Kelopak dengan bulu mata lentik itu mengerjap beberapa kali. Wanita itu menghela napasnya panjang. Dia adalah kekasih Marvel. Tubuhnya yang tertidur miring berpindah menjadi berbaring dan menatap langit-langit kamarnya.
Sedari tadi ia sudah bangun. Namun ia pura-pura tidur karena mengetahui Marvel mengangkat telepon dari seseorang. Dan dia mendengar semuanya. Semua percakapan kekasihnya dengan Deavenny.
Tubuhnya tertutup baju tidur dengan model chemise—gaun yang panjangnya sebatas paha, potongannya menyerupai babydoll bertali pundak tipis dan mengekspose bagian d**a wanita itu yang mulus.
Ia duduk dan bersandar di headboard. "Sepupunya lagi yang diutamakan," desahnya.
Ini bukanlah kali pertama Marvel meninggalkannya sendiri. Bahkan bisa dikatakan hampir setiap saat jika Deavenny menelpon dan meminta bantuan, pasti langsung diiyakan.
Jemarinya yang lentik meraih ponsel di atas nakas saat bunyi alarm berbunyi. Ia melihat tulisan di layar ponselnya. Benda pipih itu menampilkan pengingat jadwal hariannya. "Sepertinya dia lupa jika hari ini ada janji akan berkencan denganku ke festival kuliner," keluhnya.
Kekasih Marvel itu meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas. Ia menurunkan kakinya untuk menyentuh lantai. Dia memilih untuk menyegarkan hati dan pikirannya dengan mandi di bawah guyuran air shower yang dingin.
Tubuh polosnya langsung basah. "Aku tak boleh cemburu. Mereka kan keluarga, sudah sepantasnya dia perhatian dengan sepupunya." Ia mencoba meyakinkan diri sendiri, mengingat sifat kekasihnya yang memang menomor satukan keluarga.
Rambutnya kini penuh dengan busa dari shampo. "Tapi, bukankah Deavenny memiliki tiga kembaran laki-laki? Untuk apa dia selalu merepotkan Marvel?" gumamnya.
"Ah ... dia kan memang manja. Mungkin karena Marvel terlalu perhatian," imbuh kekasih Marvel. Ia bergulat dengan pemikirannya sendiri.
Hembusan napas kasar keluar lagi dari bibir tipis dengan cupid's bow yang tampak jelas itu. Ia melanjutkan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai di bawah air shower, dia justru masuk ke dalam bathup.
"Astaga ... gara-gara memikirkan Marvel, aku jadi terbalik. Seharusnya aku berendam dulu baru mandi dengan shower," desahnya.
Namun, ia tetap melanjutkan berendam dengan air hangat. Kegagalan rencana kencan seharian penuh untuk yang kesekian kalinya membuatnya kurang fokus.
Sementara itu, Deavenny dan Marvel baru saja sampai di festival kuliner yang ada di Kansalaistorin Puiston. Ya, tempat yang seharusnya menjadi lokasi kencan Marvel dan sang kekasih. Namun berakhir Marvel dengan Deavenny yang ke sana.
"Ramai sekali," cicit Deavenny dengan wajahnya yang terlihat bahagia. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di festival kuliner. Hidup bergelimang harta bukan berarti dirinya bebas melakukan apa pun, justru ia lebih banyak larangan dibandingkan kebebasan.
Tempat itu dipenuhi oleh penduduk lokal maupun turis yang sengaja datang ke sana.
"Ayo, kau ingin makan ice cream, kan? Sepertinya di sana enak," ajak Marvel. Dia menunjuk outlet yang ramai oleh orang mengantri.
Deavenny mengangguk setuju. Dia pun mengayunkan kakinya mengekori pria jangkung itu. Tangannya memegang bagian belakang jaket milik Marvel.
Namun, Deavenny melepaskan pegangannya karena tali sepatu catsnya terurai. Ia ingin membenarkannya, tapi sepupunya itu terus berjalan maju.
"Marvel ...," panggil Deavenny.
Membuat Marvel yang berada dua langkah di depan Deavenny itu menghentikan langkah kakinya. Dan berbalik. "Astaga ... maaf, aku kira kau masih memegang jaketku," sesalnya karena berjalan mendahului sepupunya. Ia tak sadar jika sepupunya tertinggal di belakangnya.
"Tunggu. Tali sepatuku terurai," adu Deavenny. Ia menunjuk sepatunya dengan telunjuk kanannya.
Tanpa banyak bicara, Marvel mendekati Deavenny. Ia berjongkok di depan sepupunya dan ingin membenarkan tali sepatu milik wanita yang selalu memberinya energi positif karena setiap hari terlihat ceria.
"Eh ... aku bisa sendiri," ucap Deavenny ikut berjongkok. Ia tak enak jika Marvel merendahkan tubuhnya. Sudah merasa seperti budaknya saja.
"Biar aku lakukan sendiri." Deavenny menyingkirkan tangan Marvel.
Marvel meletakkan tangannya di atas lututnya yg ditekuk. Matanya menatap sepupunya. "Oh ya? Yakin kalau kau bisa? Aku tahu kalau tadi yang memakaikan sepatumu itu pelayan di rumah Danesh." Ia menaikkan sebelah alisnya. Ingin melihat seberapa bisa Deavenny melakukan hal kecil itu sendirian.
Deavenny menyengir kuda. "Tahu saja kau itu." Ia membenarkan tebakan Marvel. Memang benar ia tak memakai sendiri sepatunya. "Lihat, ya. Aku bisa." Tangannya pun memegang ujung-ujung tali itu. Dan menalinya secara asal-asalan.
"Selesai," ucap Deavenny dengan bangga.
Marvel terkekeh seraya mengacak-acak rambut Deavenny. "Bukan seperti ini cara menalinya. Ini namanya simpul rantai, memang benar lebih kuat. Tapi tak estetis untuk style casual seperti kita, membuatnya tak enak dilihat," tuturnya. Ia pun dengan sabar mengurai lagi talinya dan membenarkan seperti miliknya.
Deavenny lagi-lagi menyengir. "Maaf, jadi merepotkanmu lagi."
Keduanya pun berdiri. Rambut pirang itu diacak-acak dengan gemas oleh tangan Marvel. Sudah kesekian kalinya pria itu melakukan hal tersebut. Ia sudah terbiasa dengan hal itu, sehingga membuat jari-jarinya reflek terulur menyentuh bagian kepala Deavenny.
"Mulailah belajar sendiri dari hal kecil. Jangan selalu bergantung pada orang lain, karena tak selamanya orang-orang di sekitarmu bisa berada di sisimu terus," nasihat Marvel pada Deavenny.
Kepala Deavenny mengangguk beberapa kali dengan ritme cepat. "Aku akan mulai belajar memakai sepatuku sendiri."
"Jangan hanya sepatu, tapi semua hal. Mulai dari mengambil makananmu sendiri, bahkan mencari pakaianmu sendiri. Meskipun keluargamu mampu membayar orang lain, tapi alangkah lebih baiknya jika kita meringankan beban pekerjaan orang lain," imbuh Marvel menasehati.
Marvel tahu betul betapa manja sepupunya. Pakaian pun harus selalu disediakan saat hendak mandi. Mungkin bisa dibilang, Deavenny tinggal terima beres saja. Itulah sebabnya Deavenny tak juga beranjak dewasa di usianya yang seharusnya tak kekanakan lagi.
"Oke, Kapten. Aku akan menuruti semua perintah dari suami masa depanku," balas Deavenny antusias. Ia memberikan isyarat menggunakan jempol dan telunjuknya yang membentuk angka nol dan tiga jarinya yang lain lurus ke atas.
Marvel tak menanggapi panggilan itu. Baginya, percumah dirinya melarang Deavenny memanggil suami masa depan, karena sepupunya itu wanita yang cukup keras kepala jika berkaitan dengan hati. Bahkan, ia sudah pernah mengatakan jika mereka tak akan pernah bisa bersatu karena memiliki hubungan keluarga, tapi sepupunya tetap kukuh dengan pendiriannya.
Sudahlah, Marvel pun tak ambil pusing. Selagi Deavenny senang, dia juga akan senang. Karena keceriaan Deavenny adalah sumber semangat juga untuknya.
"Ayo, agar kita tak semakin lama mengantri di sana," ajak Marvel agar Deavenny kembali berjalan.
"Gandeng," rengek Deavenny. Ia merentangkan tangan kanannya ke arah Marvel.
Marvel pun mengulurkan tangan kirinya dan menggengam tangan Deavenny dengan erat. Tanpa ada suara sedikit pun yang keluar dari mulutnya.
Langkah kaki keduanya bergerak secara bersamaan. Deavenny mengayunkan tangannya yang digenggam oleh Marvel.
"Marvel," panggil Deavenny lagi tanpa menghentikan kakinya yang tengah berjalan.
Marvel pun menengok ke samping, menatap Deavenny. "Hm?" Bibirnya sedikit tersenyum membuat wajahnya terlihat semakin tampan di mata Deavenny.
"Aku mencintaimu," ungkap Deavenny. Ia pun mengecup permukaan tangan Marvel yang menggandengnya.
Marvel tak membalas ungkapan cinta itu. Ia hanya tersenyum. Itu bukan kali pertama Deavenny mengucapkannya. Bahkan sudah tak terhitung lagi berapa banyak ucapan cinta untuknya. Tapi selalu dibalas dengan senyuman.