1 Undangan
Padang Pariaman, 2017
Impianku hanya satu, yaitu menjadi istri Dovan Elrangga. Hubungan kami tidak hanya sekali atau dua kali diimpit masalah. Namanya juga hubungan jarak jauh, LDR, pengaruh dari luar menjadi sebab renggangnya perasaan. Kalau hati telah berubah, apa lagi yang mampu menjamin untuk mempertahankan sebuah hubungan? Kami telah menghadapi segala masalah itu.
Kenyataan dalam kasusku dan Anel, masalah bukanlah pembelajaran untuk menguji kesetiaan. Ia justru membawa retaknya sebuah hubungan yang lama kami pertahankan. Di depan mataku lelaki yang sangat kucintai menyodorkan lembaran terkutuk.
Undangan pernikahan.
“Ini ....”
Undangan itu tergeletak tak bernyawa di samping gelas. Minuman yang tadi kubuat dengan bersemangat karena dia datang setelah sekian lama kami tak bertemu.
“Kita tidak bisa meneruskan rencana kita. Kita tidak bisa bersama.”
“Bukannya kamu janji kita akan menikah, Anel? Kalau kamu nikah duluan, terus aku nikahnya dengan siapa?”
Jadi, pelukan tadi yang terakhir? Sentuhan terakhir cuma sampai di sini?
“Hahaha ... Kamu yang menunda-nunda dari dulu. Kamu bilang, kalau sudah kerja bakal nikahin aku. Kamu sudah bekerja ‘kan dari beberapa tahun yang lalu, terus kamu nunggu apa lagi, Anel? Aku di sini selalu menanti kapan kamu ajak menikah. Makanya aku tahan dulu tawaran kerja di luar.”
Rasanya tenggorokanku mulai sakit, tapi aku terus menceracau. “Aku juga enggak akan ngerepotin kamu kok, Nel. Aku cari kerja. Setelah kupikir-pikir, sambil menunggu mending aku kerja dulu. Dan aku dipanggil oleh perusahaan. Kamu enggak usah takut kalau nanti kita nikah, aku bakalan ngehabisin uang kamu. Aku bisa cari uang sendiri. Kamu tenang saja. Sambil kerja, aku akan ngurusin kamu juga. Aku siapkan semua kemampuanku untuk membuat rumah tangga kita kelak bahagia.”
Sejak awal berpacaran, aku tidak pernah berpikir akan berpisah. Anel satu-satunya kandidat lelakiku. Dialah yang menjadi tujuanku. Tapi, mengapa dia berpaling? Kenapa dia tidak seperti aku yang hanya melihat dia sebagai laki-laki? Atau di sini, cinta itu hanya ada padaku?
“Semuanya berubah, Fey. Sudah tidak sama seperti dulu.”
Anel yang kulihat sekarang belum berubah. Kata-kata yang ia ucapkan tetap lembut di telinga. Masih membuat hatiku bergetar, dadaku hangat.
“Apanya yang berubah, Nel? Aku tidak pernah berubah. Aku di sini menunggumu. Aku enggak pernah memaksa kamu. Aku tidak ingin menekan kamu. Padahal, harusnya di usiaku sekarang aku sudah menikah. Aku tak masalah menunggumu sekian tahun lagi asal kamu kembali.”
“Keadaannya berubah, Fey. Bukan kamu. Akulah yang berubah.”
“Cukup! Apa kurangnya aku, Nel? Kamu minta izin pacaran di sana, aku bolehin. Kamu bilang kita break, aku terima. Kamu minta aku balik lagi, aku juga mau. Kamu enggak ngebolehin aku dekat cowok lain, aku lakukan, Anel. Aku melakukan semuanya untuk kamu. Enggak ada lagi yang tersisa. Kalau kali ini kamu minta aku menunggu, aku akan penuhi.”
Katakan aku gila. Iya, aku memang menggilai lelaki ini. Berkali-kali dia menyakiti, aku masih tetap bertahan mencintai. Dia bilang ingin berpacaran di sana, walaupun sakit, aku tetap membolehkannya. Jika dia di sana bahagia, aku juga akan senang. Asal aku tahu, hatinya tetap milikku.
Pernah aku menolak untuk kembali karena perasaanku ternyata tidak sekuat itu untuk bertahan. Ditambah lagi sahabat-sahabatku memang tidak menyukainya. Aku pun minta putus dan berniat untuk melupakannya meskipun sulit. Beberapa hari setelah itu, dia datang. Dia berusaha memperbaiki semuanya. Dia membuatku percaya lagi. Dia juga berjanji akan menyembuhkan lukaku.
Mungkin kali ini Anel ingin menikah dengan orang lain dulu, baru setelah itu mengajakku bersama. “Menikahlah kalau itu sudah jadi keputusanmu.”
Anel menegakkan kepalanya. Dari tadi dia menunduk dan itu membuatku yakin bahwa dia memang terpaksa melakukannya—menikah.
Senyumku tulus kali ini. Meskipun di dalam sana aku merasa sakit sekali. Dia akan menikah dengan orang lain. Tidak ada jaminan dia takkan jatuh cinta kepada istrinya. Namun, sekali lagi aku perjelas, aku akan menunggu dan menerima dia kapan pun dia kembali. Hanya dia di hidupku dan lelaki pertamaku.
Sudah kuputuskan. “Aku akan datang.”
Anel segera berdiri menghampiriku, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ia mencumbuku bagai kesetanan. Aku terbawa sentuhannya hingga melupakan segalanya. Kurasa setan kini menarik sudut bibir saat menyaksikan apa yang kami lakukan. Malam penuh gairah dengan setan yang bertepuk tangan saksikan pergumulan kami kembali terjadi. Lag-lagi aku kalah. Sepertinya mereka sangat bahagia melihat pohon dosaku semakin tinggi.
***
Pagi-pagi sekali aku menembus dinginnya jalanan ke rumah Avika. Perempuan itu sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Dia ikut suaminya tinggal di Kota Kabupaten, satu jam dari rumahnya yang lama.
“Assalamualaikum, Vika!”
Rumah Avika tidak terkunci. Dia pasti habis melepaskan kepergian suaminya. Untung, sahabatku ini memiliki kisah cinta yang mulus-mulus saja. Tidak serumit Zura dan tidak menyakitkan seperti kisahku.
“Waalaikumsalam.”
Wanita dengan perut bulat itu menyahut dari dalam. Dia kelihatan semakin cantik dengan bawa-bawa genderang milik Bang Andy, suaminya.
“Hay, ponakan Ante.” Kusentuh perut Avika, entah kenapa aku tersengat iri olehnya.
Avika menarik tanganku. Kami berjalan ke meja makan.
“Masak apa, Mama?”
“Biasa, nasi goreng aja. Kesiangan tadi.”
Avika sangat cekatan melakukan pekerjaannya. Kini dia menyodorkan sepiring penuh dengan taburan bawang goreng. Kesukaanku.
“Ngapain aja sampai bisa kesiangan?”
Avika ini sebenarnya pemalu. Beda sekali dengan Zura yang kalau digoda, akan melempar semua benda kepadaku. Avika hanya menunduk dan menggaruk-garuk kepala.
“Haduuh ... Salah banget datang ke sini pagi-pagi.” Aku pun makan dengan lahap, melupakan sakit hati untuk sementara. Avika juga tidak mengajakku bicara.
“Gimana keadaan ponakanku?” Tidak lama untuk menghabiskan sepiring nasi goreng.
“Alhamdulillah, sehat. Kita sudah periksa lagi bulan ini.”
Aku membantu Avika membersihkan meja makan dari piring-piring kotor. Avika tidak memiliki asisten rumah tangga. Dia mengerjakan semuanya sendirian.
“Kalau belum, aku mau diajak nemenin kamu.” Avika sudah tidak kelihatan ketika aku berbalik arah setelah meletakkan piring di bak cuci piring. Kuputuskan untuk mencucinya saja.
“Kamu bawa berita apa kali ini?”tanyanya.
Pergerakan tanganku terhenti dari kegiatan menggosok piring menggunakan spon. Sebelum kulanjutkan lagi saat Avika sudah berdiri di samping.
“Memangnya aku nggak boleh datang kesini tanpa bawa berita apa-apa?”
Wangi aroma lemon dari sabun cuci piring menyentuh indra.
“Aku kenal kamu udah lama, Voni. Kamu enggak mungkin datang sepagi ini kalau tidak punya apa-apa untuk diceritakan.”
Kami berdua berpindah posisi ke sofa di ruang tamu. Setoples stick kentang menjadi buruanku.
“Anel nikah, Vik.” Aku yakin jawaban Avika sangat positif.
“Alhamdulillah. Akhirnya dia pergi juga dari hidupmu.”
Tuh ‘kan, benar. Aku rasa banyaknya masalah antara aku dan Anel akibat doa dari sahabat-sahabatku. Yang paling tidak suka pada Anel adalah Vayola lalu Avika. Kalau Zura mah iya-iya saja.
“Jahat banget kamu sama sahabat sendiri. Aku sedih, Von. Aku merasa hancur. Harusnya kamu menghiburku.”
Avika memberikan sebuah toyoran sayang di keningku. “Orang sedih bukan seperti ini wajahnya.”
Aku mencibir. Seperti dia tahu saja perasaan itu. Hidupnya happy dari dulu sampai sekarang. Avika tidak pernah punya masalah. Begitu yang aku lihat selama ini.
“Bukan sedih lagi, aku hancur. Enggak ada lagi yang tersisa kalau dia benaran pergi.”
“Tunggu-tunggu! ‘Kalau dia beneran pergi’. Katanya dia menikah? Ya jelas dia akan pergi. Dan kamu, waktunya melupakan dia, move on dan cari cowok lain.”
Dalam hati yang paling dalam, aku ingin menunggu.
“Kayaknya kamu lupa, aku ini bekas pakai. Siapa yang masih mau?” Senyumanku terpaksa. Kalau ingat apa yang telah kulakukan, penyesalan selalu datang dan menampar-nampar sekuat tenaga.
“Semua orang pernah salah langkah. Yang penting kamu selalu menolaknya selama ini. Anggap yang dulu itu suatu kesalahan dan sekarang bisa kamu gunakan untuk jadi pendorong memperbaiki diri.”
“Seharusnya,” ujarku lemah.
“Iya, seharusnya kamu mulai menata diri. Dulu aku biarkan kamu terima dia lagi. Aku hanya lihat hubungan kalian dari jauh. Sekarang aku enggak akan mau kamu menanam harapan untuk bisa kembali.”
Avika benar-benar tidak pernah suka kepada Anel. Aku tahu dia selalu tersenyum palsu kalau aku ceritakan perasaanku waktu Anel janji akan melamar. Dia hanya menepuk bahuku saat aku curhat tentang masalahku.
“Aku enggak bisa cari lelaki lain, Vik. Kalau bukan dengan Anel, tidak ada laki-laki lain yang akan menerima aku apa adanya. Kalau Anel kembali, aku akan menerimanya. Tapi kalau tidak, aku akan sendiri selamanya.” Aku berbisik di akhir.
“Apa yang dikasih Anel ke otak kamu, Voni? Jangan bilang kamu luluh lagi oleh rayuan lelaki pecinta lubang itu?”
“Astagfirullahal’adzim, nyebut Vika! Kamu lagi hamil.” Avika mengucapkan istigfar dan mengusap-usap perut bulatnya.
“Aku memang sudah gila, ya Vik? Mau-maunya aku tidur dengan calon suami orang. Jelas-jelas dia sudah mutusin aku. Dia juga datang bawa undangan pernikahannya dengan cewek lain, tapi aku masih mau diajak keringatan bareng.”
“Sebaiknya kamu solat taubat, kamu buat dosa besar. Aku juga tidak sesuci itu untuk nasihatin kamu soal agama dan dosa. Tapi apa aku salah untuk minta kamu melupakan Anel dan taubat pada Tuhan kemudian menghapus dosa-dosa itu dengan kebaikan?”
Pikiranku sekarang kacau, tidak ada yang benar saat ini. Kata-kata Avika terdengar menghakimi. Namun, aku sama sekali tak berniat membantah. Aku salah besar dan kotor. Untuk melupakannya, tidak semudah yang terucap.
“Kamu harusnya sadar, Anel itu laki-laki tak baik. Kalau memang dia mencintai kamu, dia tidak akan merusak wanita yang dia cintai. Dia akan menunggu sampai kalian sah melakukannya di mata agama. Kamu juga pasti enggak pernah mikir, ‘kan? Anel ninggalin kamu dan menikah dengan cewek lain karena apa?” Avika menggantung ucapannya. Dia mengusap perutnya, kelihatan menjaga agar anaknya tidak mendengar apa yang sedang kami bicarakan.
“Kamu selalu nolak ‘kan waktu dia ajak melakukann hubungan terlarang itu lagi?” Tak perlu mengonfirmasinya karena Avika sudah tahu jawabanku. “Lelaki yang sudah mendapatkan apa yang ia mau, akan meminta lagi dan lagi. Bukankah begitu?”
Aku mengangguk.
“Dia mendapatkan dari orang lain. Dan cinta itu sudah hilang sejak lama.”
Ucapan Avika bagaikan petir. Aku tidak berlebihan karena itulah yang kurasakan saat ini. Tubuhku menegang oleh kenyataan itu.
“Kamu datang ke pernikahan dia dan tanyakan pada istrinya, apakah dia tidur dengan Anel. Aku yakin wanita itu akan menunduk dan enggak berani melihat kamu.”
“Berengsek!”
***