Isi pesan grup wa keluarga istriku (6)
"Maaf tuan, kami dari pihak bank datang kemari untuk melakukan tugas sesuai perintah dari atasan kami. Mulai hari ini rumah anda berserta mobil akan kami sita." Ucap salah satu dari mereka, seraya menyerahkan sebuah map hijau, yang kuyakin itu adalah suara perintah penyitaan.
Aku tersenyum kecil, tidak kusangka Kevin benar-benar bergerak cepat. Mantap, bulan ini aku harus menaikan gajinya.
"Mas kenapa kamu diam, cepat bicara sesuatu!" Desis Maya menyenggol bahuku.
"Ah, iya. Maaf pak, tidak bisakah kalian memberikan kami sedikit waktu untuk mengemasi barang-barang kami. Kami janji akan segera pergi!" Ucapku.
"Mas ...!"
"Haris ....!"
"Kita harus pergi Mah, ini sudah ketentuan dari pihak perusahaan. Sekarang Haris bukan siapa-siapa lagi Mah," Ucapku berekspresi seduh.
"Jadi sekarang kita benar-benar jatuh miskin!" Gumam ibu tubuhnya nyaris saja terjatuh beruntung aku dan Maya dengan sigap menahannya.
"Mama,"
"Dek, kamu tenangkan Mama dulu, biar mas yang akan membereskan semua barang-barang," kataku.
"Tapi mas, kalau kita pergi nanti kita akan tinggal dimana mas?" Tanya Maya raut wajahnya terlihat sangat kesal bercampur raduk.
"Aku enggak mau jadi gelandangan Mas," sambung Maya.
"Insya Allah enggak akan dek, mas janji besok mas akan cari kerja." Sahutku menyakinkan. Dengan ragu Maya hanya bisa mengangguk pasrah.
"Kakak, Abang, Mama. Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?" suara Sindi bertanya. Dia terlihat begitu terkesiap saat masuk kedalam pakarangan rumah terlihat banyak orang.
"Sindi kebetulan kami di sini, cepat dek bereskan semua barang-barangmu. Kita akan segera pindah!" ucapku memerintah.
"Pindah, maksudnya kita bakal pergi dari rumah ini untuk selamanya gitu?" Tanya Sindi lagi keningnya nampak berkerut.
"Iya, dek. Jadi cepat bereskan semua barang-barangmu!" Timpalku lagi.
"Tapi kemana bang, kemana kita akan pergi?"
"Kamu tenang saja, Abang gak akan membiarkan kalian tinggal ditempat kumuh atau lainya, Abang akan carikan kontrakan yang layak untuk kita." Lanjutku Sindi nampak belum paham namun tetap ia mengangguk.
***
Dua jam berlalu, setelah menghabiskan waktu dalam perjalanan selepas keluar dari rumah yang masih menjadi milikku, kini aku dan keluarga istriku sudah berada di rumah kontrakan yang telah aku pilih untuk tempat tinggal kami sementara waktu.
Rumah yang memiliki tiga kamar tidur serta satu kamar mandi dan juga ruang tamu, juga dapur kecil. Semoga dengan aku melakukan ini keluarga istriku sadar dan akan menjadi orang yang lebih baik lagi.
Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan berapa banyak mereka menghabiskan uangku, cuma aku hanya saja tidak suka dibohongi. Berkata manis hanya karena menginginkan kehendak mereka. Kenapa tidak minta secara terbuka.
"Mas, aku lapar, beliin makanan napa! Mama juga dari tadi tidak bicara apapun mas. Aku khawatir!" Suara Maya, aku melirik. Benar ibu memang sejak dari tadi hanya diam saja tidak berbicara apapun lagi. Mungkin dia masih belum bisa menerimanya.
"Iya tunggu sebentar mas beliin makanan dulu di warung!" Sahutku.
***
Satu Minggu kemudian, tujuh hari sudah aku, istriku dan keluarga istriku tinggal disini. Kontrakan yang memang tidak mewah namun terbilang bagus daripada yang lainya.
Selama satu Minggu ini juga aku berpura-pura bekerja disalah salah kantor tak jauh dari rumah kontrakanku, yang sebenarnya kantor itu adalah cabang dari perusahaanku, bukan menjadi atasan melainkan hanya sebagai karyawan biasa.
Selama dirumah juga aku secara diam-diam memeriksa berkas-berkas kantor, melalui jaringan ponselku. Setiap saat Kevin selalu mengirimkan email pemberitahuan kepadaku, pria itu aku mempercayainya seratus persen.
"Dek, ini uang belanja hari ini," Ucapku sesaat setelah aku memakan sarapan pagi seadanya yang di buatkan oleh ibu mertuaku. Aku menyerahkan uang lima puluh ribu kepada Maya, guna untuk dia membelanjakan bahan makanan untuk besok.
"Hah, segini gak salah ni mas!" Kata Maya ketus ia menyunggingkan senyum kencur seraya membolak-balik uang lima ribu itu secara berulang kali.
"Inimah beli ikan juga habis Mas!" Sambungnya.
"Ya jangan dihabiskan dong dek, jangan beli ikan banyak-banyak beli aja sekilo yang 25 ribu kan cukup, kan ada sisa 25 ribu lagi buat beli sayur. Kalau beras dan minyak serta gula lainya udah Abang kasi uang lebih kemaren untuk kamu belanjakan!" Sahutku.
"Apa uang lebih, cuma empat ratu ribu mas kasi kemaren itu mas bilang uang lebih. Hello, mas ini itu bukan zaman Siti Nurbaya apa-apa murah, sana sini murah. Mahal mas, naik ongkos ojek ke pajak aja sudah mahal sekarang." Maya mendengus kesal.
"Ya udah Abang tambahin lima puluh ribu lagi, cukup kan!"
"Mas ....!"
"Keperluan aku itu banyak, kenapa sih kamu tidak ngertiin aku kali ini. Aku itu ingin tampil cantik seperti dulu mas, tidak mau seperti ini terus lama-lama kulitku bisa menua!" Maya lagi-lagi mendengus ia bahkan meremas kasar uang pemberian ku itu.
"Ya udah kalau begitu, nanti pas gajian mas kasi kamu uang lebih banyak lagi untuk kamu melakukan apapun yang kamu mau ya sayang, tapi untuk saat ini kamu hemat dulu ya. Kita sekarang lagi krisis!" Ucapku yang berusaha membuat Maya sadar akan kondisi saat ini. Namun sepertinya dia enggan dikasi saran.
"Gak mau, aku mintak uang sekarang juga, aku mau ke salon!" Kekeh Maya.
"Maya," aku menari nafasku kasar, teryata sikap Maya benar-benar sungguh jauh berbeda bagaikan langit dan bumi ketika aku dulu memanjakannya.
"Mas kan kamu bisa minta uang dulu sama bos kantor, bilang aja ada keperluan kek, apa kek. Mama sekarat butuh obat atau biaya rumah saki--"
"Maya!" aku menyela dengan perkataan keras, tatapanku langsung saja mematikan menatap kearahnya. Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya, hanya karena ingin pergi ke salon dia mau beralasan Ibunya sakit. Apa dia lupa kalau perkata itu adalah doa bagaimana kalau itu benar-benar terjadi, Ya Tuhan Maya dengan cara apalagi aku menyadarkan kamu untuk bersyukur.
Aku semakin mengeraskan wajahku, Maya yang tadi awalnya ganas kini terlihat takut dengan tatapan yang aku layangkan.
"Jangan pernah sekali-kali kamu berpikir ingin menggunakan nama Ibumu sebagai alasan kesenangan semata. Aku sangat tidak menyukainya!" Seruku, yang tak berlangsung lama suara keributan terdengar lantang diluar sana.
"Ratna keluar kamu, jangan bersembunyi terus menerus. Aku tau kamu ada didalam, cepat bayar uang arisanmu. Atau kalau tidak aku akan melaporkan kamu kepada polisi, atas kasus penipuan!" suara ibu-ibu yang terdengar mengaung di telingaku. Aku mengerutkan keningku, kini tetapanku langsung terlihat kearah lain.
Ibu mertuaku terlihat perlahan-lahan berjalan mendekati pintu utama, mengintipnya secara diam-diam.
Bersambung .....