Nirmala terus berlari terseok-seok, tak menghiraukan ilalang yang menggores kulitnya. Napasnya tersengal-sengal, jantung semakin cepat, menerobos keremangan malam, ia tidak mau tertangkap oleh Willy. Dari kejauhan ia melihat seorang wanita sedang berjalan gontai, gadis bermata biru itu mengulas senyum. Masih ada tempat pertolongan. "Tolong aku, Ceu Jamilah," pinta Nirmala sembari mengatur napasnya dan tangannya menepuk pundak wanita yang sudah ia kenali dari cara pakaiannya. "Ayo sini!" ajak wanita yang memakai baju kebaya sehari-harinya dan kain jarik seraya melempar senyum. Jamilah menggiring gadis bermata biru itu untuk masuk ke rumahnya, setelah masuk ke rumah bercat biru, Nirmala disuruh duduk dengan tenang. Wanita itu gontai masuk ke arah dapur, lalu membawa air putih. "Minum dul

