Ada yang Aneh dengan Marvel

1039 Kata
Plak! Permukaan tangan Delavar yang lebar menggeplak kepala Deavenny sebelah kanan hingga menimbulkan bunyi tak terlalu kencang, karena ia tak sungguh-sungguh menyakiti kembarannya. "Kau baru datang main peluk saja," omelnya. Matanya melirik area sekitar, takut kekasih Marvel masih berada di sana dan melihat kelakuan si bungsu yang mungkin akan berakibat pada kesalah pahaman. "Aduh ...." Deavenny memegangi kepalanya. "Bisa berceceran kecerdasanku ini," kelakarnya kemudian. Matanya mendongak menatap pria jangkung yang sudah tak ia peluk lagi. "Marvel, tolong bantu pegangi kepalaku agar tetap pintar," selorohnya. Marvel terkekeh lucu dengan dua sepupunya itu. Ia tahu betul keluarga Dominique memang sering melakukan hal tersebut satu sama lain, tapi tak sampai menyakiti. Saling menggeplak adalah kebiasaan anak-anak keluarga Dominique. "Tidak akan hilang kepintaranmu asal kau mau belajar terus," ujar Marvel menanggapi Deavenny. Tangannya terulur untuk mengelus kepala Deavenny yang tadi mendapatkan sapaan dari Delavar. Dan memberikan kecupan sekilas, tepat di tempat Delavar menggeplak Deavenny. Kornea mata Marvel beralih menatap Delavar, tanpa menghentikan tangannya yang membelai Deavenny. "Biarkan saja, lagi pula dia sudah biasa melakukan itu padaku," tuturnya menjelaskan bahwa dirinya tak masalah Deavenny tiba-tiba memeluknya. Ia justru senang ada seseorang seperti Deavenny dalam hidupnya. Wanita ceria yang jarang terlihat menangis ataupun bersedih dalam waktu yang lama, sepupunya selalu cepat kembali dalam perasaan bahagia. Deavenny menjulurkan lidahnya mengejek kembarannya seraya jari tengah ia acungkan untuk Delavar. Mengisyaratkan bahwa dirinya menang karena Marvel membelanya. "Ck! Keenakan kau itu dielus Marvel, sini." Delavar menarik Deavenny ke sisinya agar menjauh dari pria jangkung itu. "Jangan terlalu manja dengan sepupumu, lebih baik denganku atau Dariush saja. Kau kan memiliki dua kembaran yang masih belum menikah," tuturnya seraya mengacak-acak rambut Deavenny. Sebelum Delavar mengetahui hubungan Marvel, ia tak masalah jika kembarannya sangat lengket pada sepupunya. Namun, sekarang kondisinya berbeda karena tentu saja ia harus sedikit menjauhkan Deavenny dari Marvel, daripada anak terakhir keluarga Dominique itu menjadi perusak hubungan orang lain. Deavenny berdecak dan mencubit kecil perut Delavar. "Maksudmu, aku harus bermanja denganmu atau Dariush, lalu aku jatuh cinta dengan kembaranku sendiri seperti perasaan aku pada Marvel, begitu?" tanyanya. Namun belum ada yang menjawab, ia sudah melanjutkan lagi ucapannya. "Dih! Tak mau lah," cibirnya dengan mengibaskan tangannya. "Marvel tetap nomor satu." Telunjuk kanannya ia angkat dan tunjukkan pada Delavar. Delavar menepuk jidatnya sendiri seraya menggelengkan kepalanya. "Benar-benar terlalu pandai kau itu, Dea." Ia merutuki Deavenny yang salah menangkap maksud dari ucapannya. Hanya pria berhati sabar yang mampu menghadapi seorang Deavenny. "Lebih baik kita lanjutkan untuk belanja daripada terus berdiri di sini," pungkas Delavar. "Ayo," ajaknya dengan melingkarkan tangan kirinya ke pundak Deavenny untuk menuntun wanita itu mengikutinya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mendorong troli. "Tunggu," cegah Deavenny sebelum kakinya melangkah dan berhasil membuat Delavar tetap bertahan di posisi semula. "Apa?" tanya Delavar. "Marvel belum menjawab pertanyaanku tadi," jawab Deavenny yang masih mengingatnya. Ia memutar tubuhnya ke kiri sebesar sembilan puluh derajat. "Jadi, kenapa kau di sini? Apa kau juga mau ikut barbeque bersama kami?" Ia mengulangi pertanyaannya. "Kau itu ingin tahu sekali urusan orang lain. Ini kan tempat umum, wajar saja jika Marvel berada di sini." Bukan si pria bertubuh jangkung yang menjawab, namun suara Delavar lah yang menyahut. "Ck! Kau itu menyerobot saja, aku kan bertanya pada suami masa depanku, bukan denganmu," decak Deavenny menegur Delavar. "Sama saja," balas Delavar. Deavenny menempelkan telunjuknya di bibir kembarannya, mengisyaratkan agar Delavar diam. "Biar Marvel yang menjawabnya. Aku ingin mendengar darinya," kukuh Deavenny. Matanya kembali menatap pujaan hatinya dengan kepalanya mendongak ke atas. Marvel pun merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan Deavenny agar sepupunya tak terlalu sakit lehernya. "Aku ada urusan di sini, dan aku tidak ikut keluargamu untuk barbeque karena ada kepentingan lain," tuturnya sangat lembut, pandangan matanya pun begitu meneduhkan hati. Pantas saja Deavenny jatuh cinta pada sepupunya sendiri. Marvel begitu sabar menghadapi sifat Deavenny. Deavenny pun berohria menjawab penjelasan Marvel. "Apakah urusanmu itu sangat penting?" tanyanya lagi. "Hm." Marvel menjawabnya singkat dengan senyuman dan anggukan kepala. "Baiklah, aku tak akan merepotkanmu hari ini. Semangat menjalani aktivitasmu." Deavenny mengepalkan tangannya di depan dadanya dan berucap dengan berapi-api. Cup! Wanita berambut pirang itu mencuri kecupan sekilas di pipi Marvel tanpa persetujuan. "Hadiah untukmu hari ini," selorohnya menunjukkan rentetan giginya. Delavar menempelkan telapak tangan kirinya ke dahi Deavenny dan memundurkan wajah kembarannya agar tak terlalu dekat dengan Marvel. "Semakin liar saja kau," cibirnya. "Ayo." Ia mengeratkan rangkulan di pundak Deavenny agar tak menyosor lagi pada Marvel. "Kami pergi dulu," pamit Delavar pada Marvel dan mengajak Deavenny agar melangkah. "Bye, suami masa depanku." Deavenny merentangkan tangan kirinya, telapak tangannya mengarah ke Marvel, dan ia menggoyangkannya untuk memberikan salam perpisahan. "Bye." Marvel pun melakukan hal yang sama pada Deavenny. "Jangan lupa mandi," peringatnya. Ia bisa menilai dari pakaian sepupunya yang masih menggunakan piyama. "Siap, Kapten." Deavenny membalas dengan suara bersemangatnya, tangannya memberikan hormat sekilas. Delavar menyempatkan diri untuk menengok ke belakang. Ia sedari tadi mengamati dan menilai semua gerak-gerik Marvel pada Deavenny. Mulai dari tatapan mata hingga seluruh perlakuan yang diberikan oleh Marvel. "Ada yang aneh dengannya, sepertinya perlu diadakan sidang dua keluarga," gumamnya sangat lirih. "Kau bicara denganku? Aku tak mendengar jelas," ucap Deavenny meminta Delavar mengulangi lagi. "Siapa yang berbicara? Sepertinya kau harus dibawa ke dokter THT," seloroh Delavar mengelak. Deavenny dan Delavar kini tengah berjalan berdua membeli bahan-bahan untuk barbeque. "Sungguh, aku mendengarmu berbicara, namun sangat pelan sampai aku tak menangkap dengan jelas," ungkap Deavenny. "Atau, semua hanya ilusiku saja, ya?" Ia menggaruk kepalanya sendiri bingung. "Sudah, tak perlu dipikirkan, daripada kau pusing sendiri," sahut Delavar sembari mengambil daging segar dan memasukkan ke dalam troli. "Benar juga, lebih baik aku memikirkan cara agar Marvel mau menikahiku," kelakar Deavenny. "Berhenti berangan-angan dengannya," tegur Delavar. Namun Deavenny tak memperdulikan hal itu. Ia menjulurkan lidahnya, memberikan tanda bahwa dirinya tak mau menuruti. Sementara itu, Marvel yang sudah sampai ke tempat parkir pun tengah bingung mencari keberadaan kekasihnya. Setelah kedua sepupunya tak terlihat dari penglihatannya, ia langsung pergi untuk menemui wanita yang datang bersama dirinya itu. Namun, ternyata di dalam mobilnya tak ada orang. "Di mana dia?" gumam Marvel. Ia mengelurkan ponselnya untuk menghubungi sang kekasih. "Kenapa tak diangkat? Apa dia marah karena aku lama menyusulnya?" Marvel masih bergumam. Sudah tiga kali ia mencoba menelepon. "Atau dia sudah pulang sendiri?" Tangannya memijat pelipisnya seraya jemari lainnya memencet layar ponsel untuk mengirim pesan pada sang kekasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN