Kelvin tiba hampir sama waktunya saat ia berangkat ke bandara. Karena kondisi tubuh kurang fit, ia meminta sopir ibunya yang menjemput. Dari bandara, Kelvin menitipkan koper untuk dibawa ke rumah ibunya pada sopir. Ia memanggil taksi, lalu menuju ke suatu tempat. Kelvin menyelusuri lantai koridor rumah sakit hingga tiba di depan pintu kamar pasien yang sedang dirawat. Setelah ia mengetuk, seorang pria membukakan pintu. Sedikit terkejut, tetapi beliau mempersilakannya masuk. Pria itu selalu tersenyum ramah. "Nak Kelvin, apa kabar?" sambut Pak Rahman. "Baik, Pak! Saya mau bertemu putri Anda ... apakah boleh?" "Tentu saja boleh. Silakan! Tapi si Neng sudah tidur. Hehe," kekehnya. Bu Widya yang sedang terlelap di atas sofa panjang sebelah Pak Rahman, terbangun mendengar suara suaminya sed

