Ekstra 2 A Nur Kedua Impianku gagal gagal gagal membuatku menggeram kesal. Dia yang keinginannya terpenuhi memasang senyum selebar mangkok bakso. Boleh nggak pipi putihnya kugigit biar merah, saking kesalnya ini. Niatku yang sudah lama banget jadi batal ulah menuruti oleh-oleh kaburnya tempo hari. “Senang, ya, Melo. Coba hirup udaranya, uuuh segar banget.” Fey memperagakannya di depanku, menghirup napas panjang lalu mengeluarkan perlahan seraya merentangkan tangan. Dia pun berbalik, mengurai tanganku yang kutumpuk di atas perut. “Ini tuh impianku, Lo. Datang ke sini bareng suami.” Iya karena impian Fey yang mendadak ini. Padahal nih ya dari dulu aku pengen ngajak Fey ke tempat paling jauh yang hanya ada aku dan dianya. Nggak sedramatis itu jugalah sebenarnya kalau mikirin bujet yang

