Di dalam kamarnya Raisha duduk termenung sedirian karena Revan masih mengobrol dengan Papanya. Bagaimana kalau Revan mengetahui kondisinya? Apa sebaiknya Raisha mengatakan semua ini pada Revan? “Kamu melamun?” “Eh?” Raisha tersentak kaget saat pipinya di sentuh seseorang. “Van...? emm, nggak kok. Aku nggak melamun,” seru Raisha tersenyum kecil. Revan duduk berjongkok di depan Raisha dan menggenggam tangan Raisha di atas pangkuan Raisha. “Jangan sedih dengan ucapan Mama tadi,” seru Revan. “Aku tidak sedih karena itu kok, Van. Aku hanya-“ ucapan Raisha menggantung di udara. “Aku tau kamu memikirkan tentang anak, kita harus sabar dan terus berdoa sama Allah. Kita juga harus berusaha lagi untuk bisa memiliki anak. Yakin saja sama Allah,” seru Revan yang di angguki Raisha. “Bagaimana

