Isi Pesan Grup Wa Keluarga istriku (2)
Senyuman indah kembali tersungging sempurna disudut bibirku. Sebuah panggilan telepon melalui wa dari Maya tertera jelas di layar ponselku. Tanpa menunggu aku langsung menekan tombol hijau pertanda mengangkat panggilan.
"Mas, kok kartu kreditnya tidak bisa dipakai?"
Suara Maya diseberang sana langsung menyela cepat, nampaknya dia sangat terkejut apa yang telah terjadi.
"Masak sih sayang, astaga aku lupa mengabarimu. Kalau baru-baru ini perusahaan yang aku kelola mengalami penurunan sayang. Jadi dengan terpaksa aku harus menghentikan dan uang yang di kartu debit aku alihkan untuk membantu pelancaran dan investasi perusahaan Yang. Agar perusahaan kembali normal!"
Balasku diikuti kekehan kecil sebisa mungkin aku menahan diri. Aku tidak akan membiarkan kamu memberikan yang susah payah aku cari untuk kesenangan keluargamu Maya. Mereka seharusnya mencari sendiri kalau untuk berfoya-foya.
(Apa? Mas, tapi itu uang jatahku kenapa di ambil. Seharusnya uang yang di kartu debitku jangan di ambil. Nanti aku belanja gimana?!" Maya terdengar marah nada suaranya pun berubah.
"Tidak semuanya sayang, aku menyisakan lima juta dikartu debit belanja bulanan. Untuk sementara kamu pakek uang itu aja ya, jangan boros takutnya nanti kita gak bisa makan lagi. Pakai seperlunya saja ya," ucapku
"Mas, tidak bisa gitu dong. Aku---" protes Maya namun sebelum itu aku terlebih dahulu menyela.
"Sayang maaf, aku matikan dulu ya. Soalnya ada rapat penting nanti saja kita bicara lagi saat tiba di rumah," ucapku kemudian sambungan telepon langsung aku matikan.
Aku meletakkan ponselku diatas meja. Jadi seperti ini sikap Maya sesungguhnya saat aku menghentikan uang belanja.
"Cihhhh," memang ini pertama kalinya selama hampir setahun aku menikah dengannya baru kali ini aku menghentikan kartu kredit belanjanya, dan baru pertama kali ini juga dia berbicara dengan nada setinggi tinggi kepadaku. Walaupun melalui jaringan telepon, tapi bisa aku rasakan kalau dia sangat kesal kepadaku.
***
Maya POV
"Maya ini gimana? Haris bilang apa tadi? Kamu udah tanya belum kenapa kartu kreditnya tidak bisa digunakan?" tanya mama bergurutu kesal kepadaku. Padahal disini aku yang lebih kesal. Bagaimana bisa mas Haris menghentikan uang yang ada di kartu belanjaku. Sial, sekarang aku mau bayar belanjaan pakek apa. Mana Ibu beli tas branded lagi.
Nasib-nasib
Pokoknya awas aja pulang nanti aku harus bicara sama mas Haris, agar dia kembali mengembalikan uang yang ada di kartu debitku.
"Mah, kita pulang aja yok," ajakku sembari mengisyaratkan kontak mata berharap Mama mengerti apa yang aku maksud.
"Pulang? pulang bagaimana. Ini belanjaan belum dibayar Maya. Mama tanya kamu udah tanya belum kepada suami kamu menghentikan kartu kreditnya, tidak bisa di gunakan lagi," Kata Mama.
"Maaf mbak, Bu. Bagaimana? Apa ada kartu lain untuk membayar tagihan belanja soalnya harus cepat pelanggan yang lain pada menunggu. Kasian membuat mereka menunggu lama," Kata mbak kasir protes karena aku tak kunjung membayar tagihan belanja.
"Tunggu sebentar," aku membuka cepat dompetku mengambil sesuatu disana berharap kalau itu bisa menyelesaikan masalah ini.
"Mbak tolong gunakan kartu ini," sambungku menyerahkan kartu kredit keduaku. Mas Haris memberikan aku dua kartu kredit sudah sejak lama namun hanya kartu pertama tadi yang paling sering aku pakai. Mengingat batas limid didalamnya sangatlah banyak, sedangkan dikartu kedua ini hanya beberapa puluh juta saja.
"Maaf mbak tetap tidak bisa digunakan," ucap pelayan kasir sembari menyerahkan kartu kredit keduaku.
"Apa!"
Mas Haris apa yang telah kamu lakukan. Aku menelan salivaku kasar, bagaimana ini, aku memijit pelipisku merasa panik.
"Maya"
"Hm, mbak, maaf. Sepertinya kartu kredit saya ketinggalan dirumah. Ini saya lupa, malah membawa kartu kredit yang diblokir. Boleh tidak barangnya saya kembalikan dulu, nanti saya janji akan balik lagi dan membelinya lagi!" ucapku pelan selembut mungkin. Aku memasang mimik penuh harap.
"Apa, Maya" Mama protes.
"Mah, diam dulu! Nanti Maya jelaskan,"
"Maaf mbak tidak bisa, barang yang sudah dipakai tidak bisa kembalikan lagi, karena ini brand ternama. Mbak harus tetap membayarnya sekarang juga! Kecuali tadi barangnya tidak digunakan gunakan bebas seperti ini," Kata mbak kasir melirik kearah Mama.
Aku kembali menelan salivaku kasar. Bagaimana ini, mas Haris kamu benar-benar keterlaluan.
"Ada apa ini," Seorang pria berseragam putih tiba-tiba menghampiri membuat pandangan kami semuanya tertuju padanya.
"Ini pak, ibu dan mbak ini tidak sanggup membayar tagihan belanja yang mereka ambil, mereka malah minta dikembalikan," Sahut mbak kasir seketika aku membulatkan kedua bola mataku mendengarnya begitu juga dengan Mama.
"Hey, beraninya kamu berkata seperti itu kepadaku dan anakku. Apa kamu tidak tau siapa kami hah, asal kamu tau ya menantuku bahkan bisa membeli semua barang yang ada di tokomu ini. Berani sekali kamu merendahkan kami!" Seru Mama dengan nada sangat tinggi, spontan membuat seluruh pasangan mata menatap kearah kami berdua.
"Mah,"
"Mah kita tidak punya pilihan lain sekarang, mas Haris sudah membokir limited yang ada dikartu kreditku. Kita tidak bisa membayar semua belanjaan ini, bahkan mas Haris mengalihkan sebagian besar uang yang ada di ATMku!" kataku dengan nada berbisik berbicara kepada Mama.
"Apa? Haris memblokir limid yang ada di kartu kreditmu dan, mengalihkan uang yang ada kartu ATMmu. Kok bisa?" Mama seketika terkesiap mendengar. Aku menggelengkan kepalaku cepat.
"Kata mas Haris bisnis yang mas Haris kelola mengalami penurunan Mah!"
"Apa!?" Kali ini suara Mama membentak.
"Hey, minggir. Kami juga mau bayar, kalau kalian tidak punya uang lebih baik pergi dari sini. Penampilan saja kelihatan mewah tapi uang tidak ada, pakek sok-soan beli barang mahal. Seharusnya belanja itu sesuai isi dompet!" Seru salah satu seorang pengunjung yang berada di belakang kami mengantri, dia sepertinya kesal karena kami terlalu lama di kasir tidak selesai-selesai juga.
"Kau---!" Mama semakin geram bahkan terlihta raut wajahnya sangat kesal.
"Mah, cukup ini bukan saatnya adu mulut. Kita harus memikirkan cara untuk membayar semua barang belanjaan ini kalau tidak kita tidak akan bisa keluar dari mall ini," ucapku memegang pergelangan tangan Mama.
"Mari Mbak ikutin saya, kita akan membahas ini disana. Agar tidak menganggu pengunjung yang lain." Pria berseragam itu mempersilahkan, nada bicaranya masih bersahabat dengan kami. Aku menarik Mama, untuk mengikutiku melangkah kemana pria berseragam itu membawa kami.
"Jadi bagaimana Mbak, Bu. Apa pembayaran bisa langsung diproses?" tanya pria berseragam itu sesaat setelah ia menghentikan langkahnya dipojok ruangan.
Aku memijit keningku pelan bagaimana ini, bagaimana caranya aku membayar mana belanjaanya banyak banget lagi.
Bersambung ....