7. Ketulusan Hati

2237 Kata
Keadaan kediaman Azlan dan adik-adiknya pun sekarang seperti rumah kosong. Sebelum mamanya meninggal, beliaulah yang selalu menunggu kepulangan anak-anaknya. Tapi sekarang, hanya keheningan yang ada di rumah ini. Walaupun kepergian mama Azlan sudah sebulan lebih, tetap saja duka masih menyelimuti keluarga ini. Sulit untuk mengembalikkan keadaan seperti dulu, apalagi penyatu mereka yaitu mamanya telah tiada. Hal itu sekarang membuat hubungan Azlan dan adik-adiknya kembali renggang. Bahkan sekarang mereka sama-sama acuh satu sama lain. Terlebih lagi Azlan yang sekarang jauh lebih sering meluangkan waktunya di kantor, karena hanya dengan cara itu dirinya bisa menghilangkan rasa sepi yang selalu menyelimuti hatinya. Karena jika di rumah, dia akan selalu ingat sosok mama yang selalu dirindukannya. Ditambah lagi dengan mendengar tangisan Faza yang selalu merindukkan mamamnya, hal itu membuat Azlan merasa tidak nyaman. Jadi dia lebih sering memilih pulang disaat jam-jam Faza sudah terlelap. “ Pak.” “ Gimana, apa kamu sudah menyiapkan segala sesuatunya.” Tanya Azlan pada Yusuf. “ Sudah pak, saya sudah mengatur jadwal pertemuan pak Azlan di luar dengan adik-adik pak Azlan. Tadinya mereka memang menolak pak. Tapi karena saya katakan ini adalah hal yang sangat penting dan mendesak, maka akhirnya mereka menyetujuinya.” Jawab Yusuf. “ Ok, bagus. Terus dokumen yang saya minta apa sudah kamu lengkapi.” Tanya Azlan. “ Sudah pak, tapi…” Jawab Yusuf dengan sedikit ragu. “ Tapi kenapa.” “ Apa pak Azlan sungguh-sungguh akan melakukan ini.” Tanya Yusuf yang ragu dengan keputusan yang bosnya ambil. “ Ya, saya yakin seyakin-yakinnya. Karena ini pun untuk masa depannya juga. Dia berhak mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik.” Balas Azlan dengan menatap lurus keluar jendela. “ Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan terakhir pak Azlan, akan saya urus semuanya.” Balas Yusuf yang langsung keluar setelah melaporkan hasilnya pada Azlan. Dan saat jam makan siang, Azlan langsung datang ke restoran yang sudah di tentukan oleh Yusuf untuk dirinya bisa bertemu dengan kedua adik-adiknya. Karena setelah mama mereka meninggal, Azlan memang benar-benar jarang berkomunikasi dengan Azzam dan Alea. Karena mereka pun lebih sering meluangkan waktunya dengaan teman-temannya dibandingkan di rumah sama seperti yang Azlan lakukan. Bahkan mereka sampai tidak mau mengangkat telfon dari Azlan jika dia menelfon. Karena yang mereka tahu Azlan hanya akan memarahi mereka berdua, terlebih lagi dengan Azzam dirinya sampai memblokir nomor Azlan. Jadi Azlan mengutus Yusuf untuk langsung mencari keberadaan adiknya dan mengatakan kalau ada hal penting yang ingin Azlan sampaikan. Dari kejauhan, Azlan dapat melihat kedua adiknya yang datang. Dia merasa lega karena kali ini kedua adiknya mau menemuinya. “ Assallamualaikum.” Salam Azzam dan Alea yang langsung menyalami Azlan. Mau bagaimanapun mereka marah dan kesal pada Azlan tetap saja tidak bisa merubah apapapun kalau Azlan adalah kakak mereka berdua. Apalagi mereka telah diajarkan dengan baik oleh kedua orang tuanya yang sekarang telah tiada. “ Waalaikumsalam, akhirnya kalian berdua datang juga. Kakak pikir kalian akan terus menolak untuk jumpa dengan kakak.” “ Langsung aja deh kak. Ngga perlu bertele-tele. Ada hal penting apa yang mau kakak bicarakan dengan kita sampai meyuruh asisten kakak buat datang nemuin kita berdua.” Balas Azlan. “ Kakak tahu kamu masih marah dengan kakak. Tapi kamu pun harus tahu zam, apapapun yang kakak lakukan itu untuk kebaikanmu.” Balas Azlan yang merasa frustasi karena Azzam masih saja marah padanya. “ Kakak jangan seolah bicara kalau kakak itu yang paling tahu apa yang terbaik untuk Azzam. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik buat Azzam kak.” Bantahnya. “ Stop, kalau Alea disini hanya untuk mendengarkan kalian berantem sebaiknya Alea pergi aja. Alea masih ada urusan.” Ucap Alea yang sudah siap untuk bangun. “ Ok, maaf. Bukan masalah ini yang mau kakak bicarakan ke kalian. Ini menyangkut tentang Faza.” Ucap Azlan dengan memandang kedua adiknya. Azzam dan Alea langsung menatap Azlan dengan malas saat dia menyebut nama Faza. “ Ada apa sama Faza, apa dia buat masalah lagi.” Tanya Azzam yang terlihat malas menanggapinya. “ Ngga penting banget sih, kak Azlan nyuruh kita datang kesini hanya karena mau bahas tentang Faza.” “ Dengerin dulu apa yang mau kakak kasih tahukan pada kalian. Kakak tahu kalian sudah benar-benar malas dan ngga peduli dengan apa yang anak itu lakukan. Begitu pula dengan kakak. Jadi kakak sudah ambil keputusan. Dan kakak ambil keputusan ini dengan pertimbangan banyak hal, dan kakak rasa ini yang terbaik.” Ucap Azlan yang membuat kedua adiknya penasaran. “ Keputusan apa maksud kak Azlan.” Tanya Alea. “ Kakak sudah putuskan untuk mengembalikan Faza ke panti asuhan.” Ucapan Azlan membuat kedua adiknya langsung membelakakan matanya karena mereka sangat terkejut mengetahui hal penting yang baru saja kakaknya katakan. “ Ini bukan waktunya bercanda ya kak.” Balas Azzam. “ Apa muka kakak kelihatan kalau kakak sedang bercabda.” Jawab Azlan. “ Jadi kakak serius mau bawa Faza ke panti asuhan.” Tanya Alea yang masih terlihat syok. “ Iya kakak serius, menurut kakak ini jalan yang terbaik untuk kita semua.” Jawab Azlan. “ Jalan terbaik bagaimana yang kakak maksud. Faza itu anak yang begitu mama sayangi, anak yang selalu mama pertahankan untuk ada disisinya. Tapi sekarang dengan mudahnya kakak mau membawa Faza kembali ke panti asuhan, apa menurut kakak itu keputusan yang terbaik.” Balas Azzam yang kurang setuju dengan keputusan kakaknya. “ Benar yang kak Azzam bilang kak, walaupun mama udah ngga ada tapi dia pasti akan sedih kalau sampai tahu kak Azlan akan mengembalikkan Faza ke panti asuhan.” Ujar Alea juga. Azlan tersenyum menyeringai mendengar penuturan atau pendapat yang keluar dari mulut kedua adiknya. “ Betul, semua yang kalian katakan memang benar. Faza sudah diangkat anak sama mama, itu tandanya Faza adalah adik kita. Tapi sekarang kakak tanya ke kalian, apakah pernah selama Faza tinggal sama kita kalian anggap dia adik.” Pertanyaan yang keluar dari mulut Azlan membuat kedua adiknya bungkam dan hanya saling pandang. “ Kenapa kalian diam.” “ Alea akui kalau Alea sering iri karena mama terkadang lebih peduli dengan Faza dibandingkan dengan Alea. Tapi tetap saja Alea kasihan kalau sampai Faza di panti asuhan kak.” Jawabnya. “ Ok kalau kamu kasihan ke Faza, kakak akan beri kamu kesempatan buat jagain Faza. Apa kamu bersedia.” Tantang Azlan. “ Kak.” Alea langsung terkejut mendengar tantangan dari Azlan. “ Ngga bisa begitu dong. Ini tanggung jawab kakak, sebagai kakak tertua diantara kita.” Balas Alea. “ Owh ngga bisa begitu, kalau masalah Faza bukan hanya urusan kakak, tapi urusan kita bertiga karena kita anak mama. Sekarang gini, setelah mama ngga ada siapa yang jagain Faza di rumah.” Tanya Azlan. “ Bi Arum.” “ Kamu benar, bi Arum yang jagain Faza di rumah. Kakak mengambil keputusan ini pun sudah dengan banyak pertimbangan, dan kakak rasa ini yang terbaik buat Faza le. Coba kamu bayangkan gimana kesepiannya Faza sekarang, dia di rumah sendirian tanpa ada yang nemenin. Setiap hari dia nangis karena kangen sama mama, tapi diantara kita berdua ngga ada yang bisa bersamanya. Karena kita sendiri pun masih menata hati kita dan sibuk dengan urusan kita sendiri-sendiri sampai ngga bisa ada waktu buat Faza. Kalau seumpama Faza di panti, disana dia punya banyak teman, dia bisa terhibur karena disana dia ngga sendiri. Dan bahkan Faza bisa kembali menemukan orang tua yang bisa menyayanginya seperti mama, Faza masih terlalu kecil, dia masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Ngga mungkin dong le, sampai Faza besar dia hanya dirawat sama bi Arum yang udah tua juga.” Ungkap Azlan yang memang sudah memikirkan tentang keadaan kedepannya. Azzam dan Alea pun terdiam memikirkan dan mencerna apa yang Azlan ucapkan. Dan mereka pun membenarkan apa yang Azlan katakan. Karena memang mereka akui kalau mereka ngga akan bisa meluangkan waktu untuk Faza seperti yang mama mereka berikan buat Faza. Azlan seperti memberikan waktu untuk kedua adiknya bisa berpikir, jadi dia tetap diam untuk menunggu kedua adiknya memberikan jawaban lagi. “ Apa kakak bisa menjamin kalau di panti asuhan Faza ngga akan kekurangan apapun seperti yang dia miliki sekarang.” Tanya Alea yang membayankan hal buruk kalau sampai Faza berada di panti asuhan tersebut. “ Selama ini mama selalu menjadi donator tetap di panti asuhan itu le, walaupun mama sekarang ngga ada kakak tetap melakukannya. Dan akan kakak pastikan, kalau disana Faza ngga akan kekurangan apapun sampai dia benar-benar mendapatkan keluarga yang layak.” Jawab Azlan. “ Apa kakak yakin kalau ini untuk kebaikan Faza.” Tanya Azzam yang masih terlihat ragu. “ Kalau kamu punya cara lain untuk kebaikan Faza, maka kakak akan pertimbangkan keputusan kakak ini.” Jawaban Azlan membuat Azzam tidak berkutik karena dia pun tidak memiliki pemikiran lainnya. “ Kapan kakak akan bawa Faza ke panti asuhan.” Tanya Azzam. “ Setelah mendapat persetujuan dari kalian, karena semuanya pun sudah Yusuf uruskan tinggal membawa Faza kesana. Jadi apa keputusan kalian.” Tanya balik Azlan. Azzam dan Alea hanya saling pandang, wajah mereka seperti masih ragu untuk mengatakan jawabannya. Tapi mereka sendiri pun tidak punya cara lain untuk masalah ini. “ Dan kalian pun harus tahu, kalau diantara kalian ada yang ngga setuju maka kakak ngga akan melanjutkannya. Tapi ingat, kalau kalian ngga setuju itu tandanya kalian harus punya solusi lain untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Karena ini menyangkut masa depan seorang anak.” Balas Azlan “ Kaih Alea waktu kak.” “ Kapan.” “ Besok.” “ Ok, kakak akan tunggu jawaban kalian besok. Kalau gitu kakak balik ke kantor lagi. Assallamualaikum” Pamitnya dan tanpa di duga Azlan mengecup puncak kepala Alea. Mendapatkan kecupan itu membuat Alea tersenyum tipis. Apalagi dengan keadaan sekarang yang membuat hubungan mereka semakin merenggang. “ Waalaikumsalam.” *** Setelah pertemuan dengan kakaknya, Azzam langsung mengantarkan Alea pulang ke rumah. Dan selama dalam perjalanan pulang, mereka berdua terus memikirkan apa yang baru saja dibicarakan. “ Sampai le.” “ Kak Azzam ngga pulang lagi.” “ Sekarang kak Azzam ngekos le.” “ Kenapa sih kak keluarga kita jadi seperti ini. Kenapa Alea ngga lagi bisa merasakan punya keluarga di dalam rumah ini.” “ Ngga semua yang kita mau itu bisa berjalan dengan apa yang kita inginkan le. Jangan terlalu memikirkan hal ini, kamu tetap adik kak Azzam yang paling cantik, dan paling kak Azzam sayang. Begitu pula dengan kak Azlan, mungkin dia sering marahin  kamu tapi kakak yakin dia seperti itu karena dia sayang ke kamu.” “ Kalau kak Azlan sayang ke Alea, berarti kak Azlan juga sayang ke kak Azzam dong. Kan kak Azzam adiknya.” “ Ya, kak Azlan memang sayang ke kak Azzam. Tapi jalan pikiran kita beda dek. Udah jangan terlalu di pikirkan. Kamu istirahat aja. Dan ingat ya le, jangan keluar sampai larut malam lagi. Kakak ngga mau kamu kena omel sama kak Azlan lagi. Itu juga bahaya buat kamu.” “ Iya Alea ingat.” Balasnya. “ Assallamualaikum.” “ Waalaikumsalam.” Saat Alea masuk ke rumah, disana ada bi Arum yang baru mengepal lantai dengan memegangi punggungnya yang terlihat sakit. Melihat hal itu membuat Alea merasa kasihan pada bi Arum yang sudah tua, tapi masih tetap mau bekerja disini menjaga keluarga ini. “ Bi, kalau bibi capek istirahat aja bi. Ngapain sih udah mau sore begini ngepel segala.” Tanya Alea yang menghentikan aktivitas bi Arum. “ Ngga apa-apa kok non, tadi non Faza numpahin makanan jadi bibi baru sempet ngepel karena Faza baru bisa tidur setelah cape nangis.” “ Apa dia masih sering nangis bi.” Tanya Alea. “ Iya non, namanya juga baru di tinggal mamanya. Apalagi anak seusia Faza, pasti masih sulit untuk menerima dan belum sepenuhnya bisa mengerti keadaan ini.” Balas bi Arum. “ Bibi bener sih. Ya udah bi Alea ke kamar dulu ya.” “ Oh ya, non Alea mau bibi masakin makanan apa.” “ Ngga perlu bi, tadi Alea udah makan sama kak Azlan dan kak Azzam. Jadi setelah ini bibi istirahat aja. Kak Azlan pun mungkin pulang malam.” “ Jadi kalian makan bersama.” Tanya bi Arum yang terlihat bahagia karena mendengar ketiga saudara itu kumpul dan makan bersama. “ Bibi kenapa kok keliatan seneng begitu.” “ Bibi seneng dong denger kalian makan bersama di luar.” “ Tadi ada hal yang perlu di rundingkan. Ya udah Alea masuk dulu ya bi.” Balasnya yang langsung menuju ke kamarnya. Tapi belum sampai di kamarnya, langkah Alea terhenti di depan ruang kamar Faza. Dia memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar Faza. Disana dia melihat Faza yang sedang tertidur dengan mata yang terlihat sembab. Alea duduk di ranjang sambil memandangi sekeliling kamar Faza, disana banyak sekali foto kebersamaan Faza dan mamanya. “ Faza benar-benar terlihat sangat bahagia saat bersama dengan mama.” Ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena dia pun sangat merindukan mamanya. “ Ma, apa mama akan marah kalau kita benar-benar menjauhkan Faza dari rumah ini. Apa mama akan setuju dengan keputusan kita ini.” Bantinnya sambil memandangi raut wajah Faza. “ Maaf karena kak Alea ngga pernah bisa jadi kakak yang baik buat Faza, terlebih lagi kalau ini kalau Faza tinggal di panti asuhan, mungkin Faza akan benci kak Alea. Tapi satu hal yang harus Faza tahu, kak Azlan, kak Azzam dan kak Alea melakukan ini pun untuk kebaikan dan masa depan Faza. Faza masih berhak mendapatkan keluarga yang akan menyayangi Faza seperti mama menyayangi Faza. Kak Alea sadar kalau kak Alea sayang Faza, tapi kak Alea juga ngga bisa membiarkan Gaza menderita hidup didalam keluarga ini.” Ucap Alea dan untuk pertama kalinya dirinya mengecup kening serta memeluk Faza.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN