“Dara, pindah ke kursi kamu, saya harus menyetir,” kata Arik kepada gadis yang ia sangka terlelap di dadanya. Tapi ternyata Dara tidak tidur, ia hanya menaruh kepalanya di sana. Di tempat yang ia anggap hangat, lalu terdengar isakan. “Kamu nangis?” Arik merasa de javu. Ia pernah menemukan Dara tertidur di depan rumah lalu ketika ia suruh pindah ke kamar, gadis itu pun menangis. “Kenapa kamu selalu menangis?” Nada suara Arik terdengar mengeluh. Ditambah ia yakin kali ini kemejanya akan basah jika Dara tetap dalam posisinya. “Nangisnya di kamar kamu aja, saya nggak mau tahu.” Tetapi Dara tetap terisak. “Astaga,” keluh Arik. Dengan perlahan Arik mendorong ke depan kedua bahu Dara. Gadis itu benar-benar menangis. Semula matanya tertutup, kemudian terbuka dan Arik merasa menjadi tersangka

