5. Ketulusan Hati

2148 Kata
Walaupun Azlan dan adik-adiknya mengalah pada  mama mereka dan membiarkan Faza tetap tinggal di rumah, tetap saja mereka belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran Faza. Bagi mereka Faza tetaplah orang asing di dalam keluarga ini. Tapi Azlan tidak ingin lagi terlalu memikirkan hal ini, karena ada yang lebih penting di bandingkan masalah di rumahnya ini. Karena dirinya masih harus meyakinkan kalau dia mampu dan pantas untuk memimpin perusahaan yang di bangun oleh papanya. “ Lan.” Panggil mamanya yang langsung masuk kedalam kamar putra sulungnya. “ Iya ma.” Jawab Azlan yang sedang merapikan pakaiannya yang sedang bersiap untuk berangkat ke kantor. “ Apa kamu udah siap mau berangkat.” “ Iya ma.” Jawabnya. “ Makasih ya sayang, karena kamu sudah mau menerima Faza di rumah ini.” Ucap mamanya. Mendengar ucapan mamanya membuat Azlan berhenti dari aktivitasnya. Dia langsung berbalik memandang mamanya. “ Azlan melakukan ini karena Azlan ngga mau berdebat dengan mama, dan itu bukan berarti Azlan menerima dengan mudah ma. Hanya saja sekarang masalah ini bukan menjadi prioritas untuk Azlan. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus Azlan urus.” Jawabnya yang langsung meninggalkan mamanya dan mengambil kopernya. “ Kamu mau kemana lan.” Tanya mamanya yang bingung ketika melihat putranya membawa sebuah koper. “ Maaf sebelumnya karena Azlan baru mau bilang ke mama. Karena kemarin Azlan mau bilang ke mama tapi mama terlalu sibuk dengan anak baru mama itu.” “ Azlan please jangan mulai lagi.” “ Ok.. ok. Azlan beberapa hari kedepan mau izin buat ke luar kota untuk mengurus proyek yang sedang Azlan jalankan sekarang ma. Azlan harus benar-benar memantau sampai proyek ini berhasil. Karena proyek pertama inilah salah satu alasan untuk membuat orang-orang di kantor yakin kalau Azlan mampu ma.” Jawab Azlan. “ Ok sayang, mama izinkan. Mama yakin kalau Azlan mampu. Mama pun tahu kalau Azlan punya kemampuan yang luar biasa dan bahkan Azlan akan lebih hebat dari papa.” Ucap mamanya yang terharu karena puteranya akan berjuang untuk perusahaan yang dibesarkan oleh papanya. Sebelum Azlan pergi, mamanya pun memeluk dirinya. “ Makasih ma.” Ucapnya sambil membalas pelukan dari mamanya. Dia sebenarnya tidak suka melihat ataupun membuat mamanya terluka dengan semua ucapannya. Dia tahu apapun yang di lakukan mamanya, dia tidak berhak untuk marah. Tapi dia hanya ingin mamanya tahu kalau tidak semua apa yang mamanya lakukan itu benar. *** Selama di luar kota Azlan benar-benar menunjukkan kemampuannya. Terlebih lagi saat dia sedang rapat dengan kliennya. Mereka semua setuju dengan mudahnya langsung setuju dengan ide-ide yang diberikan Azlan untuk proyek yang sedang dijalankan ini. Karena Azlan benar-benar memperhatikan nilai positif dan negative tentang segala sesuatunya. Bahkan dirinya sampai memperhitungkan kemungkinan terburuknya. Kehati-hatiannyalah yang membuat dirinya kali ini dipercaya sepenuhnya oleh kliennya untuk memimpin. Pak Guntur begitu bangga melihat semangat serta kerja keras Azlan yang begitu besar. “ Lan.” Panggil pak Guntur saat mereka sudah selesai rapat. “ Iya om.” “ Om seperti melihat sosok papamu ada dalam dirimu. Semangatmu ini selalu mengingatkan om tentang papamu.” Ucap pak Guntur dengan memegang bahu Azlan. “ Semua yang Azlan lakukan ngga jauh dari usaha om Guntur juga, om yang selalu memberikan Azlan semangat.” “ Om hanya melakukan apa yang om bisa bantu lan.” “ Ya om. Azlan janji ngga akan mengecewakan om. Oh ya om ada yang mau Azlan tanyakan pada om.” “ Tentang apa lan.” “ Ini bukan tentang pekerjaan sih om, ini masalah pribadi.” “ Masalah pribadi apa.” “ Selain om dekat dengan papa, om kan juga dekat dengan mama. Apa om tahu tentang mama yang mengadopsi anak dari panti asuhan.” “ APA. Mamamu mengadopsi anak.” Ucap om Guntur yang ternyata juga terkejut. “ Om ngga tahu apa-apa lan, om pun baru tahu darimu. Kenapa mamamu harus mengadopsi anak lan.” Tanya balik om Guntur. “ Azlan pun ngga tahu dengan jalan pikiran mama yang tiba-tiba melakukan hal ini om. Azlan pikir mama diskusi dulu dengan om sebelum mengadopsi anak itu.” “ Mamamu ngga pernah cerita tentang masalah ini lan, kalau dia menghubungi om, yang ditanyakan selalu keadaanmu di perusahaan.” “ Azlan dan adik-adik pun terkejut dengan keputusan mama om, dia hanya bilang kalau dirinya mulai kesepian karena anak-anaknya semakin besar-besar. Makannya dia ingin merawat anak yatim piatu itu om. Tapi Azlan masih berat menerima keputusan mama ini om. Azlan minta saran dari om, apa yang harus Azlan lakukan sekarang om.” Tanya Azlan yang wajahnya memperlihatkan kebingungannya. Om Guntur langsung menepuk pundak Azlan. “ Om tahu kamu pasti terkejut dengan tindakan mamamu sekarang. Bahkan terkadang kita berpikir dengan jalan pikiran orang tua kita yang ngga sesuai dengan jalan pikiran kita. Tapi kamu harus tetap tahu lan, orang tua itu berpikir pasti dengan banyak pertimbangan, ngga semata-mata hanya untuk kebaikan untuk dirinya sendiri. Semua orang tua pasti mengambil keputusan atas banyak pertimbangan, apalagi kalau itu sudah menyangkut masalah anak, mereka ngga akan main-main. Jadi om harap, kali ini kamu coba untuk mengikuti alurnya lan. Om yakin mamamu punya alasan yang kuat kenapa dia harus mengangkat anak.” Balas om Guntur. “ Azlan hanya bingung aja om, padahal mama ngga muda lagi untuk mengurus bayi. Dia sudah tua. Azlan ngga mau dia kelelahan untuk merawat anak kecil lagi om.” “ Coba kamu lihat mamamu lan, apa ada sebuah beban saat dirinya bersama dengan anak itu.” Tanya om Guntur dan Azlan menggeleng dengan ragu. “ Kalau dia terlihat bahagia, om yakin mamamu itu tulus. Mama papamu orang yang sangat baik lan, terkadang menurut om kebaikan mereka berlebihan. Tapi bagi mereka itu itu hanya kebaikan yang bisa dilakukan banyak orang. Jadi sabar saja ya.” Balas om Guntur yang terus memberi Azlan pengertian. “ Insyaallah om, Azlan akan coba mengikuti jalan pikiran mama.” Hatinya sekarang lebih sedikit tenang, saat sudah sharing dengan om Guntur. *** Keadaan demi keadaan sudah mulai berubah dengan seiring berjalannya waktu. Bahkan sekarang anak kemarin sore yang diragukan bisa memimpin perusahaan pun sudah dipuja sana sini karena keberhasilannya dalam mengembangkan atau memajukan perusahaan milik papanya. “ BOS …. BOS … BOS. Gawat bos.” Teriakan dari Yusuflah yang selalu membuat Azlan pusing sendiri. Karena disetiap ada masalah dialah orang yang paling heboh kalau terjadi masalah dengan atasannya ini. Azlan yang sedang fokus dengan pekerjaannya pun langsung menghentikannya. “ Kapan kamu bisa berubah suf.” Tanya Azlan “ Maaf pak, tapi pak Azlan harus baca ini.” Ucap Yusuf yang langsung menunjukkan surat kabar hari ini. “ PENGUSAHA MUDA MUHHAMAD AZLAN RAFFASYA DIKABARKAN MEMILIKI HUBUNGAN YANG TIDAK WAJAR DENGAN SEORANG LAKI-LAKI.” Membaca isi bacaan tersebut justru membuat Azlan ingin tertawa sendiri. Karena baginya orang-orang ini benar-benar kurang kerjaan dengan membuat berita konyol seperti ini. “ Kok pak Azlan ketawa sih pak. Ini sama saja dengan mencemarkan nama baik pak.” Ucap Yusuf yang justru terlihat tidak terima karena bosnya di jelek-jelekkan seperti ini. “ Kamu sudah ikut saya berapa tahun suf.” “ Hampir enam tahun pak, satu tahun lebih jadi asisten manajer perencanaan dan empat tahu jadi asisten CEO muda.” Jawab Yusuf dengan bangganya. “ Terus kalau selama itu kamu sudah ikut dengan saya kenapa kamu masih memperdulikkan berita murahan seperti ini.” Jawab Azlan yang melempar surat kabar tersebut. “ Saya ngga terima saja pak, masa bos saya normal begini di bilang gay sih.” Ucap Yusuf yang memperjelasnya. Azlan langsung menatap Yusuf dengan tajam. “ STOP. Untuk topik ini saya tutup. Sekarang saya tanya, apa kamu sudah mendalami materi untuk rapat siang ini.” Tanya Azlan dengan tegas. “ Sudah pak, tenang saja. Kali ini kita pasti juga akan memenangkan proyek ini.” Jawab Yusuf dengan penuh percaya diri. Dan Azlan hanya tersenyum sinis mendengar jawaban asistennya yang terkadang bersikap konyol. Tapi mau bagaimanapun baginya hanya Yusuf yang mampu mengatasi dirinya yang terkadang punya mood yang beruba-ubah. Mungkin kalau asistennya orang lain, mereka akan langsung mengundurkan diri. *** Selesai rapat hari ini, Azlan pun langsung pulang ke rumah karena tiba-tiba dia di kabari oleh Alea kalau mamanya tiba-tiba jatuh namun menolak untuk ke rumah sakit. Maka dia yang khawatir pun langsung pulang untuk melihat sendiri keadaan mamanya. “ Assallamualaikum ma.” Salam Azlan yang langsung menghampiri kamar mamanya. Dia langsung mendekat ke ranjang mamanya yang masih terbaring lemah. “ Ya Allah ma, kenapa mama bisa seperti ini ma.” Tanyanya yang terlihat begitu khawatir. “ Kata pak Andri mama jatuh di depan sekolah Faza, kak. Tadinya pak Andri mau bawa mama ke rumah sakit tapi mama menolak, dia mau pulang aja. Alea khawatir karena mama ngga terlihat baik-baik aja, jadi Alea telfon kak Azlan.” Jawab Alea yang memberitahukan kronologinya pada Azlan. Mendengar hal itu, Azlan pun langsung terlihat emosi. “ KENAPA SIH MA, KENAPA MAMA NGGA PERNAH MAU DENGERIN UCAPAN AZLAN. AZLAN LARANG MAMA PUN KARENA INI UNTUK KEBAIKAN MAMA JUGA. PERCUMA DONG AZLAN UDAH BAYAR ORANG BUAT JAGA FAZA TAPI DIA NGGA BERGUNA. TUGAS DIA BUAT JAGA FAZA.” Ucapnya yang emosi. “ Please lan, kamu jangan marah-marah begini. Faza baru aja tidur setelah lelah nangis karena tahu mama begini.” Ucap mamanya yang justru masih memikirkan keadaan Faza. Hal itu pun membuat emosi Azlan semakin naik. Dia langsung menjauh dari mamanya sambil memegang kepalanya “ Faza …. Faza dan Faza terus. Apa yang ada di fikiran mama itu hanya tentang Faza. Ma, kita khawatir dengan keadaan mama. Mama bukan lagi ibu muda yang bisa beraktivitas ini itu. Bagi Azlan kesehatan mama penting dan sangat penting. Tolong ma, kali ini mama dengerin Azlan, sekali aja ma. Azlan seperti ini pun karena Azlan sayang mama.” “ Ya lan, mama minta maaf karena buat kamu khawatir. Mama janji ngga akan mengulanginya lagi.” Ucap mamanya yang memang tidak ingin membuat Azlan semakin emosi, makannya dia memilih untuk mengalah dan tidak memperpanjang masalah ini. “ Kalau gitu kita coba cek up ya ma. Azlan takutnya ada yang parah ma.” Pinta Azlan. “ Ngga lan, mama udah baikan kok. Lagian obat sama vitamin dari dokter kan masih lan. Mama pasti akan membaik kok.” “ Mama yakin.” Tanya Azlan lagi dan mamanya kembali mengangguk meyakinkan putra sulungnya kalau dia baik-baik saja. “ Mama.” Suara kecil yang memanggil mamanya membuat semua yang ada disana mengalihkan pandangannya kearah pintu kamar. “ Sayang, kok bangun.” Ucap mama Azlan yang melihat putri kecilnya masih berdiri di depan pintu. Dia tahu kalau putri kecilnya tidak berani mendekat karena ada sosok Azlan di samping mamanya. Gadis kecil bernama Faza itu hanya bisa menunduk. “ Lan, jangan tatap Faza seperti itu, dia ketakutan.” Pinta mamanya pada Azlan. “ Ngapain kamu kesini, mama mau istirahat. Sebaiknya kamu kembali ke kamarmu.” “ Azlan, cukup.” Ucap mamanya sebelum Azlan kembali membuat Faza ketakutan. Azlan pun menghentikan ucapannya, dia bangkit dari duduknya dan keluar. “ Alea, kamu pastikan kalau kali ini mama benar-benar istirahat. Kakak ngga mau kalau sampai keadaan mama semakin buruk lagi.” Ucap Azlan pada Alea. “ Iya kak.” Setelah Azlan keluar, Faza langsung berlari mendekati mamanya dan memeluknya. “ Mama.” “ Mama, apa kak Azlan marah sama Faza.” Tanya gadis kecil itu dengan kepolosannya. “ Iya.” Balas Alea. “ Alea, jangan buat adikmu semakin takut.” “ Bercanda ma.” “ Ngga kok sayang, kak Azlan bilang begitu karena dia khawatir sama keadaan mama. Kan kakak-kakak Faza baik semua. Jadi mereka ngga marah sama Faza.” “ Bener kata mama, kita baik tapi kalau Faza ngga buat ulah seperti hari ini. Jadi kalau Faza ngga mau buat kak Azlan tambah marah sebaiknya sekarang Faza balik ke kamar. Biarin mama istirahat dulu. Faza minta ditemenin sama bibi dulu.” Ucap Alea yang memperingati Faza. Tatapan sayu Faza langsung terlihat saat dirinya tidak ingin jauh dari sang mama. Dia hanya ingin menemani mamanya yang sedang kurang sehat. “ Biarkan Faza tidur disini le, mama jamin kok Faza ngga akan membuat mama kurang istirahat.” Balas mamanya. Alea langsung menghela nafas dan menyerah. “ Terserah mama deh, mama memang ngga pernah mau dengerin anak-anak mama yang lain. Benar kata kak Azlan yang selalu mama fikirkan hanyalah Faza. Alea benar-benar berharap mama istirahat, Alea sayang mama, Alea ngga mau mama sakit.” “ Mama pun sayang Alea dan kakak. Mama janji mama akan istirahat sayang.” Ucap mamanya yang meyakinkan putri cantiknya yang sudah mulai beranjak remaja. Setelah Alea keluar, mamanya yang tadinya ingin mengatakan sesuatu pada Faza pun hanya tersenyum lega melihat Faza yang ternyata sudah terlelap dalam pelukkannya. “ Mama sayang anak-anak mama, mama ngga pernah membandingkan semuanya. Kasih sayang mama rata untuk keempat anak mama, sampai kapanpun, dimanapun. Baik mama hidup atau mati, kalian akan tetap ada di dalam hati mama. Mama harap, Faza akan bahagia dimanapun, baik ada mama ataupun tidak Faza harus tetap kuat dan bahagia ya sayang.” Ungkap mamanya yang menatap wajah polos Faza yang sudah terlelap. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Faza dengan kakak-kakaknya ketika dirinya tiada nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN