Lamia, “ ucap Ali penuh penekanan. “Relax Brother,  aku hanya ingin memberikan bunga ini kepadanya,“ ucap Rival menunjukkan bucket bunga di tangannya. Zara terlihat jelas ketakutan, ia menundukkan kepalanya dengan tubuh yang berkeringat dingin karena takut. “Jangan mengganggunya lagi!” seru Ali tegas karena ia dapat mengetahui reaksi tubuh Zara. “Lamia is mine!” Mendengar penuturan Ali barusan membuat Rival tersentak kaget. “Ah benarkah itu?” Rival hanya terkekeh kecil. “Lalu bagaimana dengan Meyza? Kau mencampakkannya?” “Aku tak ada hubungan apapun dengan Meyza!” “Ya ya pria memang selalu berkata seperti itu kalau sedang bersama wanitanya yang lain, “ ucap Rival jelas-jelas menjatuhkan Ali. “Emm Miss Lamia,  aku simpan bunganya di sini yah.” Rival menyimpan bucket bunga di atas meja. “Dan berhati-hatilah dengan pria ini,  dia juga menjalin hubungan dengan adikku.” “Kau!” Ali tampak kesal mendengar penuturan Rival barusan. Dengan tanpa rasa bersalah Rival berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Ali baru saja berbalik ke arah Zara,  tetapi Zara sudah berlalu pergi terlebih dahulu menaiki undakan tangga. Ω          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN