Daddy Davis sudah mengeraskan rahang melihat keponakannya yang berani melanggar hukuman darinya. Padahal masih tersisa lima hari lebih sepuluh jam lagi hukuman itu berakhir. "Bocah itu benar-benar nekat, apa maksudnya menyusup ke kamar Deavenny seperti itu?" gerutu Daddy Davis mengepalkan tangannya dan memukul meja kerja Danesh. "Apa dia mau memberikan makanan tak sehat lagi pada putriku?" pikirnya. "Mana mungkin, Marvel terlihat sangat menyayangi Deavenny. Sepertinya dia hanya menjenguk," balas Danesh mencoba membuat Daddynya tak berpikiran buruk pada sepupunya. "Awas saja kalau Deavenny sampai sakit lagi, ku kirim dia ke Zimbabwe," kesal Daddy Davis. Ia menepuk pundak Danesh dan membuat putranya itu mendongak. "Apa?" tanya Danesh. "Kau itu tak pengertian sekali, Daddy sudah tua. Kau

