Mereka menghentikan pembicaraan tentang Marvel saat melihat Deavenny keluar dari mansion dan berjalan menuju ke arah tempat barbeque yang sudah siap di sana. Mereka tak ingin mengatakan terlebih dahulu pada Deavenny tentang Marvel dan kekasihnya, karena ingin mengetahui motif sepupu mereka yang meminta merahasiakan hubungan. Keenam anggota Triple D dan istri Danesh itu tak ingin gegabah. Pasti ada maksud sendiri mengapa Marvel meminta hal tersebut.
"Ssshhh ...." Delavar berdesis memberikan isyarat untuk diam, telunjuk kanannya ia tempelkan di bibir. Ia sengaja melakukan hal itu untuk menggoda si bungsu, memancing keingintahuan wanita berambut pirang itu.
"Aku datang, kenapa kalian diam? Pasti kalian membicarakan aku, ya?" Deavenny berucap sangat percaya diri. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa samping Danesh dengan tangannya mengibaskan rambut.
"Rahasia ... ingin tahu saja kau itu," balas Delavar. Ia yang sudah berdiri pun mengacak-acak rambut Deavenny. "Lebih baik kita mulai saja barbequenya," ajaknya.
"Hish ... rambutku baru ku curly, sudah kau hancurkan lagi," keluh Deavenny seraya menyisiri rambutnya sendiri menggunakan jari.
"Kau lebih cocok berantakan," ejek Dariush ikut mengacak-acak rambut Deavenny juga. Ia pun menyusul Delavar yang sudah berdiri di depan alat pemanggang.
"Dariush ...!" seru Deavenny. Ia mengambil buah apel yang ada di atas meja dan melemparkannya pada saudara kembarnya. Namun berhasil ditangkap oleh pria berwajah serius itu.
Dariush menjulurkan lidah mengejek Deavenny yang tak berhasil menimpuknya dan menggigit buah apel itu.
Deavenny beralih menatap Danesh. "Kau tak ikut-ikutan menghancurkan rambutku? Agar aku tak perlu merapikannya dua kali," tawarnya. Ia tak ingin setelah rapi akan diacak-acak oleh kembarannya lagi.
Danesh menggedikkan bahunya. "Tidak, untuk apa," balasnya santai.
"Ya sudah. Awas saja kau mengacak-acak rambutku," ancam Deavenny. Ia pun kembali menyisir surainya menggunakan tangannya lagi.
Namun sungguh mengesalkan, Danesh merusaknya. Dan langsung kabur mendekati dua kembarannya.
"s**t! f**k you, Boys!" umpat Deavenny. Ia berdiri, lalu menghampiri ketiga kembarannya.
Plak! Plak! Plak!
Telapak tangan halus itu menggeplak Danesh, Dariush, dan Delavar secara bergantian.
Ketiga pria itu hanya membalas dengan kecupan di puncak kepala Deavenny seraya mengucapkan, "i love you."
Keempat saudara kembar itu memang manis, menyayangi dengan cara mereka sendiri.
Mereka pun akhirnya melangsungkan acara barbeque di sore hari hingga menjelang gelap. Mereka saling bergurau, bahkan bersenandung bersama. Meskipun tak ada satu anggota keluarga yang memiliki suara bagus.
Setelah selesai, Deavenny, Dariush, Delavar, Mommy Diora, dan Daddy Davis pun berniat untuk menginap di sana. Lagi pula besok masih libur. Mereka melanjutkan berkumpul di ruang keluarga, karena udara malam di luar tak baik untuk dua bayi yang baru berusia enam bulan itu.
"Hoam ... aku ke kamar duluan, ya. Ngantuk sekali," pamit Deavenny yang sedari tadi sudah menguap. Ia tak pernah begadang, jam tidurnya selalu pukul 22:00 waktu Finlandia. Dan sekarang sudah pukul 22:10, artinya ia terlambat sepuluh menit dari jam tidurnya.
Deavenny mengecup satu persatu anggota keluarganya sebelum berlalu pergi. "Malam, keluargaku tercinta." Ia berucap dengan melambai dan berjalan menuju lantai dua.
"Aku juga akan menidurkan Annora dan Agathias ke kamarnya." Danesh dan Felly pun ikut pergi. Keduanya mengambil alih anak mereka yang seharian penuh digendong oleh kakek dan neneknya.
Tinggallah Dariush, Delavar, Mommy Diora, dan Daddy Davis di ruangan itu. Mereka melanjutkan menonton film kesukaan Daddy Davis, Titanic. Mereka cekikikan pada adegan Jack dan Rose saat di kereta kencana. Mereka mengingat cerita dari pengalaman absurd Mommy dan Daddynya yang terguling saat menirukan bermain kuda-kudaan di dalam kereta kencana.
"Daddy sudah bilang ke uncle George kalau kita ingin melakukan pertemuan dua keluarga?" tanya Delavar pada Daddy Davis setelah mereka selesai menonton film dan waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Uncle George adalah Daddy Marvel. Sahabat Daddy Davis semasa muda dan hingga sekarang pun hubungan itu masih terjalin. Bahkan sekarang menjadi keluarga karena istri mereka memiliki hubungan persaudaraan.
"Belum, nanti saja aku telepon dia," jawab Daddy Davis. Ia masih asik mendusel pada istrinya.
"Aku punya ide." Dariush yang sedari tadi diam saja karena fokus menonton film pun mengeluarkan suaranya.
"Apa?" tanya Delavar dan kedua orang tuanya bersamaan.
"Bagaimana kalau kita menggerebek dia di kantornya saat jam kerja? Sepertinya akan seru. Daripada kita merencanakan pertemuan dengannya, lebih baik mengejutkannya saja," celetuk Dariush memberikan ide. Pria itu memang berwajah tampan dan serius, namun jika bersama keluarganya selalu jahil. Tapi juga penyayang.
"Boleh juga." Ketiganya pun menyetujui rencana Dariush.
Mereka berempat akhirnya kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Tanpa membersihkan tubuh, karena sudah terlalu larut. Lebih tepatnya, malas menyentuh air pada tengah malam.
.
Sinar matahari itu ingin menyusup masuk ke dalam kamar bercat putih milik Deavenny. Celah-celah jendela itu berhasil diterobos oleh sedikit cahaya.
Tubuh semampai yang masih menggunakan hot pants dan tank top untuk tidur itu menggeliat akibat cahaya menyilaukan matanya. "Huft ... tidak bermimpi Marvel lagi," keluhnya setelah bangun tidur. Ia pun melihat jam di atas nakas, sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Deavenny langsung turun ke bawah tanpa mencuci muka, perutnya sudah lapar ingin sarapan.
"Morning," sapa Deavenny pada anggota keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan. Dan dijawab kompak oleh semuanya. Ia mengecup satu persatu orang yang ada di sana, lalu duduk di kursinya.
"Sarapanmu." Daddy Davis langsung memberikan roti dengan selai kacang kesukaan putri satu-satunya itu. Bahkan, masalah makan pun ia memanjakan putrinya, karena ia senang melakukan hal itu. Tiga putranya terlalu mandiri.
Mereka pun sarapan bersama, sesekali mereka mengobrol hal kecil.
"Aku pinjam kartu identitasmu untuk mengurus kepergian kita ke Hawaii," ujar Dariush setelah selesai memakan sarapannya. Ia bertugas untuk memastikan perjalanan lancar, mulai dari transportasi hingga izin berlibur di negara lain.
Mereka sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk merayakan pesta akhir musim panas. Dan Hawaii adalah tujuannya.
Deavenny menggigit bibir bawahnya. Ia ingat jika dompet yang berisi kartu identitasnya hilang. Bola matanya memutar untuk mencari alasan. "Kan aku ke sini tak membawa dompet. Tak ada kalau sekarang."
"Iya, maksudku juga bukan sekarang, tapi nanti kalau kita sudah pulang ke mansion Dominique," balas Dariush.
Deavenny menelan salivanya dan menyengir kuda. Ia segera menyelesaikan sarapannya dan kembali masuk ke dalam kamar.
Wanita yang belum mandi itu meraih ponselnya yang kemarin lupa terbawa namun sudah diambilkan oleh bodyguardnya. Ia menghubungi Marvel untuk meminta bantuan mencari dompetnya.
"Halo?" sapa Marvel dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Marvel, tolong aku. Bantu aku mencari dompetku, atau mengurus kartu-kartuku yang ikut hilang," pinta Deavenny dengan suara manjanya.
Deavenny tak mungkin mengatakan pada saudaranya tentang kejadian kemarin lusa. Keluarganya itu sangat posesif menjaganya. Jika tahu dia kabur, tak membawa ponsel, apa lagi sampai kehilangan dompet, bisa berakhir bodyguardnya bertambah banyak dan ruang geraknya semakin tak bebas lagi.
Maka dari itu, Marvel adalah tempat terbaik untuk memecahkan masalahnya. Sepupunya yang tak pernah bosan jika direpotkan olehnya dan selalu membantu dengan senang hati.