Dalam beberapa bulan kehidupan Azlan benar-benar sudah berubah. Kini tidak ada lagi waktunya untuk bermain-main. Apalagi dirinya sekarang harus membuktikan kemampuannya pada semua karyawannya kalau memang dirinya pantas untuk menggantikan posisi papanya walaupun dia masih muda.
Azlan pun seringkali pulang malam, mamanya yang melihat keadaan Azlan pun merasa bangga, namun dia juga kasihan karena seharusnya di usia Azlan sekarang, dia masih bisa menikmati masa mudanya, berkumpul dengan teman-temannya. Tapi sekarang dirinya harus sudah menjadi tulang punggung dan bekerja keras untuk keluarganya. Seperti malam ini, Azlan kembali pulang larut malam.
“ Lan.” Panggil mamanya yang langsung menyalakan lampu ketika dia mendengar suara pintu rumah terbuka.
“ Mama” Ucap Azlan yang terkejut melihat mamanya. “ Kok mama belum tidur, ini kan udah larut malam ma.” Tanya Azlan.
“ Mama nungguin kamu. Apa kamu udah makan. Kalau belum mama panasin makanannya buat kamu ya.” Tanya mamanya
“ Udah kok ma, udah malam ma, mama istirahat aja.” Balas Azlan yang akan melangkah menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti saat tangan mamanya memegangnya. “ Ada apa ma.”
“ Mama kasihan liat kamu yang kerja keras seperti ini sayang, hampir tiap hari kamu pulang malam. Mama minta kamu tetap jaga kesehatan kamu ya, mama ngga mau kamu sakit. Sebenarnya ada yang mau mama bicarakan dengan kamu.” Jawab mamanya.
“ Ma, mama jangan khawatir sama Azlan ya. Azlan akan baik-baik aja kok ma. Sekarang Azlan kan mau membuktikan ke semuanya kalau Azlan layak ma. Masalah apa yang mau mama bicarakan dengan Azalan, ma.”
“ Mama mau minta persetujuan kamu.” Jawab mamanya. Dan Azlan pun mengenggam tangan mamanya.
“ Ma, disini walaupun Azlan bertanggung jawab dengan keluarga ini, tapi mama tetap orang tua Azlan. Mama berhak mengambil keputusan apapun. Karena Azlan yakin, apa yang mama lakukan itu yang terbaik untuk keluarga ini. Azlan cape ma, Azlan mau istirahat dulu ya.”
“ Tapi lan.” Ucap mamanya yang terlihat begitu ingin mengatakannya. Tapi Azlan tetap berjalan ke kamarnya. Mama Azlan pun tidak mencegahnya lagi, karena memang wajah Azlan terlihat begitu lelah. “ Semoga Azlan benar-benar setuju dengan keputusanku ini.” Batin mamanya yang menyakinkan kalau keputusan yang akan di buatnya benar.
***
Paginya, mama Azlan pun seperti hari-hari biasa menyiapkan sarapan untuk keluarganya walaupun sudah ada pembantu. Alea yang memang selalu duduk paling awal pagi ini pun langsung di suruh memanggil kakaknya untuk turun.
“ Lea, tolong dong panggilin kak Azzam.” Pinta mamanya yang masih di dapur.
“ Kenapa harus Alea terus sih yang manggil kak Azzam, dia kan udah besar ma. Kak Azzam bisa bangun sendiri.” Tolak Alea, dan mamanya hanya menatap sambil menghela nafas. “ Ok… ok Alea akan panggil kak Azzam.” Tapi belum sempat Alea memanggil kakaknya, Azzam pun sudah terlihat turun dari tangga.
“ Ngga perlu ma, Azzam udah turun.” Balas Azzam. Dan Alea pun kembali duduk.
“ Nah gitu dong zam, kan mama seneng liat Azzam ikut sarapan pagi sama-sama.”
“ Hari ini ada acara di sekolah, jadi Azzam harus berangkat awal ma.” Ucapnya yang hanya meminum s**u dan rotinya dengan berdiri.
“ Duduk dong zam, mama ngga ngajarin Azzam makan sambil berdiri begitu. Memangnya jam berapa sih acaranya.” Tanya sang mama.
“ Jam delapan ma.”
“ Ini juga masih jam tujuh kurang sayang, duduk dulu ya ada yang mau mama bicarakan dengan kalian semua.” Ucap mamanya.
“ Masalah apa sih ma.”
“ Kita tunggu kak Azlan dulu ya.” Balas mamanya, dan Azzam yang mendengar nama sang kakak pun langsung berdiri hendak pergi. “ Tolong zam, jangan seperti ini. Sampai kapan kamu sama kakakmu akan bersitegang seperti ini.” Tanya mamanya yang sedih melihat kedua putranya masih bersitegang.
“ Sampai kak Azlan ngga mengatur-ngatur Azzam. Azzam udah gede ma, Azzam pun tahu mana yang baik, dan mana yang buruk.” Jawab Azzam.
“ Kalau kamu tahu mana yang baik dan mana yang buruk kamu ngga akan mungkin berada di tempat yang ngga seharusnya kakak lihat.”
“ Kakak ngga tahu apa yang Azzam lakukan, tapi kakak udah menuduh Azzam yang ngga-ngga. Apa kakak pikir kakak yang paling patuh, yang paling hebat. Jadi bisa menuduh Azzam seenaknya begitu.” Ucap Azzam yang memang masih marah pada kakaknya, karena memukul Azzam di tempat umum. Azlan pun jadi ikut emosi mendengar jawaban Azzam, dia mendekat ke Azzam. Tapi mamanya langsung saja melerai kedua putranya.
“ STOP ! Kenapa kalian jadi seperti anak kecil begini sih. Mama ngga pernah megajari kalian untuk bertengkar begini.” Teriak mamanya.
“ Mama tanya aja sama anak kesayangan mama itu.”
“ Azzam please, jangan menambah masalah. Kalian semua anak-anak kesayangan mama. Ngga pernah mama pilih-pilih zam. Kita bisa selesaikan masalah ini dengan baik, tanpa harus ada pertengkaran. Kamu juga lan, mama tahu kamu ngga mau adik-adikmu sampai ikut pergaulan yang salah. Tapi ngga begitu cara kamu menegurnya.” Nasehat mamanya.
“ Azlan minta maaf ma, Azlan Cuma kebawa emosi aja.”
“ Ok, mama minta kamu minta maaf sama Azzam karena sudah menuduh dia dengan apa yang ngga pernah dia lakukan. Azzam udah cerita semuanya ke mama, dia ke tempat balapan liar itu Cuma buat manggil temannya yang lagi ikut balapan. Karena teman Azzam di hubungi ngga bisa, padahal orang tuanya terus mencari dia karena adiknya masuk rumah sakit lan. Jadi Azzam sengaja datang kesana buat manggil dia, tapi kamu malah datang-datang dan belum tahu apapun tiba-tiba marah ke Azzam.” Ungkap mamanya yang memang sudah menanyakan hal itu pada Azzam.
“ Ok, Azlan minta maaf. Tapi gimana Azalan ngga berpikiran buruk tentang pergaulannya ma, dia berteman dengan anak yang suka ikutan bapalan liar. Sekarang kakak maafin kamu, tapi awas aja kalau sampai kakak tahu kamu ke tempat itu lagi.”
“ Minta maafnya keliatan banget ngga tulus. Dan kakak ngga berhak untuk bicara seperti itu. Karena belum tentu orang-orang yang ada disana itu orang-orang yang ngga benar dan bukan orang baik. Bahkan sekarang banyak yang bergaul di tempat bener tapi ternyata hati mereka busuk.” Balas Azzam yang masih kesal dengan kakaknya.
“ Mama mohon sama kalian, jangan sampai karena masalah kecil membuat perpecahan diantara anak-anak mama.”
“ Mama, Alea berangkat dulu ya. Alea males liat rumah ini yang ngga seperti dulu lagi.” Balas Alea yang juga tidak nyaman ada didalam situasi seperti sekarang.
“ Tunggu sayang, kamu kan belum habisin sarapan kamu.”
“ Alea ngga nafsu lagi.” Balasnya yang langsung memeluk dan menyalami mamanya, Azlan dan Azzam. “ Alea berangkat ya ma, Assallamualaikum.”
“ Azzam juga ma.” Pamit Azzam yang juga beranjak dari tempatnya.
“ Tapi zam, mama kan ada yang mau mama bicarakan dengan kalian. Kok kalian pergi aja.”
“ Azzam udah telat ma, nanti kita ngobrolnya setelah Azzam pulang ya ma.” Balas Azzam yang langsung memeluk mamanya. “ Assallamualaikum ma.”
“ Waalaikumsalam.”
“ Azlan juga berangkat ya ma.” Pamit Azlan yang juga memeluk sang mama.
“ Kok kamu juga sih lan, mama kan niatnya mau ngobrol dulu tentang apa yang mau mama katakan semalam.” Ucap mamanya.
“ Ma, Azlan kan udah bilang kalau apapun itu Azlan akan setuju. Azlan udah telat ma, hari ini ada klien yang harus Azlan temui. Azlan ngga mau kalau sampai Azlan memberikan kesan yang buruk buat klien ma. Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
“ Ya Allah susah banget sih mau ngobrol sama anak sendiri. Kenapa sekarang setelah kamu ngga ada rumah ini banyak berubah banget pa, mama jadi kangen sama kamu. Mama tahu anak-anak seperti sekarang karena dia sebenarnya ingin menghibur diri mereka yang selalu merindukanmu. Semoga aja setelah dia hadir, akan membawa warna baru dalam rumah ini. Tapi mama pun takut saat nanti dia sudah datang mereka ngga setuju. Tapi karena Azlan bilang apapun keputusanku dia akan setuju, jadi nanti kalau sampai dia menolak, aku harus tetap mempertahankannya.” Ujar mamanya.
***
Hari ini Alea yang telat di jemput oleh pak supir karena mobilnya mogok pun langsung menghubungi Azzam untuk menjemputnya. Azzam yang sebenarnya masih ada acara pun mengundurnya terlebih dahulu dan langsung menjemput Alea. Karena Alea yang belum berani menggunakan angkutan umum, dan dia terus merengek supaya Azzam mau menjemputnya.
TIN… TIN.
“ Ayo naik.”
“ Kok lama banget sih, kaki Alea cape tahu.” Omelnya.
“ Udah syukur kakak jemput, kalau ngga tuh kaki bisa patah berdiri terus.” Balas Azzam, dengan wajah kesalnya Alea pun naik motor Azzam.
“ Kak Alea laper.”
“ Makan dirumah, habis ini kakak mau pergi lagi, kakak masih ada acara.” Jawab Azzam.
“ Iya… iya deh.”
Kemudian Azzam pun langsung melajukan motornya menuju rumah. Dan hanya membutuhkan waktu setengah jam untuknya sampai di rumah. Tapi mereka sedikit heran karena ada beberapa wanita yang keluar dari rumah mereka. Mamanya pun mengantar kepergian tamu-tamunya itu.
“ Assallamualaikum ma.”
“ Waalaikumsalam, sayang. Tumben kalian pulangnya barengan.”
“ Mobilnya mogok di jalan ma. Jadi Alea minta kak Azzam buat jemput Alea.”
“ Iya nih ma, dasar anak manja. Suruh naik angkot aja ngga berani. Ma, Azzam pamit lagi ya, masih ada perlu.” Balasnya
“ Makan siang dulu zam. Udah sampai rumah.”
“ Iya deh ma, Azzam juga laper.” Balasnya dan sang mama pun langsung mengajak kedua anaknya untuk masuk ke rumah.
“ Ma mereka siapa.” Tanya Azzam yang langsung menghentikan langkahnya. Saat melihat orang asing ada di rumahnya.
“ Mama akan jelaskan semuanya, kita tunggu kakak kamu ya. Tadi mama telfon dia, katanya dia lagi di luar. Jadi sekalian mama nyuruh dia pulang ke rumah.” Jawab sang mama.
“ Kenapa perasaan Azzam jadi ngga enak begini ma.”
“ Alea juga kak.”
“ Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
“ Ma, ada apa sih ma sampai nyuruh Azlan buat makan siang di rumah.” Tanyanya.
“ Kita duduk dulu ya.” Mama mereka pun langsung mengajak anak-anaknya untuk duduk supaya bisa ngobrol dengan santai.
“ OEK… OEK…. OEK…”
“ Suara bayi siapa itu ma.” Tanya Azlan yang terkejut karena mendengar suara bayi di rumahnya ini. Kedua adiknya pun langsung menatap wajah mamanya, karena mereka pun bertanya-tanya.
“ Itu suara adik kalian.” Ucap mamanya dengan sedikit khawatir dengan respon dari anak-anaknya.
“ ADIK.” Teriak Azlan dan adik-adiknya.
“ Ini apa maksudnya ma, mama tolong jelasin ke kita kenapa tiba-tiba mama nyebut suara bayi itu adalah adik kita.” Tanya Azlan yang tidak lagi bisa tenang mendengar kata adik dari mulut mamanya.
“ Mama tahu pasti kalian akan terkejut saat mama mengatakan itu. Tapi sepenuhnya juga bukan salah mama. Karena sejak kemarin mama mau bilang ini ke kalian. Tapi karena kalian selalu sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan kalian sendiri membuat mama sulit mengatakannya ke kalian. Mama mengadopsi seorang anak.” Ucap mamanya.
“ MAMA.” Teriak ketiga anaknya saat mengetahui hal yang begitu mengejutkan yang pernah mereka dengar dari mamanya.